Banjir Bandang Hantam Nepal-Tibet, 18 Orang Tewas dan Ratusan Hilang

Sejumlah pejabat mengatakan kepada BBC bahwa skala bencana pada Rabu kali ini diperkirakan lebih besar dibandingkan banjir tahun lalu.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 26 Agustus 2026, 19:29 WIB
BMKG sebut tanah longsong dan banjir bandang menjadi bencana lanjutan yang patut diwaspadai oleh warga Cianjur. (unsplash.com/Sadiq Nafee)

Liputan6.com, Kathmandu - Sedikitnya 18 orang tewas dan hampir 400 lainnya belum diketahui keberadaannya setelah banjir bandang disertai longsor menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet

Banjir melanda Rasuwa, wilayah di sebelah utara ibu kota Nepal, Kathmandu, pada Rabu (26/8/2026) pagi. Informasi awal menyebutkan bencana itu dipicu gempa yang menyebabkan longsoran salju. Lelehan salju kemudian mengalir deras ke Sungai Bhote Koshi.

Operasi pencarian masih berlangsung di kedua sisi perbatasan. Angkatan Darat Nepal mengatakan sejauh ini 88 orang telah berhasil diselamatkan.

Media pemerintah China, yang menguasai Tibet, melaporkan banyak korban akibat bencana tersebut. Sementara itu, pejabat Nepal memperkirakan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan sangat besar.

Badan Pariwisata Nepal mengatakan petugas masih berusaha memastikan keberadaan 291 wisatawan dan 93 warga Nepal, termasuk para pemandu, yang diketahui berada di daerah terdampak saat banjir terjadi.

Di antara para wisatawan itu terdapat 12 warga Inggris, serta warga Amerika Serikat, Malaysia, Afrika Selatan, dan India.

Sejumlah wilayah di hilir Sungai Bhote Koshi, yang mengalir dari Tibet menuju Nepal, kini dalam kondisi siaga tinggi. Akses jalan, jaringan komunikasi, dan pasokan listrik di kawasan tersebut terganggu. Pihak berwenang mengatakan jalan utama menuju Kathmandu ditutup.

Sejumlah video dari Nepal yang telah diverifikasi menunjukkan sebuah jembatan tersapu arus dan bangunan bertingkat ambruk diterjang banjir. Rekaman lain memperlihatkan banyak bangunan di sebuah kawasan hancur.

BBC memastikan rekaman tersebut berasal dari kawasan Trishuli Bazaar di Distrik Nuwakot, Provinsi Bagmati, sekitar 25 kilometer di barat laut Kathmandu.

Dalam salah satu video, Sungai Trishuli terlihat tiba-tiba meluap. Volume air meningkat drastis, arus menjadi jauh lebih deras, dan air sungai dipenuhi lumpur serta material sedimen.

Sekitar 40 detik setelah rekaman dimulai, derasnya banjir menghantam jembatan hingga terlepas dari penyangganya dan terseret ke hilir. Beberapa detik kemudian, sejumlah bangunan juga ambruk.

Video kedua yang direkam dari lokasi yang sama memperlihatkan kondisi setelah banjir menerjang. Permukaan sungai naik tajam, sementara pepohonan dan sejumlah bangunan yang sebelumnya masih terlihat telah tersapu.

Belum diketahui secara pasti berapa banyak bangunan yang hancur. Namun, banyak bangunan di dekat bantaran sungai terlihat hilang, runtuh sebagian, atau tertutup endapan lumpur akibat terjangan banjir.

Yee Liang, seorang pengusaha China yang tinggal di Kathmandu, menuturkan kepada BBC bahwa perusahaan logistiknya memiliki tujuh truk kontainer di kawasan tersebut. Seluruh truk itu dioperasikan oleh pekerja asal Nepal.

"Kami kehilangan kontak dengan mereka semua. Tidak ada sinyal, jadi kami tidak bisa menghubungi siapa pun," katanya.

"Sejauh yang saya tahu, tidak ada peringatan. Longsor lumpur dan tanah memang sesekali terjadi, terutama pada musim hujan, tetapi kali ini tampaknya jauh lebih parah."

Juru Bicara Angkatan Darat Nepal Rajarm Basnet mengatakan kepada BBC bahwa tim penyelamat tengah berupaya mengevakuasi 115 orang dari Desa Mailung.

Kementerian Dalam Negeri Nepal memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar di Timure, Syabrubesi, dan Betrawati. Banjir juga merusak proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli.

Besarnya kerusakan di wilayah Tibet belum diketahui secara pasti. Namun, BBC berbicara dengan Guan Daoxuan di Provinsi Sichuan, China, yang mengatakan kehilangan kontak dengan istrinya sejak Rabu menjelang siang.

Istrinya bekerja untuk sebuah perusahaan konstruksi milik negara yang terlibat dalam pembangunan jalan dan jembatan di Tibet. Guan menyebutkan pihak berwenang Nepal sempat berusaha mengirim helikopter untuk memeriksa daerah terdampak karena akses jalan terputus. Namun, angin kencang menyulitkan helikopter mencapai lokasi.

Badan penanggulangan bencana Nepal mengimbau warga yang tinggal di dekat bantaran sungai di daerah rawan untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan.

"Langkah-langkah yang diperlukan mulai dilakukan dengan berkoordinasi bersama tim medis, pramuka, dan Palang Merah," kata Perdana Menteri Balendra Shah melalui media sosial setelah memimpin rapat darurat untuk membahas situasi tersebut.

Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal menyatakan kepada parlemen bahwa 26 polisi, sembilan personel kepolisian bersenjata, dan 44 anggota militer masih hilang.

Menurut Khanal, gempa yang terjadi pada pukul 08.37 waktu setempat memicu longsoran salju. Berdasarkan informasi awal, longsoran itu kemudian menyebabkan banjir bandang.

Rasuwa juga dilanda banjir mematikan tahun lalu yang menewaskan 18 orang setelah gletser jebol di wilayah China, di seberang perbatasan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya