Korban Tewas Banjir Bandang Nepal-Tibet Tembus 292 Orang

Korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-Tibet mencapai 292 orang, dengan lebih dari 1.300 orang hilang.

oleh Septian DenyDiterbitkan 27 Agustus 2026, 18:15 WIB
Tim penyelamat menggunakan alat berat untuk membawa korban banjir bandang ke tempat aman di sepanjang Sungai Trishuli di distrik Nuwakot, Nepal, Rabu, 26 Agustus 2026. (Foto AP/Niranjan Shrestha)

Liputan6.com, Kathmandu - Operasi pencarian dan penyelamatan terus digenjot di sepanjang perbatasan Nepal-China pada Kamis (27/8). Helikopter dan drone dikerahkan setelah banjir bandang dahsyat menerjang kawasan tersebut dan menyebabkan sedikitnya 292 orang tewas, sementara lebih dari 1.300 orang masih hilang.

Dikutip dari Anadolu, Kamis (27/8/2026), Kepolisian Nepal mengonfirmasi 289 korban meninggal dunia dan 826 orang masih belum ditemukan. Mereka berasal dari berbagai kelompok, mulai dari wisatawan, warga negara asing, pejabat sipil, tentara, polisi hingga penduduk setempat, demikian dilaporkan Kathmandu Post.

Perdana Menteri Nepal Balen Shah juga mengunjungi Bidur, Distrik Nuwakot, pada Kamis untuk meninjau langsung kawasan yang terdampak bencana.

Di sisi Nepal, Dewan Pariwisata Nepal mencatat 644 wisatawan asing dan lokal masih hilang. Mereka antara lain berasal dari India sebanyak 178 orang, Amerika Serikat 65 orang, Ukraina 53 orang, Malaysia 51 orang, Australia 35 orang, Inggris 33 orang, Kanada 25 orang, Singapura sembilan orang, dan Jerman delapan orang.

Sementara itu, otoritas Beijing mengonfirmasi tiga orang tewas dan 558 lainnya masih hilang di Tibet. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan 260 warga negara asing termasuk dalam daftar orang yang hilang.

China juga menyebut 100 warga negaranya masih hilang di sisi perbatasan Nepal akibat banjir bandang.

Gletser Himalaya Diduga Picu Banjir Dahsyat

Banjir diperkirakan dipicu oleh bongkahan es besar yang terlepas dari gletser Himalaya sekitar 20 kilometer sebelah timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi, berdasarkan citra satelit.

Runtuhnya gletser tersebut mengirimkan bertonton es dan bebatuan ke Sungai Bhotekoshi di bawahnya. Material tersebut kemudian memicu terjangan banjir yang menghantam kawasan di sepanjang aliran sungai.

Pemerintah Nepal kini memindahkan warga yang terdampak serta mengerahkan tentara dan operator helikopter swasta untuk membantu pencarian dan penyelamatan.

Ratusan tentara Nepal beserta sejumlah aset militer, termasuk helikopter, dikerahkan untuk mengevakuasi warga ke tempat aman.

Dampak bencana tersebar di sejumlah wilayah. Distrik Chitwan di Provinsi Bagmati mencatat jumlah korban meninggal tertinggi, yakni 64 orang, disusul Dhading dengan 27 korban dan Nawalparasi East sebanyak 22 korban.

Sebanyak 28 polisi Nepal juga masih dinyatakan hilang.

Banjir juga menghancurkan sedikitnya 19 jembatan dan merusak sekitar 40 kilometer jalan raya utama. Kerusakan tersebut memutus jalur transportasi sekaligus semakin menyulitkan upaya penyelamatan.

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan banjir menyebabkan “kerusakan ekstrem” di sejumlah distrik. Namun, ia mengingatkan bahwa informasi yang tersedia masih bersifat awal.

Khanal juga meminta kewaspadaan ditingkatkan di sepanjang tepian Sungai Bhotekoshi dan Trishuli, terutama di Distrik Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan karena risiko masih tinggi.

 

Hampir 300 Warga India Hilang

Tim penyelamat membawa korban banjir bandang ke tempat aman di sepanjang Sungai Trishuli di distrik Nuwakot, Nepal, Rabu, 26 Agustus 2026. (Foto AP/Niranjan Shrestha)

Khanal secara terpisah mengatakan kepada stasiun televisi India NDTV bahwa hampir 300 warga India dilaporkan hilang dan pemerintah masih berupaya menghubungi mereka.

Menurutnya, warga asing, termasuk wisatawan dari India, menggunakan jalur di kawasan terdampak untuk mengikuti Masarovar Yatra, sebuah perjalanan ziarah suci bagi umat Hindu.

Jumlah warga India yang disebut Khanal tersebut lebih tinggi dibandingkan angka yang telah dikonfirmasi Dewan Pariwisata Nepal.

Pemerintah Nepal kemudian menetapkan Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading sebagai “wilayah krisis bencana” selama tiga bulan.

Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal meminta operator helikopter dan drone berkoordinasi dengan pemerintah distrik, aparat keamanan, serta pemerintah daerah dalam operasi penyelamatan.

Warga yang masih terjebak juga diminta menyalakan api dan menghasilkan asap sebagai tanda untuk menunjukkan lokasi mereka.

India, China, dan Bank Dunia turut berkoordinasi untuk memberikan bantuan keuangan bagi operasi penyelamatan, bantuan kemanusiaan, dan pembangunan kembali wilayah yang terdampak.

India juga mengirimkan pesawat kedua yang membawa 37,5 ton bantuan kemanusiaan, material bantuan bencana, obat-obatan, serta paket makanan untuk Nepal.

 

Tibet: 3 Tewas, 558 Masih Hilang

Di Tibet, sedikitnya tiga orang tewas dan 558 lainnya masih hilang setelah bencana longsor lumpur melanda Kabupaten Gyirong.

Bencana tersebut menerjang Pelabuhan Gyirong di wilayah Xizang, yang umum dikenal sebagai Tibet, menurut kantor berita Xinhua.

Kelompok pengarah dari Tentara Pembebasan Rakyat China dikerahkan ke wilayah terdampak untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan bersama personel militer.

Perlintasan Gyirong merupakan jalur utama bagi wisatawan dan lalu lintas antara China dan Nepal.

Perusahaan listrik State Grid Xizang Electric Power Company Limited juga menyiapkan pasokan listrik darurat di Kota Gyirong.

Sementara itu, Kementerian Manajemen Darurat China dan Administrasi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Nasional mengirim lebih dari 100 petugas pemadam kebakaran dan personel penyelamat ke lokasi bencana.

Pesawat carter pertama yang membawa tim penyelamat telah tiba di sebuah bandara di Kota Xigaze pada Kamis pagi untuk membantu operasi penanganan bencana.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya