Silaturahmi Sedunia LazisNU Perkuat Gerakan Filantropi Berbasis Riset

Selain agenda penting memilih pemimpin, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) juga diramaikan dengan Silaturahmi Nasional Lazis NU Sedunia.

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 30 Agustus 2026, 17:54 WIB
Silaturahmi Nasional Lazis NU Sedunia di Muktamar NU. (Liputan6.com/ Dok Humas Muktamar)

Liputan6.com, Jombang - Selain agenda penting memilih pemimpin, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jatim, juga diramaikan Silaturahmi Nasional Lazis NU Sedunia sebagai upaya memperkuat pengelolaan filantropi.

Lazisnu sendiri merupakan lembaga nirlaba resmi milik NU yang berkhidmat dalam pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).

Silaturahmi Nasional itu digelar di aula Ponpes Darul Ulum, itu diikuti 261 peserta dari berbagai unsur kepengurusan. Peserta tersebut terdiri atas perwakilan 13 Lazisnu PWNU (provinsi) dengan 30 peserta, 111 Lazisnu PCNU (kabupaten/kota) dengan 202 peserta, serta satu Lazisnu PCINU (luar negeri) dengan dua peserta.

Selain itu, terdapat 27 orang peserta tambahan.Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu PBNU Riri Khariroh mengatakan, Silatnas melibatkan para amil NU Care-Lazisnu dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Sabang hingga Merauke. Selain itu, turut hadir pula Lazisnu tingkat PCINU dari luar negeri, seperti Yordania dan Turki.

"Ini sebuah kebanggaan bagi kami karena Silatnas bisa diselenggarakan di tempat muassis NU dan bertepatan dengan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Mudah-mudahan mendapatkan keberkahan dari seluruh kiai dan ulama di Muktamar ini," ujar Riri.

Rangkaian Silatnas sendiri diisi dengan sejumlah agenda, antara lain penayangan film pendek bertajuk 'Merawat Kepedulian, Membangun Kemandirian’, nonton bareng video profil NU Care-Lazisnu, peluncuran Modul Kampung Nusantara dan Modul UMKM Berdaya, pemaparan hasil riset Alvara Research Center, dan Focus Group Discussion yang membahas tiga bidang strategis yakni, fundraising, program, dan tata kelola lembaga.

Salah satu agenda utama Silatnas adalah penyampaian hasil survei Alvara Research Center mengenai perilaku masyarakat dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Menurut Riri, data hasil survei tersebut penting sebagai pijakan dalam menyusun program dan strategi pengelolaan ZIS agar lebih tepat sasaran.

"Selama ini kita sering kali bergerak tanpa data. Dari survei ini nanti akan terlihat bagaimana perilaku masyarakat, termasuk program Lazisnu apa yang dikenal masyarakat," jelasnya.

Ia berharap hasil riset tersebut dapat membantu NU Care-Lazisnu mengevaluasi program yang telah berjalan sekaligus menentukan strategi pengembangan kelembagaan dan penghimpunan dana ZIS ke depan.

Filantropi Perlu Basis Data

Salah satu narasumber Silatnas Lazisnu Sedunia, Dewan Pakar Perhimpunan Filantropi Indonesia, Hamid Abidin mengapresiasi langkah NU Care-Lazisnu yang memanfaatkan riset sebagai dasar dalam pengembangan program dan tata kelola lembaga.

Menurutnya, penggunaan hasil riset menjadi terobosan penting bagi lembaga filantropi NU untuk memastikan program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan karakter masyarakat.

"Langkah ini perlu diapresiasi dan saya sangat mendukung ikhtiar Lazisnu, yang telah berani meluangkan waktu dan finansial terhadap hal ini,” ucap Hamid.

Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan relawan dalam membangun kepercayaan donatur agar mempercayakan dana ZIS kepada NU Care-Lazisnu. Menurutnya, berbagai terobosan program juga diperlukan untuk menjaga semangat para relawan dalam menjalankan tugas di lapangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya