Liputan6.com, Beijing - Seorang wanita berusia 31 tahun di China mengalami gangguan serius pada otak setelah menjalani diet ekstrem dengan hanya mengonsumsi air selama 15 hari. Ia kehilangan berat badan hingga 20 kilogram dan kini mengalami kesulitan berjalan serta gangguan daya ingat.
Dikutip dari South China Morning Post, Jumat (28/8/2026), wanita asal Provinsi Henan tersebut sebelumnya memiliki berat 70 kilogram dengan tinggi badan 160 sentimeter. Ia kemudian menjalani program diet ekstrem dan kehilangan 20 kilogram dalam waktu beberapa minggu.
Advertisement
Wanita yang tidak disebutkan namanya itu dilaporkan mengalami kesulitan berjalan dan penurunan daya ingat setelah menjalani puasa hanya dengan mengonsumsi air.
Ahli saraf dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou, Sun Guifang, mendiagnosis wanita tersebut mengalami ensefalopati Wernicke, gangguan otak serius yang dapat terjadi akibat kekurangan vitamin esensial, terutama vitamin B1.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kebingungan, gangguan keseimbangan dan koordinasi saat berjalan, gangguan pergerakan mata, hingga masalah daya ingat.
Sun mengatakan gaya berjalan pasien menyerupai gerakan penguin. Ia juga memperingatkan bahwa sejumlah gejala yang dialami wanita tersebut kemungkinan tidak dapat pulih sepenuhnya.
Menurut Sun, kondisi tersebut berkaitan dengan pola diet ekstrem yang dijalani pasien. Ia menekankan tubuh tetap membutuhkan asupan makanan secara teratur untuk memperoleh berbagai nutrisi penting.
Wanita tersebut mengatakan kepada Sun bahwa ia menjalani praktik bigu, metode puasa yang berasal dari tradisi Taoisme. Praktik tersebut berakar pada keyakinan bahwa seseorang dapat mencapai transendensi dan keabadian dengan mengandalkan qi, atau energi vital yang dipercaya mengalir di alam semesta.
Istilah bigu secara harfiah berarti “menghindari biji-bijian”. Praktik tersebut diyakini telah muncul sebelum era Dinasti Qin (221 SM-206 SM).
Sebuah Tren Viral di Medsos
Walaupun pendekatan modern dalam penurunan berat badan menganjurkan pola makan yang kaya akan makanan yang hanya diproses sedikit, rendah gula dan lemak, serta tinggi protein, banyak orang masih menganggap bigu sebagai metode yang efektif untuk menurunkan berat badan dan detoksifikasi.
Di salah satu platform media sosial, tagar #bigu telah ditayangkan sebanyak 360 juta kali dan memicu 2,4 juta diskusi. Beberapa orang berbagi pengalaman berhasil menurunkan berat badan lebih dari 10 kilogram setelah hanya mengonsumsi air dan suplemen vitamin selama sebulan.
Postingan lain mendorong orang yang menjalani bigu untuk tidak lupa menyerap qi dengan melakukan meditasi di ruangan dengan ventilasi yang baik. Namun, sering muncul laporan yang menunjukkan bigu telah menyebabkan masalah kesehatan serius bahkan fatal.
Pada 2020, seorang pria berumur 26 tahun asal Provinsi Heilongjiang di timur laut China meninggal dunia usai hanya minum air selama 52 hari. Ia mengalami gejala mirip demensia hanya dua hari sebelum kematiannya.
Tahun lalu, wanita di Provinsi Zhejiang berhasil menurunkan 5 kilogram setelah hanya mengonsumsi air dan “pil energi,” tapi puasanya menyebabkan kerusakan parah pada selaput lendir ususnya. Hal ini berujung pada infeksi bakteri dalam aliran darahnya. Ia juga mengalami hipokalemia yang mengancam nyawanya.
Semakin banyak seruan untuk melarang konten seperti itu. Seorang pengguna berkomentar: “Bigu bukanlah budaya tradisional, tapi gaya hidup yang sangat tidak sehat.” Sementara pengguna lain berkata menurutnya orang-orang yang melakukan bigu itu kejam sebab ia bahkan tak sanggup melewatkan satu kali makan pun dalam sehari.