Liputan6.com, Jakarta - PT Ekspresi Inovasi Terpadu atau IDETIMUR buka suara terkait polemik pengelolaan aset digital dan keterlambatan pembayaran royalti yang dialami sejumlah musisi. Klarifikasi tersebut disampaikan untuk meluruskan berbagai informasi yang berkembang di media sosial.
Melalui kuasa hukumnya, IDETIMUR menjelaskan kronologi persoalan sekaligus langkah yang telah ditempuh perusahaan. Mardin Sipayung, kuasa hukum IDETIMUR mengungkapkan bahwa Persoalan bermula ketika sistem Content ID milik PT Indonesia Digital Entertainment (IDE), selaku aggregator lama, mengalami gangguan teknis.
Advertisement
"Kami mengakui adanya kendala dalam pelaporan dan pembayaran royalti selama dua periode terakhir kepada para mitra musisi. Sistem tersebut kemudian mendapat penangguhan dari pihak YouTube yang berdampak langsung pada pengelolaan kanal serta pelaporan royalti musisi," ujar Mardin.
Mardin menyebut pihaknya kesulitan melakukan pengelolaan karena tidak memiliki akses langsung ke sistem internal yang sebelumnya dikelola IDE. Kemudian, IDETIMUR mengambil langkah strategis dengan memindahkan pengelolaan aset ke aggregator baru, Trinity Optima Production.
"Kami tidak memiliki akses langsung ke sistem IDE sehingga kami meminta agar aset dan rollup channel milik para mitra segera mereka lepaskan. Permintaan tersebut tidak mendapat respons, sehingga kami memutuskan memindahkan pengelolaan aset ke aggregator baru, Trinity Optima Production. Langkah darurat ini kami tempuh untuk menjaga aset dan perusahaan memastikan persoalan dismonetisasi kanal YouTube mitra saat ini telah selesai," jelasnya.
Akan Gelar Audit
Terkait keterlambatan pembayaran hak ekonomi, IDETIMUR menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan validitas data pelaporan dari agregator lama. Manajemen kemudian melakukan audit dan pemeriksaan lebih mendalam setelah menemukan ketidaksesuaian data yang dinilai tidak memenuhi standar operasional perusahaan.
"Persoalan tersebut berkaitan dengan data pelaporan dari IDE yang kami nilai tidak sesuai dengan standar operasional perusahaan. Kami harus melakukan pemeriksaan dan verifikasi ulang sebelum memproses pembayaran untuk memastikan tidak ada hak musisi yang terlewat," tuturnya.
Kirim Somasi
Persoalan semakin kompleks setelah muncul dugaan pengalihan aset sejumlah karya musisi ke distributor lain secara sepihak. IDETIMUR menyebut adanya aktivitas pengalihan karya ke Alfa Records yang diduga dilakukan tanpa koordinasi maupun izin resmi.
"Kami telah mengirimkan somasi kepada Alfa Records dan meminta pertanggungjawaban dari pihak IDE atas pengalihan aset tersebut," kata sang pengacara.
Prioritas IDETIMUR kini
Mardin juga mengatakan bahwa pihaknya kini memprioritaskan upaya penyelamatan seluruh aset digital yang masih tertahan di sistem pihak sebelumnya. IDETIMUR juga mengedepankan komunikasi persuasif dengan mendatangi langsung pihak-pihak terkait, termasuk manajemen YouTube, untuk mempercepat penyelesaian sengketa aset yang masih berlangsung.
"Prioritas utama kami saat ini adalah memperjuangkan pelepasan seluruh aset mitra yang masih ditahan oleh pihak IDE, serta memastikan seluruh hak dan karya musisi Indonesia Timur dikelola secara transparan di bawah kerja sama yang sah. Kami bertindak atas dasar hukum dan etika industri demi melindungi aset para musisi. Kami telah berkomunikasi melalui surat dan email, hingga mendatangi langsung kantor IDE untuk menyelesaikan persoalan ini secara profesional," pungkas Mardin.