Liputan6.com, Jakarta - 170 hektare persawahan di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, kekeringan akibat kemarau panjang. Kondisi itu membuat petani dihantui ancaman gagal panen total atau puso.
Ironisnya, kekeringan terjadi ketika harga gabah sedang tinggi Rp 7.500 per kilogram, yang seharusnya menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan pendapatan. Namun minimnya pasokan air justru mengancam hasil produksi padi.
Advertisement
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pringsewu Luky Ardrian mengatakan, kekeringan dipengaruhi fenomena El Nino dan kemarau panjang yang membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian menurun drastis.
Berdasarkan laporan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), sedikitnya 170 hektare tanaman padi saat ini berada dalam kondisi kritis dan berpotensi mengalami gagal panen total.
"Kekurangan air dapat menyebabkan produktivitas tanaman menurun, terutama ketika tanaman memasuki fase generatif yang membutuhkan pasokan air cukup untuk pengisian bulir padi," kata Luky kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).
Ancaman puso tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani. Pasalnya, tanaman yang tidak mendapatkan pasokan air memadai berisiko mengalami penurunan produktivitas hingga gagal menghasilkan gabah.
Mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Pringsewu telah melakukan sejumlah langkah penanganan.
Salah satunya dengan menyediakan dan mendistribusikan air melalui sumur bor serta pompanisasi.
"Dari total lahan yang terdampak, sekitar 60 hektare telah mendapatkan penanganan darurat untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi," sebutnya.
Sementara itu, sebagian petani memilih mengambil langkah lain untuk bertahan menghadapi kemarau. Mereka mulai beralih menanam tanaman hortikultura berumur pendek yang relatif membutuhkan lebih sedikit air.
Langkah tersebut dilakukan agar petani tetap memiliki sumber pendapatan di tengah ancaman kekeringan yang belum berakhir.