Liputan6.com, Jakarta - Strategy membeli bitcoin (BTC) pekan lalu sebanyak 4.603 bitcoin senilai US$ 370 juta atau Rp 6,55 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.730).Pembelian bitcoin itu termasuk terbesar sejak Mei dan dilakukan setelah Strategy membiarkan cadangan kripto tidak berubah selama beberapa minggu.
Mengutip Yahoo Finance, Selasa (1/9/2026), lonjakan harga bitcoin baru-baru ini yang diperdagangkan di kisaran US$ 80.000 atau Rp 1,41 miliar selama beberapa pekan terakhir.Hal itu memicu sentimen bullish, meskipun Strategy harus membayar harga yang cukup tinggi untuk langkah tersebut.
Advertisement
Strategy merogoh pembelian bitcoin dengan rata-rata harga US$ 80.318 atau Rp 1,4 miliar per koin. Sebelumnya, Strategy menjual aset pada harga rata-rata antara US$ 59.000-US$ 64.000 atau Rp 1,04 miliar-Rp 1,13 miliar pada 30 Juni-10 Agustus 2026. Sejak Strategy mengumumkan niat untuk menjual bitcoin pada akhir Juni, perusahaan telah melepas 6.916 koin sekitar US$ 430 juta atau Rp 7,62 triliun.
Meski demikian, Strategy bisa saja meraup keuntungan besar jika prediksi terbaru mengenai bitcoin terbukti akurat. Pekan lalu, analis Bernstein termasuk Gautam Chhugani memperkirakan bitcoin akan mencapai puncak berikutnya yaitu US$ 300.000 atau Rp 5,31 triliun, atau lebih dari dua kali lipat rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai Oktober lalu pada 2029. Mereka juga memprediksi pemulihan pasar akan mendorong bitcoin ke rekor tertinggi baru sebesar US$ 150.000 atau Rp 2,6 miliar pada pertengahan tahun depan.
"Dalam 10 hari terakhir, bitcoin naik 28%, yang berpotensi menandakan berakhirnya siklus bearish ini," ujar analis Bernstein tersebut.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Strategy Kembali Jual Bitcoin dan Saham demi Menambah Kas
Sebelumnya, perusahaan milik Michael Saylor, Strategy Inc kembali menghabiskan satu minggu untuk merevisi struktur modal perusahaan. Hal ini dilakukan dengan merevisi struktur modal perusahaan dengan menjual lebih banyak bitcoin (BTC) dan saham biasa untuk memperkuat cadangan kas.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (11/8/2026), pemegang korporat terbesar aset digital itu pada Senin, 10 Agustus 2026 mengatakan, dalam tujuh hari berakhir apda 9 Agustus 2026, perusahaan telah melepas bitcoin US$ 108,6 juta atau Rp 1,93 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800).
Selain itu, perseroan juga melepas 6,6 juta saham biasa senilai US$ 653 juta atau Rp 11,62 triliun. Selain itu, perseroan juga membeli kembali saham preferen Stratetch (STRC) senilai US$ 108,6 juta. Adapun Strategy memiliki kepemilikan bitcoin sekitar US$ 58 miliar atau Rp 1.032 triliun.
Akumulasi Bitcoin
Perusahaan yang namanya mencuat berkat strategi akumulasi Bitcoin selama bertahun-tahun ini telah menjual Bitcoin senilai sekitar US$ 432 juta atau Rp 7,6 triliun sejak Saylor beralih fokus ke manajemen modal pada akhir Mei. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai skema pembiayaannya. Penjualan Bitcoin tersebut telah membantu meningkatkan cadangan Strategy menjadi sekitar US$ 4,6 miliar atau Rp 81,87 triliun.
Sebelumnya, Saylor berupaya meredam kekhawatiran mengenai dilusi saham biasa dengan menjadikan penjualan saham STRC sebagai sumber pendanaan utama perusahaan.
Sejak awal Mei, saham STRC tidak pernah diperdagangkan di atas nilai nominal US$ 100, ambang batas yang diperlukan agar penerbitan sekuritas tersebut menguntungkan. Saat ini, saham preferen tersebut diperdagangkan di kisaran harga US$ 95.
Saylor, salah satu pendiri sekaligus ketua eksekutif perusahaan pembuat perangkat lunak korporat yang beralih menjadi pengumpul kripto, di masa lalu pernah mendesak para investor untuk melakukan segala cara demi membeli Bitcoin.