Liputan6.com, Jakarta - Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang semakin menghangat. Muktamar ke-35 NU akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Berdasarkan informasi yang dirangkum Liputan6.com pada Senin (24/8/2026), sejumlah nama mulai muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Mereka datang dari beragam latar belakang, mulai dari pengasuh pesantren, pengurus struktural NU tingkat wilayah dan pusat, menteri aktif, mantan aktivis organisasi kemahasiswaan, hingga petahana Ketua Umum PBNU.
Advertisement
Nama-nama yang paling banyak disebut antara lain Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, dan Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.
Selain itu, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.
Deretan nama tersebut tidak seluruhnya berada pada posisi yang sama. Sebagian telah menyatakan kesiapan maju secara terbuka dan memperoleh dukungan dari struktur NU, sementara sebagian lainnya masih berada pada tahap disebut dalam bursa atau belum memberikan pernyataan terbuka mengenai pencalonannya.
Peta persaingan juga masih sangat cair. Bahkan, survei yang dirilis Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) pada Maret 2026 menunjukkan konfigurasi dukungan yang belum mengerucut pada satu figur.
Dalam survei dengan 5.900 responden, nama KH Yusuf Chudlori berada di posisi ketiga dengan 17 persen, setelah KH Imam Jazuli 26,1 persen dan KH Marzuqi Mustamar 22,6 persen. Gus Yahya memperoleh 9,8 persen, KH Zulfa Mustofa 4,6 persen, Gus Salam 4,2 persen, Nasaruddin Umar 4 persen, sedangkan Gus Rozin dan Gus Kikin masing-masing 1,3 persen.
Namun, survei tersebut bukan penentu hasil Muktamar. Mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU tetap akan berlangsung melalui forum Muktamar dengan konfigurasi dukungan organisasi yang dapat berubah hingga menjelang proses pemilihan.
Berikut rekam jejak dan modal politik-organisasi sejumlah tokoh yang masuk dalam bursa:
1. KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin
KH Abdul Ghaffar Rozin menjadi salah satu figur yang cukup aktif menyatakan kesiapan maju. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah itu menyampaikan niat berkontestasi dalam pertemuan bersama para Ketua PCNU se-Jawa Tengah di Salatiga pada 15 Juli 2026.
Gus Rozin menyebut keputusannya tidak lahir secara tiba-tiba. Dia mengaku terlebih dahulu melakukan perenungan serta berdiskusi dengan sejumlah sahabat dan pengurus NU dari berbagai daerah sebelum akhirnya memutuskan ikut dalam kontestasi.
"Saya sempat berpikir lama dan akhirnya sekitar dua hari lalu, saya bersama teman-teman dan beberapa Ketua PCNU yang menghubungi saya, maka saya berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini," ujar Gus Rozin.
Modal Gus Rozin tidak hanya berasal dari posisinya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah. Dia tumbuh dari lingkungan pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, dan merupakan putra angkat KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal.
KH MA Sahal Mahfudh merupakan ulama yang pernah menjabat Rais Aam PBNU serta Ketua Umum MUI. Sementara Nyai Nafisah Sahal pernah menjadi Mustasyar PBNU dan memimpin PW Muslimat NU Jawa Tengah.
Dari sisi pendidikan, Gus Rozin menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Perguruan Islam Mathali'ul Falah Kajen. Setelah itu dia belajar di Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Jakarta.
Dia juga menempuh pendidikan magister Manajemen Pendidikan di Monash University, Australia, dan meraih gelar Master of Education pada 2004. Gelar doktor diperolehnya dari UIN Walisongo Semarang pada 2023.
Jejak organisasinya cukup panjang. Gus Rozin pernah menjadi pengurus PP IPNU, pengurus Departemen Hubungan Luar Negeri PP GP Ansor, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, Ketua RMI PBNU, serta Katib Syuriyah PBNU masa khidmah 2022–2027.
Dalam gagasannya, Gus Rozin menawarkan penguatan kedaulatan organisasi, pemulihan marwah NU, penguatan pesantren dan peningkatan kepercayaan warga Nahdliyin.
Dia menilai Muktamar harus menjadi momentum evaluasi terhadap berbagai persoalan internal organisasi, termasuk isu yang berkaitan dengan pesantren, konsesi tambang, hingga menurunnya daya kritis organisasi.
Liputan6.com juga mencatat Gus Rozin terus melakukan konsolidasi ke berbagai daerah. Dalam laporan terbaru, dia disebut mendapatkan dukungan yang bergerak dari sejumlah daerah menjelang Muktamar. Selain Ketua PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin juga tercatat sebagai Rektor Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) di Pati.
2. KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya
Petahana Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan salah satu kandidat dengan modal paling jelas karena telah memimpin organisasi pada periode 2021–2026.
Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021 setelah memperoleh 337 suara.
Lima tahun kepemimpinannya menjadi modal sekaligus tantangan. Sebagai petahana, Gus Yahya memiliki pengalaman langsung dalam menjalankan organisasi dengan jaringan 38 PWNU, ratusan PCNU, MWC hingga ranting di seluruh Indonesia.
Dia menyatakan kembali maju dalam Muktamar ke-35 karena ingin menuntaskan agenda yang telah dibangun pada periode pertama.
"Saya memang hendak mencalonkan lagi karena, pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun, dan saya sekarang lebih mengerti tentang bagaimana menyempurnakan capaian-capaian yang sudah berhasil diperoleh ini," kata Gus Yahya.
Di bawah kepemimpinannya, salah satu agenda besar yang disiapkan untuk Muktamar adalah roadmap NU 25 tahun. Dokumen tersebut dirancang sebagai peta jalan jangka panjang untuk menyelaraskan arah pembangunan organisasi, lembaga dan badan otonom NU.
Selain itu, PBNU menyiapkan piagam nilai keulamaan yang diarahkan menjadi pedoman mengenai otoritas keilmuan dan dakwah di tengah derasnya informasi keagamaan di era digital.
Namun perjalanan Gus Yahya menuju Muktamar 2026 juga diwarnai dinamika internal yang cukup tajam.
Pada November 2025, sempat muncul keputusan Syuriyah mengenai pemberhentian Gus Yahya. Dia menolak keputusan tersebut dan menegaskan bahwa dirinya hanya dapat diberhentikan melalui Muktamar sebagai forum tertinggi NU.
Pada Januari 2026, posisi Gus Yahya kemudian dipulihkan setelah PBNU menerima surat permohonan maafnya. Rapat pleno juga mendorong pembenahan tata kelola organisasi dan keuangan agar lebih transparan dan akuntabel.
Dinamika tersebut menjadi bagian penting dalam rekam jejak petahana menjelang pertarungan Muktamar.
3. KH Zulfa Mustofa
Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum. Berbeda dengan kandidat yang sejak awal secara terbuka melakukan deklarasi, Kiai Zulfa sempat menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ambisi pribadi untuk menduduki posisi Ketua Umum PBNU.
Namun dia membuka pintu apabila mendapat permintaan kuat dari struktur NU di tingkat wilayah dan cabang.
"Kalau aspirasi dari cabang, wilayah, meminta itu sangat kuat, tentu saya tidak bisa menolak permintaan itu," ujar Kiai Zulfa pada Juli 2026.
Pengalaman Zulfa di struktur PBNU menjadi salah satu modalnya. Dia merupakan bagian dari kepengurusan PBNU periode 2022–2027 sebagai Wakil Ketua Umum.
Namanya juga sempat berada dalam pusaran dinamika kepemimpinan PBNU pada akhir 2025. Ketika terjadi konflik internal dan Gus Yahya sempat dinyatakan tidak lagi menjabat, Zulfa ditetapkan sebagai pejabat Ketua Umum PBNU untuk mengisi sisa masa jabatan hingga Muktamar.
Meski kemudian Gus Yahya dipulihkan, pengalaman tersebut membuat Zulfa memiliki rekam jejak langsung dalam dinamika kepemimpinan tingkat pusat.
Dalam gagasan yang ditawarkan, Zulfa menekankan pentingnya pengurus NU memiliki kapasitas keilmuan sekaligus kepekaan terhadap kebutuhan umat. Dia juga dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan fikih dan Bahtsul Masail.
4. KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, menjadi salah satu nama yang mendapat perhatian besar dari basis NU Jawa Tengah.
Gus Yusuf menyatakan siap maju dalam Muktamar ke-35 NU. Pencalonannya mendapatkan dukungan dari 23 PCNU se-Jawa Tengah melalui kegiatan Lamaran Agung Maklumat Dukungan di Aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, 18 Juli 2026.
Dukungan tersebut memberikan modal organisasi yang signifikan karena PCNU merupakan struktur yang memiliki peran penting dalam konfigurasi Muktamar.
Gus Yusuf juga memiliki akar kuat di dunia pesantren. Ia dikenal sebagai pengasuh API Tegalrejo, salah satu pesantren besar di Magelang yang memiliki jaringan alumni luas.
Dalam pencalonannya, Gus Yusuf menekankan pembenahan tata kelola organisasi dan penguatan pesantren. Dia juga berusaha menempatkan pencalonan tersebut bukan sebagai perebutan jabatan, melainkan bagian dari pengabdian.
"Bagi saya, ini bukan soal jabatan, tapi khidmah," ujar Gus Yusuf ketika menerima dukungan PCNU se-Jawa Tengah.
Nama Gus Yusuf bahkan sudah muncul cukup tinggi dalam survei Insantara pada Maret 2026 dengan perolehan 17 persen. Angka tersebut menempatkannya di posisi ketiga dalam simulasi 14 nama kandidat potensial.
5. KH Nasaruddin Umar
Nama Menteri Agama KH Nasaruddin Umar juga masuk dalam radar bursa Ketua Umum PBNU. Berbeda dengan Gus Rozin, Gus Yahya, Gus Yusuf, Gus Salam, Gus Kikin, maupun Hery yang telah menyatakan kesiapan atau aktif dalam pencalonan, posisi Nasaruddin masih lebih hati-hati.
Nasaruddin belum memberikan pernyataan terbuka mengenai kemungkinan dirinya maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Ketika ditanya soal peluang tersebut, dia tidak memberikan jawaban maupun pernyataan terkait pencalonannya.
Nasaruddin memiliki rekam jejak panjang di dunia akademik dan keulamaan serta saat ini dipercaya sebagai Menteri Agama.
Nama tersebut sebelumnya juga telah muncul dalam pemetaan kandidat Ketua Umum PBNU melalui survei Insantara. Dalam survei Maret 2026, Nasaruddin Umar memperoleh 4 persen.
Karena belum ada deklarasi terbuka, posisi Nasaruddin dalam bursa lebih tepat disebut sebagai figur potensial yang masih menunggu perkembangan dinamika Muktamar.
6. KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, kemudian menyatakan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Keputusan tersebut diambil setelah mendapatkan dawuh dari sesepuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, serta dukungan dari sejumlah tokoh NU.
Gus Salam memiliki latar belakang kuat di lingkungan pesantren dan Bahtsul Masail. Karier organisasinya dimulai sebagai pengurus LBMNU Kota Kediri pada 2002.
Dia kemudian bergabung dengan LBMNU Jombang pada 2009 dan dipercaya menjadi anggota Syuriyah PCNU Jombang pada 2012.
Di tingkat nasional, Gus Salam pernah dipercaya menjadi Katib PBNU pada 2015. Tiga tahun kemudian dia menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.
Pada kepengurusan PBNU masa khidmah 2022–2027, Gus Salam sempat menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PBNU sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Gagasan utama yang dibawa Gus Salam dalam pencalonannya adalah rekonsiliasi organisasi. Menurutnya, dinamika internal yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir perlu diakhiri melalui upaya mempertemukan kembali berbagai kelompok di tubuh NU.
Latar belakang pesantren dan pengalaman di struktur organisasi membuat Gus Salam menjadi salah satu figur yang menawarkan pendekatan rekonsiliatif di tengah persaingan yang semakin menghangat.
7. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin
Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi figur lain yang memiliki basis dukungan struktural cukup kuat.
Gus Kikin menyatakan siap maju setelah mendapat penugasan dari PWNU Jawa Timur dan PCNU se-Jawa Timur.
Dia menegaskan pencalonannya bukan berasal dari ambisi pribadi, melainkan hasil keputusan organisasi.
"Semula saya tidak ada niat untuk mencalonkan diri. Namun karena ini merupakan keputusan, penugasan, dan amanah dari PWNU serta PCNU se-Jawa Timur, maka bismillah saya siap menjalankannya," kata Gus Kikin.
Penugasan tersebut menjadi modal penting karena Jawa Timur merupakan salah satu basis utama NU. Gus Kikin juga memiliki latar belakang keluarga ulama. Dia merupakan cicit Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Dia pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Ampel dan Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Jombang, yang didirikan oleh kakeknya. Pendidikan formalnya ditempuh mulai dari Madrasah Ibtidaiyah hingga SMA di Jombang.
Dalam menawarkan arah kepemimpinan, Gus Kikin menekankan pentingnya menjaga tradisi organisasi yang diwariskan para muassis NU sekaligus memperkuat persatuan.
"Kita berusaha sebaik mungkin mengikuti tradisi-tradisi dari dulu yang sangat kuat dan itu yang harus kita jaga, kita lanjutkan, kita teruskan," ujarnya.
8. Hery Haryanto Azumi
Nama Hery Haryanto Azumi menjadi salah satu figur yang berbeda dari kandidat lain karena latar belakang utamanya berasal dari aktivisme mahasiswa NU.
Hery pernah menjabat Ketua PC PMII Ciputat pada 1999–2000. Dia kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII pada Kongres XV tahun 2005.
Kariernya berlanjut di struktur PBNU. Hery pernah dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal PBNU pada masa kepemimpinan KH Said Aqil Siradj serta menjabat Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathan (MDHW).
Pada bursa 2026, Hery menawarkan gagasan transformasi NU. Kemunculannya juga menarik perhatian karena berasal dari jalur aktivis organisasi yang berbeda dengan sejumlah kandidat yang memiliki basis utama pesantren atau struktur PWNU.
Nama Hery bahkan sempat menjadi sorotan dalam pemberitaan mengenai dinamika polling menjelang Muktamar. Namun, sebagaimana kandidat lainnya, popularitas dalam polling tidak otomatis menjadi ukuran kekuatan suara di forum Muktamar.
Bursa Masih Cair, Dukungan Bisa Berubah
Di luar delapan nama tersebut, dinamika bursa juga tidak menutup kemungkinan munculnya kandidat lain. Sejumlah pemberitaan sebelumnya bahkan mencatat nama-nama lain yang masuk dalam pembicaraan internal dan survei.
Karena itu, peta kekuatan menjelang Muktamar tidak bisa hanya dibaca dari popularitas atau polling. Dukungan PWNU, PCNU, jaringan pesantren, hubungan antarkiai, rekam jejak pengabdian, serta kemampuan membangun titik temu antar-kelompok akan menjadi faktor penting.
NU Online juga mencatat bahwa hingga awal Agustus sejumlah tokoh dari bursa calon Ketua Umum PBNU telah tampil dalam forum diskusi yang membahas kepemimpinan NU adaptif terhadap perubahan sosial.
Forum tersebut antara lain dihadiri Nasaruddin Umar, Zulfa Mustofa, Yusuf Chudlori, Abdul Ghaffar Rozin, Abdussalam Shochib, Hery Haryanto Azumi dan sejumlah tokoh lainnya.
Artinya, pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU tidak semata-mata menjadi kompetisi personal antarkiai. Muktamar ke-35 akan menjadi forum untuk menentukan arah organisasi NU dalam lima tahun berikutnya, sekaligus merumuskan agenda jangka panjang organisasi.
PBNU sendiri menyiapkan roadmap NU untuk 25 tahun ke depan dan piagam nilai keulamaan sebagai dua dokumen strategis yang akan dibahas dalam Muktamar.
Dengan demikian, siapa pun yang akhirnya memperoleh mandat sebagai Ketua Umum PBNU akan menghadapi pekerjaan besar untuk menjaga soliditas organisasi, membenahi tata kelola, memperkuat pesantren, merawat tradisi keilmuan, meningkatkan kapasitas kelembagaan, sekaligus memastikan NU tetap relevan menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, bursa calon Ketua Umum PBNU masih terbuka dan dinamis. Konfigurasi dukungan yang hari ini terlihat kuat belum tentu sama ketika para pemilik suara memasuki arena Muktamar.
Forum di Tambakberas akan menjadi titik penentu. Di sanalah berbagai jaringan dukungan, rekam jejak pengabdian, gagasan tentang masa depan NU, serta kemampuan membangun konsensus akan diuji dalam satu keputusan besar tentang siapa yang akan menerima mandat memimpin PBNU untuk periode berikutnya.