Rupiah Hari Ini Melemah Lagi, Tertekan Imbal Hasil Treasury AS

Rupiah melemah ke 17.763 per dolar AS. Kenaikan imbal hasil Treasury dan PMI manufaktur jadi sentimen negatif.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 September 2026, 17:15 WIB
Kurs rupiah hari ini ditutup melemah ke 17.763 per dolar AS di tengah tekanan dolar AS dan sentimen global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Rabu. Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen menjadi 17.763 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.744 per dolar AS.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu turut melemah. JISDOR tercatat di level 17.770 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya 17.727 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan tekanan terhadap rupiah datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat,” ujarnya dikutip dari Antara.

Selain faktor tersebut, kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik turut menjadi perhatian. Kondisi itu berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari aktivitas manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus kembali berada di zona kontraksi, yakni 49,8.

Sementara itu, inflasi Agustus mencapai 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,88 persen pada Juli. Meski meningkat, angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI).

Neraca Dagang Jadi Penopang Rupiah

Kurs rupiah hari ini ditutup melemah ke 17.763 per dolar AS di tengah tekanan dolar AS dan sentimen global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah berbagai tekanan tersebut, rupiah masih mendapat dukungan dari kinerja perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan pada Juli 2026 kembali mencatat surplus sekitar USD 120 juta, setelah mengalami defisit USD 450 juta pada bulan sebelumnya.

“Surplus perdagangan memberikan dukungan terhadap rupiah melalui pasokan devisa, meskipun nilainya relatif tipis karena pertumbuhan impor sebesar 27,02 persen secara tahunan jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 6,05 persen,” ungkap Amru.

Kenaikan inflasi domestik juga menjadi perhatian karena dapat menjadi pertimbangan Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Dengan demikian, pergerakan rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal, seperti penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, serta faktor domestik berupa aktivitas manufaktur dan inflasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya