Warga Muslim di Inggris Diminta Kurangi Penggunaan Air Saat Wudu

Umat Islam di Inggris diminta hemat air saat berwudu, dengan uji coba menunjukkan penghematan hingga 55 liter per orang setiap hari.

oleh Septian DenyDiterbitkan 24 Agustus 2026, 15:00 WIB
Penampakan Al Fazl Mosque dari luar. Merupakan masjid tertua di London, ibu kota Inggris (Liputan6.com/Elin Yunitas Kristanti)

Liputan6.com, London - Regulator industri air Inggris mengimbau umat Islam di negara tersebut untuk mengurangi penggunaan air saat berwudu. Komunitas Asia juga dianjurkan menghemat air ketika mencuci beras.

Dikutip dari Middle East Eye, Senin (24/8/2026), imbauan itu merupakan bagian dari program water efficiency in faith and diverse communities yang didanai Ofwat, otoritas pengatur layanan air Inggris.

Salah satu inisiatif terbaru program tersebut dilakukan melalui kerja sama antara South Staffordshire Water, Fakultas Teologi University of Cambridge, Cambridge Central Mosque, masjid ramah lingkungan pertama di Inggris, serta sejumlah organisasi dan perusahaan air lainnya.

Dalam uji coba di Cambridge, umat Islam setempat didorong untuk menggunakan hanya satu liter air ketika melakukan wudu sebelum salat.

Menurut Ofwat, yang merupakan departemen pemerintah nonkementerian, uji coba tersebut menunjukkan bahwa penggunaan botol berisi satu liter air dapat menghemat hingga 55 liter per orang setiap hari. Pasalnya, sebagian orang menggunakan hingga 12 liter air mengalir untuk berwudu sebanyak lima kali sehari.

Secara keseluruhan, uji coba wudu tersebut diperkirakan menghemat hingga 5.900 liter air per hari di Cambridge.

Inisiatif itu juga merekomendasikan agar panduan penghematan air tersebut disebarluaskan secara luas melalui saluran televisi Islam. Namun, proyek tersebut mengingatkan perusahaan air agar tidak memberikan kesan seolah-olah umat Islam menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas pemborosan air dibandingkan kelompok lainnya.

Dalam praktiknya, Nabi Muhammad secara umum diyakini menggunakan tidak lebih dari satu liter air untuk berwudu.

 

 

Imbauan Menghemat Air Saat Mencuci Beras

Inisiatif lainnya melibatkan dana sebesar £ 270.000 dari uang pembayar pajak. Program tersebut menggandeng Ping Coombes, koki terkenal yang memenangkan MasterChef pada 2014, untuk mengajarkan komunitas Asia menggunakan lebih sedikit air saat memasak dan mencuci beras, menurut The Telegraph.

Dalam sebuah video di YouTube, Coombes mengatakan bahwa mencuci beras lima hingga tujuh kali hingga airnya menjadi bening merupakan praktik yang umum dilakukan. Namun, ia mempertanyakan apakah beras memang perlu dicuci sebanyak itu.

“Saya sebenarnya hanya mencuci beras dua kali,” ujarnya.

Dikritik sebagai Pemborosan Uang Pembayar Pajak

Program tersebut menuai kritik. Para pengkritik menilai perusahaan air seharusnya lebih fokus memperbaiki infrastruktur yang mengalami kebocoran daripada mengajari masyarakat cara mengurangi penggunaan air.

Penelitian Greenpeace UK pada Juli menemukan bahwa 2,87 miliar liter air atau setara dengan sekitar 1.150 kolam renang ukuran Olimpiade, hilang setiap hari akibat kebocoran pipa di Inggris dan Wales.

Studi tersebut juga menemukan bahwa perusahaan air membuang lima kali lebih banyak air melalui pipa yang bocor dibandingkan jumlah air yang dapat dihemat melalui larangan penggunaan selang air.

Mike Wood, menteri bayangan untuk Cabinet Office, mengatakan kepada The Telegraph bahwa mengurangi pemborosan air merupakan tujuan yang baik. Namun, menurutnya, persoalan yang lebih besar adalah penggunaan uang pembayar pajak.

Ia menilai keluarga yang sudah menghadapi kenaikan tagihan dalam jumlah besar tidak akan senang jika uang mereka digunakan untuk program yang dianggap berupaya mengubah praktik keagamaan dan budaya yang telah lama dilakukan.

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Ofwat mengatakan kepada Middle East Eye bahwa cuaca kering yang berlangsung lama pada musim panas menjadi pengingat bahwa semua orang perlu menggunakan air secara lebih efisien dan menjaga sumber daya yang terbatas dan berharga tersebut.

Ofwat menjelaskan bahwa uji coba itu dilakukan bersama perusahaan air, organisasi amal, dan berbagai kelompok agama untuk memberikan saran penghematan air yang relevan dan praktis bagi masing-masing komunitas. Program tersebut telah berakhir pada April 2025.

Ofwat juga menegaskan bahwa program itu tidak mengatur apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan masyarakat, serta tidak mengganggu praktik ibadah maupun kebiasaan keagamaan.

Sebelumnya, pada Juni, pemerintah Inggris meluncurkan kampanye publik senilai £ 75 juta bertajuk “Let’s Save Water”. Kampanye tersebut mengajak masyarakat mengurangi penggunaan air setiap hari melalui perubahan kecil dalam aktivitas sehari-hari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya