Liputan6.com, Jakarta - Wilsen Willim tidak ingin perjalanan bersama tenun Indonesia berhenti pada penciptaan koleksi couture. Desainer tersebut mulai melihat masa depan wastra dari sisi yang lebih luas, termasuk bagaimana membangun ekosistem produksi yang dapat membuat para penenun bekerja lebih mandiri.
Pandangan itu muncul setelah Wilsen menjalani proses eksplorasi untuk koleksi Algorithm: Universal Language. Perjalanan tersebut membawanya bertemu para perajin dan melihat langsung berbagai kondisi yang memengaruhi keberlangsungan produksi tenun di sejumlah daerah Indonesia.
Advertisement
"Kebayang the future where penenun-penenun kita itu tidak terikat masalah seperti monopoli benang dan mafia benang," kata Wilsen usai pemutaran perdana dokumenternya Reinventing Tenun: Journey to Algorithm di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Ia menilai, persoalan pada rantai produksi perlu mendapat perhatian karena keberlangsungan tenun tidak hanya bergantung pada kreativitas desainer. Ketersediaan bahan baku, proses produksi, dan akses terhadap pasar turut menentukan ruang gerak para penenun dalam mengembangkan usaha mereka.
Desainer yang telah mengeksplorasi berbagai wastra dari sejumlah daerah itu membayangkan sistem produksi yang mampu bergerak lebih terintegrasi di dalam negeri. Model tersebut dapat mencakup proses dari pengolahan bahan hingga menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Wilsen juga ingin melihat lebih banyak perusahaan Indonesia mengambil peran dalam rantai tersebut. Ia membayangkan industri dalam negeri dapat menghasilkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tapi juga memiliki kemampuan untuk dipasarkan ke luar negeri.
"I think that's how I can help as much as possible untuk memperbaharui ekonomi Indonesia," kata Wilsen.
Tenun Bukan Sekadar Material
Visi tersebut memperlihatkan perubahan cara Wilsen memandang hubungan antara fashion dan wastra. Ia tidak lagi menempatkan tenun hanya sebagai material untuk menciptakan busana, tapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak pihak.
Ia mengembangkan material untuk koleksi Algorithm: Universal Language melalui perjalanan yang mencakup songket Jembrana dari Bali, tenun sutera Garut dari Bandung Selatan, tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu-Putussibau, serta songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat.
Proses tersebut membuat Wilsen melihat perubahan yang terjadi di sejumlah lokasi yang pernah ia datangi. Ia dapat membandingkan kondisi dari kunjungan sebelumnya dengan situasi ketika kembali bertemu para perajin dan lingkungan di sekitarnya.
"Bagian yang paling menarik dari semua perjalanan itu, the growth," ujar Wilsen.
Perubahan di Balik Tenun
Wilsen menganggap perubahan yang terlihat secara langsung memiliki nilai yang tidak dapat diukur hanya dengan materi. Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa pengembangan fashion dapat berdampak lebih panjang ketika melibatkan komunitas dan perajin secara berkelanjutan.
"Untuk menyaksikan langsung perubahan impact itu rasanya beda banget. No amount of money can buy that," katanya.
Pengalaman bersama para perajin juga membuat perjalanan Wilsen memiliki dimensi personal. Ia menemukan orang-orang yang tidak masuk dalam rencana awal, tapi kemudian menjadi bagian penting dari proses eksplorasinya.
Wilsen menyebut mereka sebagai local heroes karena setiap orang membawa cerita dan kontribusi masing-masing. "Tali takdir ya, semuanya itu bukan sebuah plan yang kita lakukan secara gimana, tapi banyak takdir orang-orang yang aku ketemukan," ujar Wilsen.
Perjalanan yang Belum Berakhir
Perjalanan tersebut belum membuat Wilsen menutup eksplorasi terhadap wastra Indonesia. Ia mengaku masih memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan, tapi memilih menunggu momentum yang tepat sebelum menentukan langkah berikutnya.
"Banyak, banyak kok. Tapi menurut aku sebagai pebisnis tuh everything is about timing. Semuanya itu ada waktunya. Aku tuh bukan tipe orang yang ingin memaksakan segalanya," tuturnya.
Wilsen belum mengungkap wastra yang akan menjadi fokus selanjutnya. Ia hanya memberi gambaran bahwa perjalanan berikutnya akan menghadirkan "wajah baru," meski beberapa elemen dari karya sebelumnya masih berpeluang muncul.