Liputan6.com, Rembang - Komisi IV DPRD Kabupaten Rembang menggelar inspeksi mendadak (sidak) lanjutan ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sumberjo yang sedang direvitalisasi. Hasilnya, para legislator menemukan pengerjaan konstruksi yang asal-asalan, mulai dari penggunaan kayu keropos hingga adonan semen yang rapuh.
Ketua Komisi IV DPRD Rembang, Muhammad Rofi'i, mengatakan salah satu temuan mencolok berada di SDN 1 Sumberjo. Di lokasi tersebut, pekerja kedapatan memaksakan pemasangan material kayu lama yang kondisinya sudah tidak layak.
Advertisement
"Alhamdulillah kami sidak di sini bersama anggota. Temuannya sebetulnya masih sifatnya wajar, terutama untuk pemasangan kayu yang lama masih terpasang. Namun langsung kami tegur tegas dan minta diperbarui saat itu juga," kata Rofi'i kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).
Rofi'i menegaskan pihak dewan tidak akan menoleransi pengerjaan fisik yang tidak sesuai standar. Ia langsung meminta pekerja membongkar material usang tersebut di tempat.
"Kami memang beritikad bahwa kalau ada temuan yang sifatnya langsung kita bongkar, suruh bongkar, Pak. Karena kalau tidak dibongkar saya nggak mau beranjak dari sini, harus dibongkar. Itu yang pertama," ujarnya.
Semen Dipegang Hancur
Tak hanya masalah kayu, Komisi IV juga menyoroti kualitas adonan semen dan pasir (luluh) untuk pemasangan dinding bata. Rofi'i menyayangkan adonan tersebut sangat rapuh, bahkan langsung hancur saat diremas dengan tangan.
Pihak pelaksana proyek berdalih komposisi campuran tersebut sudah sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Namun, Rofi'i menilai dalih itu tidak bisa jadi alasan untuk menghasilkan bangunan berkualitas buruk.
"Pemasangan batanya itu kurang maksimal, Pak. Terus terang aja. Masih kita pegang itu masih hancur, padahal kalau sesuai dengan takeran, itu sebetulnya kami pegang aja nggak mungkin hancur," sesal Rofi'i.
Atas temuan itu, Rofi'i langsung meminta kepala sekolah dan pelaksana proyek meningkatkan mutu adonan untuk pengerjaan berikutnya. Ia menyarankan penggunaan material pasir berkualitas tinggi demi kekokohan struktur sekolah.
"Paling nggak harus ada campuran dari pasir dari Muntilan maupun dari Lumajang, karena Pak Bupati menginginkan sebelumnya tidak ada pasir Cepu, sebelumnya tidak ada. Harusnya ada Muntilan sama Lumajang. Tapi ini RABnya karena dia berpatokan pada RAB jadi kita memaklumi," imbuhnya.
Perketat Pengawasan
DPRD Rembang memastikan akan terus memperketat pengawasan karena durasi pengerjaan proyek rehabilitasi ini terhitung mepet. Hingga saat ini, tercatat sudah ada empat sekolah yang disidak secara maraton.
"Fokus kami saat ini mengejar fisik dulu karena waktu kita juga agak mepet, Pak. Maka setiap hari kita melaksanakan sidak. Ini sudah ada empat sekolahan yang kita sidak dan juga banyak temuan. Alhamdulillah sudah siap untuk memperbaiki," tuturnya.
Setelah merampungkan pengawasan fisik di lapangan, Komisi IV DPRD Rembang berencana memanggil pihak pemborong. Dewan juga akan mendalami rekam jejak konsultan perencana guna mengantisipasi adanya indikasi monopoli proyek yang dapat memengaruhi kualitas akhir bangunan sekolah.