Cadangan Nikel dan Kobalt Indonesia Rp 15.000 Triliun

DEN menyebut nilai cadangan nikel dan kobalt Indonesia mencapai US$ 800 miliar atau sekitar Rp 15.000 triliun.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Agustus 2026, 18:15 WIB
Ilustrasi bahan baku nikel di salah satu smelter yang berlokasi di Maluku. (Deon/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki cadangan nikel dan kobalt dengan nilai mencapai sekitar US$ 800 miliar atau sekitar Rp 15.000 triliun. Besarnya nilai tersebut menjadi salah satu modal penting Indonesia untuk terus mengembangkan industri pengolahan mineral dan memperkuat hilirisasi.

Tim Ahli Pertambangan dan Mineral Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Nataneil Adhynegara Horansil mengatakan nilai tersebut berasal dari cadangan nikel Indonesia sekitar 52 juta ton dan kobalt sebanyak 1,2 juta ton.

"Ini kalau kita estimasi nilainya dengan nilai pasar LME saat ini, itu valuasinya untuk cadangan, itu untuk nikel sekitar US$ 700 miliar, kalau kobalt sekitar US$ 50-an miliar," katanya dalam dikutip dari Antara, Kamis (27/8/2026).

"Jadi di sini bisa dilihat untuk total nikel dan kobalt itu sekitar US$ 800 miliar," katanya lagi.

Nataneil menegaskan, angka tersebut bukan menggambarkan seluruh potensi mineral yang dimiliki Indonesia. Nilai US$ 800 miliar tersebut merupakan estimasi terhadap cadangan yang sudah dapat dimonetisasi berdasarkan nilai pasar saat ini.

Sementara itu, sumber daya mineral masih berupa potensi yang belum seluruhnya dapat ditambang secara ekonomis. Pemanfaatannya bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kondisi pasar, keekonomian tambang, hingga aspek lingkungan.

“Kalau kita mau berbicara tentang minable, yang sudah bisa di-value, dimonetisasi, itu kita lihatnya nilai cadangannya saja,” katanya.

 

Pengembangan Industri Hilir

Ilustrasi bijih nikel. (Deon/Liputan6.com)

Nataneil mengatakan besarnya cadangan nikel dan kobalt menunjukkan potensi manfaat ekonomi yang dapat diperoleh Indonesia apabila sumber daya tersebut dikelola secara optimal.

“Bayangkan itu seberapa banyaknya ya manfaat yang bisa kita dapatkan dari sumber daya ini. 800 miliar dolar (AS) kalau kita convert ke rupiah mungkin sekitar Rp 15.000 triliun,” ujarnya lagi.

Menurut dia, salah satu upaya untuk meningkatkan manfaat ekonomi tersebut dilakukan melalui kebijakan hilirisasi nikel. Kebijakan ini telah mendorong perubahan struktur industri mineral Indonesia, dari sebelumnya lebih banyak mengekspor bijih mentah menjadi mengembangkan produk olahan di dalam negeri.

Indonesia kini telah mampu menghasilkan produk antara seperti nickel pig iron (NPI). Pengembangan rantai industri tersebut diharapkan dapat terus berlanjut hingga menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Nataneil berharap Indonesia tidak berhenti pada produksi produk antara. Rantai nilai industri nikel diharapkan dapat diperkuat hingga mencakup produksi baterai dan kendaraan listrik.

Pengembangan industri hilir juga dinilai penting untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dari cadangan mineral yang dimiliki Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.

Saat ini, kapasitas smelter nikel nasional telah mencapai sekitar 1,8 juta ton. Sebagian besar fasilitas pengolahan tersebut berada di kawasan industri di Sulawesi.

 

Industri Baru

Dampak hilirisasi juga terlihat dari perkembangan perdagangan produk nikel Indonesia. Nataneil menyebut nilai ekspor produk nikel meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.

Nilai ekspor tersebut tercatat naik sekitar 12 kali lipat sejak 2014, dari sebelumnya sekitar US$ 3 miliar per tahun menjadi US$ 37 miliar pada tahun lalu.

Selain peningkatan ekspor, investasi asing juga mengalir deras ke sektor pengolahan mineral. Nilai foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung di sektor base metal tercatat mencapai lebih dari US$ 71 miliar sepanjang periode 2015-2025.

Perkembangan tersebut menunjukkan hilirisasi telah mendorong terbentuknya kapasitas industri baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang diperoleh dari komoditas mineral Indonesia.

Ke depan, tantangannya adalah memastikan pengembangan industri nikel dan kobalt tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan ekspor, tetapi juga mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya