Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah gempa susulan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 9.870 kali. Data ini per tanggal 30 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB.
Rentang magnitudo terkecil M 1.0 hingga magnitudo terbesar M 6.2. Sebanyak 35 kejadian memiliki magnitudo di atas atau sama dengan 5.0, dan setidaknya terdapat 156 gempa susulan yang guncangannya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Advertisement
"Secara tektonik dan geologi, pusat gempa utama serta mayoritas episenter gempa susulan berkonsentrasi di sepanjang zona Flores Backarc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores)," kata anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono dalam keterangannya kepada wartawan.
Distribusi spasial titik-titik gempa susulan membentang cukup luas dari barat ke timur di wilayah perairan Laut Flores hingga merambat ke area daratan pulau Flores bagian tengah dan barat.
Dominasi warna merah pada simbol episenter mengindikasikan bahwa sebagian besar gempa susulan terjadi pada kedalaman dangkal (<60 km).
Kedalaman yang dangkal inilah yang menyebabkan frekuensi guncangan yang dirasakan masyarakat (felt earthquakes) tergolong cukup tinggi (156 kali), meskipun sebagian besar magnitudonya berada di kisaran kecil hingga sedang (M≤5.0).
Secara keseluruhan, kuantitas gempa susulan yang mencapai mendekati 10.000 kejadian mencerminkan proses pelepasan energi tegangan sisa (residual stress) yang sangat aktif.
"Sangat banyaknya jumlah aktivitas gempa susulan ini seolah tak lazim, sehingga menarik untuk dikaji," terangnya.
Secara tektonik, gempa utama Flores berkekuatan Magnitudo 7,7 dipastikan berasosiasi dengan aktivitas sesar naik yang dipicu Flores Backarc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores–Sesar Naik Flores).
Mekanisme sumber gempa utama ini mengonfirmasi adanya pergerakan sesar naik yang menunjukkan bahwa rangkaian gempa ini dipicu oleh pelepasan tegangan tektonik akibat pergeseran naik di sepanjang jalur Sesar Naik Flores.
"Akan tetapi, menariknya, pada segmen kluster Flores barat, ditemukan ada empat sumber gempa signifikan dengan magnitudo di atas M 5,0 dengan mekanisme turun (normal fault) bukan naik (thrust fault). Artinya ada sumber gempa lain, selain sesar naik Flores yang aktif dan memicu gempa 'sekunder' dalam peristiwa gempa Flores saat ini," beber Daryono.
Sehingga wajar jika segmen Flores bagian barat memiliki kluster seismisitas gempa susulan menjadi sangat banyak. Ini yang menyebabkan total aktivitas gempa susulan di Flores menjadi sangat banyak yang seolah tak lazim, karena aktifnya sumber gempa lain, sehingga event gempa lain ikut meramaikan aktivitas gempa Flores.
Fenomena aktifnya sumber gempa lain pascagempa utama, dan memicu banyak gempa susulan di kluster di luar jalur sesar utama disebut sebagai off fault seismicity.
Fenomena ini umumnya dipicu oleh transfer tegangan statis. Ketika patahan utama pecah, beban tegangan tidak hilang begitu saja, melainkan berpindah dan membebani patahan-patahan kecil di sekitarnya yang tadinya terkunci.
"Tingginya jumlah aktivitas gempa susulan Flores M 7.7 yang luar biasa banyak, sudah terjawab karena adanya fenomena off fault seismicity," tutur dia lagi.
Fenomena off-fault seismicity (gempa susulan yang terjadi di luar bidang patahan utama) yang dapat memicu jumlah gempa susulan menjadi sangat banyak, pernah terjadi saat gempa Ambon M 6,5 pada 26 September 2019. Saat itu gempa utama Ambon memicu aktifnya sesar-sesar aktif lain di sekitar sesar gempa utama, yang menyebabkan terjadinya gempa susulan lebih dari 3.000 kali.
Beberapa contoh gempa luar negeri yang menunjukkan off-fault seismicity dengan aktivitas susulan luar biasa padat adalah gempa Ridgecrest California M 7,1 (2019), gempa Landers California M 7,3 (1992), gempa Kumamoto Jepang M 7,3 (2016) dan gempa Kaikōura Selandia Baru M 7,8 (2016). Gempa-gempa ini membangkitkan aktifnya sesar di sekitar sesar pembangkit gempa utama.