Negara Kaya Minyak Dihantam Krisis: Antre BBM 6 Jam dan Listrik Padam

Punya cadangan minyak terbesar di Afrika, negara ini justru diterpa krisis energi parah.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 31 Agustus 2026, 13:00 WIB
Ilustrasi kondisi LIbya. (Photo by Mahmud TURKIA / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pemadaman listrik berjam-jam dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) menyiksa kehidupan warga Libya. Padahal, negara yang telah lama terjebak konflik, korupsi, dan kebuntuan politik ini merupakan pemilik cadangan minyak bumi terbesar di Afrika.

Di tengah puncak cuaca panas, krisis terburuk dalam beberapa tahun terakhir ini kian mencekik warga. Mereka harus berjuang keras sekadar untuk mendinginkan rumah, menjalankan kendaraan, dan mempertahankan roda usaha. Para pakar dan pejabat PBB menilai, akar masalahnya terletak pada korupsi, buruknya tata kelola pemerintahan, serta terabaikannya perawatan pembangkit listrik selama bertahun-tahun.

Secara keseluruhan, Libya memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 48 miliar barel dan sanggup memproduksi 1,5 juta barel per hari. Mereka bahkan menargetkan produksi hingga 2 juta barel per hari. Namun ironisnya, Libya hanya mampu memproduksi sepertiga dari total kebutuhan BBM untuk konsumsi dalam negerinya sendiri.

Data National Oil Corporation menunjukkan, Libya harus mengimpor BBM senilai US$ 7,8 miliar pada tahun lalu. Bagi warga biasa, krisis ini berujung pada membusuknya stok makanan dan terhentinya bisnis di tengah cuaca panas ekstrem.

Saat suhu mendekati 50 derajat Celsius, Slimane Fitouri terpaksa bergantung pada mesin generator (genset) untuk menjaga toko kelontongnya di Tripoli tetap beroperasi.

"Gara-gara listrik padam, dua lemari pendingin saya rusak dan produk olahan susu jadi membusuk," tutur Fitouri kepada AFP dikutip dari Africa News, Senin (31/8/2026).

"Saya tidak tahu sampai kapan sanggup bertahan." Saat jurnalis AFP berada di tokonya, listrik tiba-tiba padam. Para pelanggan pun tergesa-gesa belanja memakai penerangan ponsel, sementara Fitouri sibuk menyalakan genset.

Harga Genset dan BBM Meroket

Dampak kerusakan serangan bom mobil ganda di Kota Benghazi, Libya. (AFP PHOTO/Abdullah DOMA)

Masalah tak berhenti di situ. Mesin generator butuh konsumsi BBM yang besar pun kini harganya makin tak terjangkau. "Biayanya sangat mahal dan malah melipatgandakan kerugian saya," keluh Fitouri.

Tingginya permintaan genset otomatis mendongkrak harga jual mesin tersebut. Abderrahmane Souissi, seorang pegawai Kementerian Kesehatan, terpaksa gigit jari saat melihat harga genset di toko. "Harganya melambung tinggi, ditambah lagi bensinnya susah dicari," ujarnya. "Sangat membingungkan, padahal kita tinggal di negara kaya minyak."

"Istri saya mendesak beli genset karena empat anak kami tidak bisa tidur akibat panas dan lembap. Semua stok makanan beku kami juga sudah busuk," lanjut Souissi.

Kondisi tak kalah parah terlihat di jalanan. Antrean kendaraan mengular hingga berkilometer-kilometer di berbagai SPBU wilayah barat dan tengah Libya. Abdeslam Zarti, yang menunggu giliran mengisi bensin, mengaku harus mengantre sangat lama. "Bisa enam jam lebih, antreannya kadang mencapai empat kilometer," katanya.

Kegagalan Tata Kelola Negara

Secara politik, Libya terpecah selama lebih dari satu dekade sejak perang saudara menggulingkan Muammar Gaddafi pada 2011. Saat ini ada dua kubu yang berebut kekuasaan, yaitu pemerintah di Tripoli yang diakui PBB, dan pemerintahan tandingan di Benghazi pimpinan Khalifa Haftar.

"Kebutuhan energi Libya saat beban puncak tidak mencukupi. Krisis ini rumit karena meski kaya minyak mentah, Libya justru bergantung pada impor BBM," jelas peneliti hubungan internasional, Bechir Jouini.

Jouini menambahkan, masalah ini kian parah akibat maraknya penyelundupan minyak ke luar negeri, terabaikannya perawatan pembangkit listrik, serta penyelewengan anggaran energi. "Dana dan sumber dayanya ada, tetapi tata kelolanya buruk dan korupsinya merajalela," tegasnya.

Utusan Khusus PBB untuk Libya, Hanna Tetteh, juga menegaskan bahwa krisis energi ini adalah cerminan dari rusaknya sistem pemerintahan. "Pemadaman listrik masif di tengah gelombang panas ini membuka bobroknya perpecahan institusi, penyelewengan anggaran publik, minimnya investasi, dan pengambilan keputusan yang berantakan," ujar Tetteh di hadapan Dewan Keamanan PBB.

"Sangat kontradiktif karena ini terjadi di negara pemilik cadangan minyak bumi terbesar di benua Afrika," tambahnya.

Kondisi keamanan yang kacau kian memperkeruh suasana. Awal bulan ini, depot penampungan berkapasitas 4,5 juta liter bensin di Zawiya, sekitar 45 kilometer barat Tripoli dihantam serangan drone. Kota Zawiya sendiri telah lama menjadi medan pertempuran antar-kelompok bersenjata yang memperebutkan wilayah kekuasaan sekaligus jalur penyelundupan BBM, narkoba, dan perdagangan manusia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya