Tangis Anak Gaza, Terpaksa Hancurkan Layangan Kesayangan karena Israel

Ancaman Israel memaksa seorang anak di Gaza menghancurkan layang-layang miliknya, sebuah permainan sederhana yang kini jadi korban konflik.

oleh Septian DenyDiterbitkan 02 September 2026, 14:00 WIB
Seorang anak pengungsi Palestina berdiri di dalam rumah yang menjadi sasaran serangan Israel di kamp pengungsi Maghazi, Jalur Gaza Tengah. (Eyad Baba/AFP)

Liputan6.com, Gaza - Seorang anak Palestina di Jalur Gaza menangis sambil menghancurkan layang-layang miliknya satu per satu. Ia melakukannya di depan tenda tempat tinggalnya setelah muncul ancaman Israel untuk meningkatkan serangan dan memaksa warga meninggalkan sejumlah wilayah di Gaza, termasuk terkait layang-layang yang terbang hingga ke wilayah Israel di dekat perbatasan.

Dikutip dari Anadolu, Rabu (2/9/2026), Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan anak tersebut dengan marah merobek layang-layangnya sebelum akhirnya duduk di samping tendanya sambil menangis.

"Untuk menyenangkan Netanyahu, untuk menyenangkan Katz, untuk menyenangkan Trump, mereka ingin merampas sesuatu yang kami cintai," ujar anak tersebut ketika menghancurkan layang-layangnya.

"Demi Tuhan, hati saya hancur," lanjut dia.

Anak itu tinggal di sebuah tenda pengungsian di Gaza. Di tengah kehancuran dan perpindahan penduduk yang meluas akibat perang Israel, anak-anak di wilayah tersebut menjadikan aktivitas sederhana sebagai salah satu cara untuk bermain.

Bagi anak-anak yang hidup di antara tenda-tenda dan reruntuhan, menerbangkan layang-layang menjadi salah satu bentuk permainan yang mudah dilakukan.

Namun, aktivitas tersebut menjadi sorotan setelah sejumlah layang-layang dilaporkan terbang hingga ke wilayah di sekitar Gaza dalam beberapa hari terakhir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengancam akan meningkatkan serangan dan memaksa warga Palestina mengungsi dari sejumlah wilayah Gaza jika layang-layang, balon, dan drone terus mencapai wilayah Israel.

Katz mengatakan Israel akan memperlakukan layang-layang seperti drone, "baik membawa bahan peledak maupun tidak". Ia juga memerintahkan militer untuk merespons jika peluncuran kembali terjadi.

Namun, setelah memeriksa empat layang-layang yang ditemukan di dekat Gaza, militer Israel mengatakan tidak menemukan material mencurigakan. Militer juga menyatakan layang-layang tersebut sama sekali tidak membahayakan masyarakat.

Militer Israel tidak memberikan bukti kepada publik untuk mendukung klaim bahwa Hamas berada di balik layang-layang yang mencapai wilayah Israel.

 

Ancaman yang Sampai ke Anak-anak Gaza

Hamas mengatakan layang-layang tersebut merupakan mainan yang diterbangkan anak-anak. Kelompok itu menuduh Israel menjadikan layang-layang sebagai alasan untuk kembali meningkatkan eskalasi terhadap warga Palestina.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB pada Selasa juga mengkritik ancaman Israel untuk mengevakuasi wilayah Gaza akibat layang-layang tersebut. PBB menyebut ancaman semacam itu tidak dapat diterima mengingat kewajiban Israel berdasarkan hukum internasional untuk melindungi warga sipil.

Sementara itu, peringatan dari Israel mendorong sejumlah kelompok lokal di Gaza meminta keluarga melarang anak-anak menerbangkan layang-layang. Mereka khawatir layang-layang yang terbawa angin menuju wilayah Israel dapat dijadikan alasan untuk melancarkan kembali serangan.

Bagi anak tersebut, ancaman Israel membuat kegiatan bermain yang sederhana berubah menjadi sesuatu yang harus ia tinggalkan.

Setelah merobek layang-layang terakhirnya, ia duduk di samping tendanya dan menangis.

Korban Serangan Terus Bertambah

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan Israel telah menewaskan 1.296 warga Palestina dan melukai 4.296 lainnya.

Sejak Oktober 2023, militer Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 orang dan melukai lebih dari 174.000 lainnya dalam perang di Jalur Gaza.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya