Komisaris Dharma Polimetal Lepas 450.000 Saham DRMA

Komisaris PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) Noel Aelyo Laras Kusuma Negara kini mengenggam 1,68% saham DRMA.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 September 2026, 11:18 WIB
Pekerja memeriksa kualitas komponen otomotif di pabrik PT Dharma Polimetal (Dharma Group), kawasan Delta Silicon, Cikarang. Perusahaan manufaktur komponen otomotif optimistis perpanjangan PPnBM dan tren penjualan kendaraan roda empat (4 wheeler/4W) yang mulai positif. (Liputan6.com/HO/Dharma)

Liputan6.com, Jakarta - Komisaris PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), Noel Aelyo Laras Kusuma Negara melepas saham DRMA pada 24 dan 26 Agustus 2026. Hal ini dilakukan untuk divestasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (1/9/2026), Noel Aelyo Laras Kusuma Negara melepas saham DRMA dalam tiga kali transaksi. Pertama, ia melepas 300.000 saham DRMA dengan harga Rp 1.015 per saham pada 24 Agustus 2026. Kedua, Noel melepas 143.600 saham DRMA dengan harga Rp 1.015 per saham pada 26 Agustus 2026. Ketiga, ia menjual 6.400 saham DRMA dengan harga Rp 1.000 pada 26 Agustus 2026. Dengan demikian, total pelepasan saham DRMA sekitar 450.000 dengan nilai Rp 450,25 juta.

“Tujuan transaksi divestasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi saham DRMA, ia mengenggam 79.050.000 saham DRMA atau 1,68% dari sebelumnya 79.500.000 atau 1,69%.

Mengutip Google Finance, harga saham DRMA ditransaksikan turun 0,49% menjadi Rp 1.020 per saham pada perdagangan saham Selasa, 1 September 2026 pukul 09.27 WIB. Harga saham DRMA berada di level tertinggi Rp 1.025 dan terendah Rp 1.020 per saham. Total kapitalisasi pasar saham tercatat Rp 4,8 triliun.

Emiten DRMA Ekspansi Bisnis Fast Charging Station Kendaraan Listrik

PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mengembangkan infrastruktur fast charging station untuk kendaraan listrik. (Foto: Dharma Polimetal)

Sebelumnya, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mengembangkan infrastruktur fast charging station untuk kendaraan listrik dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi. Hal ini juga sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan impor.

"Langkah ini merupakan wujud dari dukungan kami terhadap kebijakan pemerintah untuk mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaran listrik serta mengurangi ketergantungan impor,” ujar Presiden Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso dikutip dari keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).

Pengembangan fast charging station dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi merupakan bagian dari strategi DRMA untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. Diharapkan, hadirnya fast charging station lokal ini dapat meningkatkan aksesibilitas, efisiensi waktu pengisian daya, serta kenyamanan pengguna kendaraan listrik roda dua.

Terkait pengembangan infrastruktur fast charging station lokal tersebut, pada ajang IIMS (Indonesia International Motor Show) 2026 ini DRMA menghadirkan Battery Energy Storage System yang terintegrasi dengan charging station buatan Perseroan.

Di sisi lain, Perseroan juga terus mengeluarkan inisiatif untuk mendorong percepatan konversi kendaraan roda dua dari mesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik (EV) yang sesuai dengan karakteristik pasar otomotif Indonesia.

Perseroan menyediakan layanan konversi kendaraan roda dua ICE menjadi EV sebagai salah satu segmen dalam ekosistem terintegrasi Dharma Connect, DC Cross.

Perseroan menyatakan, inisiatif-inisiatif tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam menurunkan emisi karbon, mempercepat adopsi kendaraan listrik, serta membangun ekosistem EV yang berkelanjutan di Indonesia.

Berkat konsistensi dalam inovasi dan diversifikasi yang telah dijalankan, DRMA berada dalam posisi yang sangat kuat untuk merealisasikan peluang pertumbuhan pada 2025. Dengan tren positif yang ada, Perseroan tetap optimistis dan yakin target penjualan sebesar Rp 6 triliun untuk periode tersebut akan dicapai sepenuhnya.

"Peluang pertumbuhan ini akan didorong oleh stabilitas di segmen roda dua dan roda empat, serta kontribusi dari lini bisnis kendaraan listrik (EV) dan sektor non- otomotif yang kian ekspansif,” ujar Irianto.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya