Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan jasa keuangan asal Jepang, SBI Holdings, mengambil 20 persen saham platform investasi asal Indonesia, Ajaib. Investasi tersebut memiliki nilai transaksi mencapai US$ 270 juta.
Kesepakatan ini menjadi salah satu investasi lintas negara berskala besar di sektor financial technology (fintech) Asia Tenggara pada tahun ini.
Advertisement
Mengutip CoinMarketCap, Sabtu (29/8/2026), SBI Holdings mengambil posisi minoritas sebesar 20 persen di Ajaib, platform investasi Indonesia yang menawarkan berbagai instrumen aset.
Transaksi tersebut bukan merupakan pengambilalihan penuh. SBI Holdings hanya membeli kepemilikan minoritas sehingga Ajaib tetap menjalankan operasional bisnisnya secara independen.
Nilai transaksi sebesar US$ 270 juta menjadi suntikan modal yang diberikan Ajaib oleh kelompok keuangan Jepang tersebut. Ajaib sendiri dikenal sebagai perusahaan stock-trading berstatus unicorn di Indonesia.
Investasi ini juga mempertemukan investor institusional Jepang dengan perusahaan yang beroperasi di pasar investasi ritel Indonesia.
Dengan kepemilikan 20 persen, SBI Holdings memperoleh eksposur signifikan terhadap pasar investasi Indonesia tanpa harus mengambil alih kendali penuh atas Ajaib.
Struktur investasi tersebut juga membuka peluang bagi kedua perusahaan untuk mengembangkan bisnis lebih jauh di kawasan Asia Tenggara.
Perluas Penggunaan Stablecoin
Investasi SBI Holdings tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan saham di Ajaib. Kesepakatan tersebut juga dikaitkan dengan strategi SBI untuk memperluas penggunaan stablecoin berbasis yen di Asia Tenggara.
Mengutip CoinDesk, SBI Holdings menghubungkan investasinya di Ajaib dengan rencana ekspansi stablecoin berdenominasi yen ke kawasan Asia Tenggara.
Langkah ini menunjukkan bagaimana investasi pada perusahaan fintech mulai terhubung dengan strategi perusahaan keuangan tradisional dalam mengembangkan aset digital.
Bagi SBI Holdings, kepemilikan 20 persen saham Ajaib memberikan posisi strategis di pasar investasi ritel Indonesia. Sementara bagi Ajaib, masuknya investor Jepang berpotensi memperkuat permodalan sekaligus membuka akses terhadap jaringan dan ekosistem keuangan yang lebih luas.
Kesepakatan ini juga mencerminkan masih kuatnya minat investor institusional terhadap sektor fintech Asia Tenggara.
Investasi minoritas dalam jumlah besar menunjukkan bahwa investor asing melihat potensi pertumbuhan platform investasi digital di kawasan tersebut tanpa harus melakukan akuisisi penuh.
Kombinasi antara investasi saham dan pengembangan stablecoin berbasis yen juga memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara layanan keuangan digital, fintech, dan perkembangan teknologi aset digital di Asia.