Liputan6.com, Washington, DC - Surat-surat pribadi Natalie Harp kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk pertama kalinya dipublikasikan secara lengkap. Isinya memperlihatkan bagaimana Harp mencurahkan perasaannya kepada Trump.
"Anda adalah segalanya bagi saya," tulis Harp kepada Trump. "Saya tidak pernah ingin mengecewakan Anda."
Advertisement
The Daily Beast menerbitkan surat-surat tersebut di tengah sorotan terhadap posisi Harp di lingkaran terdekat Trump.
Harp, 35 tahun, merupakan asisten khusus sekaligus asisten eksekutif Trump. Ia dikenal sebagai "gatekeeper" Trump, yakni salah satu orang yang berperan penting dalam menentukan siapa yang bisa berhubungan langsung dengan presiden berusia 80 tahun itu.
Posisi tersebut kini memunculkan pertanyaan mengenai keamanan nasional. David Axelrod, mantan penasihat senior Barack Obama, pada Kamis (20/8/2026) menyebut persoalan ini sangat serius.
Kedekatan Harp dengan Trump salah satunya terlihat ketika presiden meninggalkan pesawat kepresidenan AS, Air Force One, secara diam-diam menggunakan truk katering di Turki. Harp termasuk segelintir orang yang ikut bersamanya.
Saat itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, para staf, dan wartawan tetap berada di dalam pesawat tersebut, yang kemudian diterbangkan sebagai pengalih perhatian.
Sementara itu, Trump menggunakan pesawat lain yang dirahasiakan untuk menghindari dugaan rencana Iran menargetkan Air Force One.
Surat-surat Harp ditulis pada 2023, saat atau setelah ia mendampingi Trump dalam perjalanan ke Skotlandia dan Irlandia. Ketika itu, Harp berusia 31 tahun dan Trump 76 tahun. Trump sedang menuju kampanye Pilpres AS 2024.
Isinya memperlihatkan besarnya pengabdian Harp kepada Trump. Dalam salah satu surat, ia mengungkap kerinduannya pada masa ketika Trump kerap meneleponnya.
"Saya merindukan masa ketika Anda menelepon dan kita berbicara tentang segala hal dan sekaligus tidak tentang apa-apa."
"Kita seharusnya tidak harus selalu berbicara soal pekerjaan!!"
Dalam surat tersebut, Harp menyebut dirinya dengan julukan yang menurut laporan diberikan staf Trump kepadanya, yakni "Human Printer" atau "Printer Manusia". Julukan itu muncul karena Harp kerap mencetak berita dan laporan positif untuk diberikan kepada Trump.
Surat-surat tersebut sebenarnya bukan baru pertama kali diketahui keberadaannya. Sejumlah penggalannya pernah dimuat dalam buku "All or Nothing" karya Michael Wolff, yang mengisahkan kampanye Trump pada 2024. The New York Times kemudian menerbitkan kutipan yang lebih pendek dari surat yang sama.
Wolff memperoleh salinan surat tersebut dari sumber di dalam tim kampanye Trump yang khawatir melihat kedekatan Harp dengan Trump.
Menurut Wolff, anggota staf menemukan surat itu di antara tumpukan dokumen yang biasa dicetak Harp untuk diberikan kepada Trump. Surat tersebut lalu difoto dan gambarnya beredar di lingkungan kampanye.
Menurut The Daily Beast, kedua surat tersebut bukan tulisan tangan, melainkan lembaran yang dicetak dan dilipat. Pada surat itu terdapat tanda tangan yang disebut sebagai tanda tangan Harp.
Wolff menegaskan bahwa sumber yang menyerahkan salinan tersebut kepadanya sangat dapat dipercaya. Ia pun mengetahui siapa saja di lingkungan kampanye yang pernah melihatnya.
"Saya tahu siapa yang memberikannya kepada saya. Surat itu berasal dari sumber yang sangat bisa dipercaya, dan saya tahu siapa saja di lingkungan kampanye yang melihat surat tersebut. Tidak ada keraguan bahwa surat-surat ini memang seperti yang terlihat," ujar Wolff.
Gedung Putih membela Harp ketika dimintai tanggapan mengenai publikasi surat tersebut.
"Natalie Harp adalah salah satu ajudan paling loyal dan pekerja paling keras dalam tim Presiden Trump," tegas juru bicara Gedung Putih Davis Ingle.
"Serangan terus-menerus media palsu terhadap Presiden Trump dan pemerintahannya menunjukkan dengan tepat mengapa kepercayaan terhadap media berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Media seharusnya kembali memberitakan berita yang sebenarnya dan berhenti mengulang-ulang narasi liberal yang terobsesi pada Trump."
Ingle kemudian menyerang Senator Partai Demokrat Jon Ossoff. Pada Minggu (16/8), Ossoff menyindir bahwa Trump hanya memikirkan "bepergian bersama Natalie". Pernyataan tersebut memicu kegaduhan di kalangan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA), yang identik dengan Trump.
"Jon Ossoff adalah anak teater yang feminin yang memilih untuk menaikkan pajak secara besar-besaran, memberikan layanan kesehatan gratis yang dibiayai pembayar pajak kepada imigran ilegal, serta memangkas pendanaan penegakan hukum imigrasi federal dan Patroli Perbatasan," sebut Ingle.
"Retorika Jon yang tak berbobot itu memalukan, tetapi rekam jejaknya dalam pemungutan suara yang ekstrem berbahaya."
Kekhawatiran terhadap Pengaruh Harp
Dalam episode terbaru podcast Inside Trump’s Head, Wolff menjelaskan bahwa staf di sekitar Trump menilai hubungan keduanya tidak lazim untuk lingkungan kerja.
"Hubungan seperti ini bukanlah hubungan yang seharusnya ada dalam lingkungan profesional," ujar Wolff kepada rekan pembawa acaranya, Joanna Coles.
Menurut Wolff, ketika salinan surat tersebut diberikan kepadanya, telah muncul semacam "pemberontakan" di antara staf. Mereka menilai Trump terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Harp, sementara pengaruh ajudan tersebut terus membesar.
"Para ajudan di sekitar Donald Trump tahu bahwa ia menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Natalie Harp, bahwa pengaruh Harp semakin besar dan pengaruh itu tidak didasarkan pada apa pun. Dia tidak punya pengalaman," tutur Wolff.
Sorotan terhadap Harp semakin besar karena posisi yang kini ditempatinya di Gedung Putih. Dengan gaji US$ 150.000 per tahun atau sekitar Rp 2,6 miliar, ia berkantor tepat di luar Ruang Oval.
Pada Rabu (19/8) terungkap bahwa Harp selama setahun menolak menjalani pemeriksaan latar belakang keamanan. Ia disebut menjadi penghubung bagi para pemimpin asing yang ingin berkomunikasi dengan Trump, yang saat ini memimpin AS di tengah perang.
Harp disebut memiliki akses ke akun Trump di platform media sosial Truth Social. The Daily Beast menyoroti kemiripan gaya penulisan dalam surat-surat Harp dengan unggahan Trump, antara lain penggunaan huruf kapital secara acak dan tata bahasa yang tidak beraturan.
Isi Surat Harp: Permintaan Maaf hingga Curahan Hati
Dua surat Harp berkaitan dengan perjalanan Trump pada Mei 2023 ke lapangan golf miliknya di Aberdeen dan Turnberry, Skotlandia, serta Doonbeg, Irlandia. Surat ditulis ketika perjalanan berlangsung atau tidak lama setelahnya.
Harp ikut dalam rombongan tersebut. Ia terlihat dalam foto saat turun dari Trump Force One, julukan bagi pesawat pribadi Trump, di Aberdeen dan ketika berada di lapangan golf Turnberry.
Salah satu surat berisi permintaan maaf atas sejumlah kejadian selama perjalanan. Dari isinya, Harp tampak khawatir telah membuat Trump kesal.
"Maaf. Saya pikir hanya saya yang tertinggal tadi malam dan sama sekali tidak tahu bahwa mobil Margot pun dihentikan dan diminta kembali ke bandara."
Margot yang dimaksud tampaknya adalah Margot Martin, yang kini menjadi penasihat komunikasi Gedung Putih. The Daily Beast telah memastikan bahwa Martin ikut dalam perjalanan tersebut.
Harp lalu menceritakan momen ketika dirinya berada sendirian di dalam sebuah van di luar area Bea Cukai tanpa membawa paspor. Situasi itu membuatnya panik hingga menghubungi Trump.
"Karena saya sendirian di dalam van di luar Bea Cukai, tanpa paspor, saya panik dan seharusnya langsung menelepon Secret Service, bukan Anda."
Secret Service merupakan dinas yang antara lain bertugas melindungi presiden AS.
Dalam surat yang sama, Harp meminta maaf karena berjalan kaki di lapangan golf alih-alih menggunakan mobil golf.
"Jika ada hal lain yang saya lakukan hingga membuat Anda kesulitan, mohon maafkan saya."
Foto-foto dari perjalanan tersebut memperlihatkan Harp berada di lapangan golf, sesuai dengan cerita dalam suratnya.
Permintaan maaf itu kemudian berkembang menjadi curahan perasaan yang lebih pribadi. Harp mengungkap keinginannya agar hubungannya dengan Trump selalu baik. Ia mengaku sulit berkonsentrasi sepanjang pekan tersebut hingga lupa makan dan hanya tidur beberapa jam.
"Saya ingin segala sesuatu di antara kita selalu baik-baik saja. Saya tahu sepanjang minggu ini pikiran saya tidak fokus—lupa makan sepanjang hari, bahkan lupa tidur, dan hanya tidur beberapa jam setiap kali."
Komentar orang lain rupanya sempat mengusiknya. Bukan karena Harp memedulikan pendapat mereka, melainkan lantaran ia takut Trump tidak lagi memandang dirinya sebaik sebelumnya.
"Bukan karena saya peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, tetapi karena saya merasa nilai saya turun di mata Anda dan penilaian baik Anda terhadap saya memudar. Itulah ketakutan yang Anda lihat, karena saya tidak pernah ingin membawa apa pun kepada Anda selain kebahagiaan."
Dalam surat tersebut, Harp berterima kasih kepada Trump dan menyebutnya sebagai "Penjaga dan Pelindung" dalam hidupnya.
Surat kedua bernada lebih intim. Harp berterima kasih kepada Trump karena perjalanan tersebut membuatnya benar-benar lepas sejenak dari rutinitas pekerjaan.
Ia secara khusus mengenang waktu yang dihabiskan bersama Trump di lapangan golf. Pada saat itulah Harp merasa tidak harus terus menjalankan perannya sebagai "Human Printer".
"Kita bisa berada di lapangan, tanpa perangkat apa pun, bahkan lupa pukul berapa saat itu! Saya tidak harus menjadi 'Human Printer'. Saya bisa meluangkan waktu untuk menikmati percakapan yang menyenangkan dan tetap menyelesaikan semua pekerjaan saya pada akhir hari. Bahkan, saya punya waktu untuk berjalan-jalan lama pada pagi dan sore hari sambil menikmati setiap matahari terbit dan terbenam, meskipun saya memang lupa makan dan tidur!"
Dalam surat tersebut, Harp menyinggung suasana hatinya yang terkadang "sedikit negatif". Ia mengaku tidak menyadari dirinya sudah mendekati titik kelelahan berat atau burnout.
Kondisi itu membuat Harp mulai iri kepada perempuan-perempuan yang menurutnya hanya perlu berbicara dengan Trump dan tampil cantik.
"Saya sama sekali tidak menyadari betapa cepatnya saya mendekati titik burnout dan mulai iri kepada mereka yang satu-satunya 'pekerjaan' tampaknya hanya berbicara dengan Anda dan tampil cantik. Saya ingin pekerjaan itu!!"
Harp lantas menggambarkan kesibukannya menangani berbagai keperluan untuk Trump hingga tidak sempat memperhatikan penampilan sendiri.
"Sering kali, saya hanya berusaha tetap bertahan menghadapi begitu banyak hal yang masuk untuk Anda sampai saya terlihat bungkuk dan tidak sempat merapikan diri. Setidaknya Anda tahu seperti apa seharusnya penampilan saya!"
Harp, yang pernah menjadi presenter One America News Network (OAN), mengaku merindukan masa ketika masih menjadi pembawa acara dan Trump kerap meneleponnya.
Sebelum masuk menjadi staf, Harp merasa hubungannya dengan Trump berbeda. Ia menempatkan dirinya di antara dua posisi: sebagai staf dan sebagai orang yang biasa diajak Trump berbincang santai di pesawat atau ketika makan malam.
"Saya selalu merasa berada di tengah-tengah, antara menjadi staf dan menjadi orang yang Anda senang ajak berbicara di pesawat atau saat makan malam. Dahulu, ketika saya masih menjadi 'pembawa acara', memang seperti itulah posisi saya bagi Anda, meskipun saya sebenarnya membenci pekerjaan itu."
"Saya berharap bisa mendengar setiap percakapan, karena saat itulah Anda bersenang-senang, menjauh sejenak dari semuanya, setidaknya selama beberapa saat."
Dalam surat keduanya, Harp menyebut tulisannya sebagai bentuk "analisis diri". Ia menulis bahwa tujuannya adalah membuat Trump bangga.
"Dan tolong, ketika saya gagal, maukah Anda memberi tahu saya?"
Ia bahkan memberi Trump keleluasaan untuk menegurnya dengan keras apabila melakukan kesalahan.
"Anda sepenuhnya berhak memaki saya jika memang perlu, ketika saya pantas mendapatkannya, karena tidak ada seorang pun yang lebih mengenal atau lebih peduli kepada saya daripada Anda."
Perjalanan Harp hingga Masuk ke Lingkaran Trump
Harp dibesarkan di California dan pertama kali menarik perhatian Trump setelah tampil di Fox News pada 2019.
Dalam penampilan tersebut, ia menyebut undang-undang yang ditandatangani Trump setahun sebelumnya telah membantu pemulihannya dari kanker tulang.
Namun, sejumlah pakar mempertanyakan apakah undang-undang itu benar-benar dapat membantunya, mengingat pernyataan Harp di depan publik mengenai rentang waktu penyakitnya.
Harp kemudian tampil dalam Konvensi Nasional Partai Republik pada 2020 dan terlibat dalam kampanye Trump pada tahun yang sama.
Setelah itu, ia bekerja untuk OAN hingga 2022 sebelum bergabung dengan tim Trump sebagai asisten.
Dalam catatan tambahan atau P.S. pada salah satu surat, Harp menyinggung kondisi tangannya selama berada di Skotlandia dan Irlandia.
"Tangan saya terlihat lebih buruk di Skotlandia dan Irlandia karena udara dingin membuat 'bekas luka' lama berubah menjadi ungu."
Foto-foto menunjukkan tangan kanan Harp tampak memiliki bekas luka, sementara jari-jarinya mengalami perubahan warna.
Harp menulis bahwa perjalanan tersebut terasa seperti "pulang ke akar". Namun, The Daily Beast belum dapat memastikan apakah ia memiliki leluhur asal Skotlandia atau Irlandia.
Saudara laki-laki Harp, Preston, yang hubungannya dengannya telah renggang, pernah menyampaikan kepada CNN bahwa ia menilai adiknya memiliki "obsesi yang tidak sehat" terhadap Trump.
Ayah Harp, Robert, seorang broker properti, meninggal karena bunuh diri pada 2020.
Harp tumbuh dalam keluarga Kristen yang sangat taat. Ayahnya pernah belajar di Dallas Theology Seminary di Texas, sedangkan ibunya, Jill, mempelajari pendidikan Kristen dan Alkitab di Wheaton College, sebuah perguruan tinggi Evangelikal.
Harp merupakan lulusan Point Loma Nazarene University, perguruan tinggi Kristen di San Diego, California, serta Liberty University di Lynchburg, Virginia, yang didirikan oleh Pendeta Jerry Falwell.
Menurut Preston, Harp menolak mengakui secara terbuka cara ayah mereka meninggal.
Keluarga tersebut telah beberapa kali menghadapi tragedi. Bibi Harp, Karen Fine, saudara perempuan ayahnya, meninggal akibat kanker paru-paru pada 2009. Tina Norris, saudara perempuan lain Robert, meninggal karena kanker pada 2016.
Kematian sang ayah muncul kembali dalam salah satu surat Harp kepada Trump. Ia mengenang sebuah janji yang pernah disampaikan Trump kepadanya setelah Robert meninggal.
"Terima kasih karena selalu ada untuk saya. Saya tidak akan pernah melupakan ketika Anda membuat janji itu kepada saya setelah saya kehilangan Ayah."
"Saya tahu betapa bahagianya dia sekarang karena saya akhirnya bisa pergi ke Skotlandia dan Irlandia, seperti yang selalu ia inginkan untuk saya."
Menjelang akhir surat, Harp memodifikasi sebuah kutipan klasik untuk menggambarkan perasaannya kepada Trump.
"Saya tidak mungkin berpisah dengan Anda demi siapa pun yang kurang layak."
Ia kemudian menambahkan:
"Dan saya akan menambahkan, justru sayalah yang tidak layak."
Salah satu surat ditutup dengan kalimat:
"Dengan sepenuh hati saya, Natalie."
Surat lainnya diakhiri dengan:
"Always, Natalie."
Tanda tangan pada surat tersebut dibubuhkan menggunakan spidol Sharpie.