Liputan6.com, Lampung - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, meluas. Hingga Senin (24/8/2026) pagi, total area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 774,14 hektare.
Luas tersebut merupakan akumulasi dari kebakaran sebelumnya seluas 673,4 hektare di wilayah Resort Kuala Penet dan tambahan 100,74 hektare dari titik kebakaran baru yang ditemukan di kawasan sekitar Desa Braja Luhur, Kecamatan Braja Selebah.
Advertisement
Humas TN Way Kambas, Riri Fitriandi mengatakan, petugas gabungan masih bersiaga di lokasi kebakaran terbaru. Tim juga bersiap melakukan proses pendinginan untuk memastikan api benar-benar padam.
"Masih siaga di lokasi dan sedang bersiap melakukan pendinginan," kata Riri, Senin (24/8/2026).
Proses pendinginan dilakukan dengan menyisir area yang terbakar untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa.
Langkah itu penting untuk mencegah munculnya kembali titik api, terutama di kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.
Karhutla di TN Way Kambas pertama kali terpantau pada Jumat (21/8/2026). Kebakaran di wilayah Resort Kuala Penet kemudian berhasil dipadamkan oleh tim gabungan pada Sabtu malam (22/8/2026).
Namun, sehari berselang, petugas kembali menemukan kebakaran di lokasi berbeda. Titik api baru terdeteksi di sekitar Desa Braja Luhur, Kecamatan Braja Selebah, pada Minggu (23/8/2026).
Kepala Balai TN Way Kambas, MHD Zaidi mengatakan tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi baru untuk melakukan pemadaman.
"Sekarang ini kita bergeser ke lokasi kebakaran baru di Braja Luhur," ujar Zaidi, Minggu (23/8/2026).
Berbeda dengan lokasi kebakaran sebelumnya yang relatif sulit dijangkau, titik api di Braja Luhur berada tidak jauh dari aliran sungai. Kondisi tersebut memudahkan petugas mendapatkan pasokan air untuk proses pemadaman.
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Yuni Iswandari mengatakan petugas memanfaatkan mesin pompa air atau alkon untuk mempercepat proses pemadaman.
"Yang titik ini dekat dengan sungai, tidak seperti titik yang kemarin. Jadi tim lebih mudah untuk mendapatkan pasokan air," kata Yuni.
Kebakaran melanda kawasan yang merupakan habitat gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus). Meski demikian, hingga kini belum ada laporan mengenai gajah maupun satwa lainnya yang terdampak langsung akibat karhutla.
Pergerakan Gajah Terus Dipantau
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Dr. Ahmad Munawir mengatakan, pergerakan kelompok gajah yang dipantau menggunakan GPS collar masih berada jauh dari lokasi kebakaran.
Saat api berkobar di bagian selatan kawasan TN Way Kambas, kelompok gajah terpantau berada di wilayah utara.
"Alhamdulillah gajah kita tidak ada yang terdampak secara langsung dari kebakaran hutan kali ini," ujar Ahmad, Minggu (23/8/2026).
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal juga memastikan pergerakan 11 kelompok gajah liar terus dipantau. Kelompok gajah yang berada paling dekat dengan lokasi kebakaran tercatat berjarak sekitar 25 kilometer.
Sementara itu, gajah-gajah yang berada di Pusat Latihan Gajah (PLG) dipastikan dalam kondisi aman.
Hingga Senin pagi, petugas gabungan masih melakukan pendinginan dan penyisiran di sejumlah titik untuk memastikan tidak ada bara maupun titik api baru yang kembali muncul.