Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau di perairan Lampung mengalami lima kali erupsi dalam rentang waktu beberapa jam pada Sabtu (22/8/2026).
Aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih berfluktuasi sehingga statusnya tetap berada pada Level III atau Siaga.
Advertisement
Erupsi pertama tercatat pada pukul 11.57 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat daya. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan berlangsung selama 139 detik.
Aktivitas kembali terpantau pada pukul 15.12 WIB. Kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 mdpl. Erupsi berlangsung selama 20 detik dengan amplitudo maksimum 58 milimeter.
Satu menit kemudian, tepatnya pukul 15.13 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. Kolom abu kembali mencapai sekitar 400 meter di atas puncak, berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat daya. Saat laporan dibuat, erupsi masih berlangsung.
Erupsi keempat terjadi pada pukul 15.40 WIB. Kolom abu kembali teramati setinggi sekitar 400 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 60 milimeter dan berlangsung selama 71 detik.
Tiga menit berselang, pada pukul 15.43 WIB, erupsi kembali terjadi. Kolom abu setinggi sekitar 400 meter di atas puncak teramati dengan warna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah barat daya. Erupsi berlangsung selama 15 detik dengan amplitudo maksimum 55 milimeter.
Aktivitas Vulkanik Siaga
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih mengalami fluktuasi.
"Masih naik, masih turun. Makanya statusnya masih Siaga," kata Andi saat dikonfirmasi, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Andi, rangkaian erupsi terjadi di kawasan Gunung Anak Krakatau yang merupakan pulau kosong sehingga tidak terdapat aktivitas masyarakat di lokasi tersebut.
Meski begitu, aktivitas vulkanik masih dapat berubah sewaktu-waktu. Erupsi susulan berpotensi terjadi apabila amplitudo tremor masih tinggi.
"Kita lihat saja ke depannya. Kalau amplitudo tremornya masih besar kemungkinan erupsi masih ada," ungkapnya.
Andi mengingatkan masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas vulkanik masih tinggi.
Sesuai rekomendasi keselamatan, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif selama Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga.
"Kita kan masyarakat umum tidak punya alat pendeteksi kegiatan dari dalam. Kalau tiba-tiba ada letusan, risikonya sangat besar. Makanya lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga," tegasnya.