Liputan6.com, Jakarta - Nilai aset kelolaan dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) Solana telah mencapai tonggak sejarah tepat 10 bulan setelah peluncurannya. Nilai aset kelolaan ETF Solana mencapai US$ 1 miliar atau Rp 17,75 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760).
Mengutip the block, Senin, (31/8/2026), Bitwise Solana Staking ETF (BSOL) mencatatkan nilai aset kelolaan atau assets under management (AUM) lebih dari US$ 1 miliar. Manajer aset kripto itu mencatat sebagian besar arus masuk dana terjadi di tengah kondisi pasar yang lesu dan menyebutnya sebagai indikasi mengesankan dari keyakinan investor.
Advertisement
"Kami berterima kasih kepada para investor yang telah memercayakan pengelolaan investasi mereka kepada Bitwise," ujar perusahaan tersebut di platform X.
"Pasar modal mulai merambah ekosistem on-chain, dan Solana baru saja memulai langkahnya,” demikian seperti dikutip dari the block.
Presiden Bitwise Teddy Fusaro menuturkan, harga saham BSOL turun sekitar 40% dari harga saat pertama kali dicatatkan. Sementara harga Solana turun 60% dari rekor tertingginya sepanjang masa. Menurut data The Block, volume perdagangan kumulatif untuk ETF Solana spot telah melampaui US$ 13 miliar atau Rp 230,8 triliun sejak peluncurannya pada September 2025.
"Kategori ini mencatat arus masuk kumulatif sebesar US$ 1,7 miliar tanpa adanya periode arus keluar yang berarti, meskipun sempat melewati masa penurunan pasar yang sangat buruk pada paruh pertama tahun ini. Sungguh mengesankan," tulis analis senior ETF Bloomberg, Eric Balchunas, dalam sebuah unggahan di X.
Pencapaian Solana
Pencapaian BSOL ini terjadi di tengah kondisi yang menantang bagi aset kripto tahun ini, meskipun pasar secara keseluruhan mulai pulih dalam beberapa minggu terakhir. Bitcoin bergerak mendekati level US$ 80.000 atau Rp 1,4 miliar untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, di mana mata uang kripto terbesar di dunia tersebut mencatatkan kenaikan nilai dolar mingguan terbesar yang pernah ada. Sementara itu, harga Solana telah naik hampir 45% selama sebulan terakhir.
Pemulihan terkini juga dibarengi dengan meningkatnya akses institusional terhadap Solana. Pekan ini, manajer aset dengan kelolaan US$ 12 triliun atau Rp 213.072 triliun, Charles Schwab, menyatakan akan mulai meluncurkan layanan perdagangan Solana spot dalam beberapa bulan mendatang.
Perlu dicatat, Goldman Sachs merupakan pemegang ETF Solana spot terbesar yang diketahui publik, dengan nilai kepemilikan hampir US$ 90 juta atau Rp 1,59 triliun. James Seyffart dari Bloomberg Intelligence menyebutkan bahwa para penasihat keuangan merupakan pembeli utama pada kuartal kedua, sementara dana lindung nilai (hedge fund) tercatat sebagai penjual bersih.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.