China Bersiap Luncurkan Chang'e-7 untuk Cari Air di Kutub Selatan Bulan

Chang'e-7 menjadi langkah penting dalam rencana jangka panjang China untuk mewujudkan kehadiran manusia secara permanen di Bulan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Agustus 2026, 09:34 WIB
Foto tanpa tanggal yang diambil Badan Antariksa Nasional China (CNSA) dan dirilis pada 4 Juni 2024 memperlihatkan kawah-kawah di permukaan Bulan yang diabadikan wahana Chang’e-6. (Dok. CNSA/AFP)

Liputan6.com, Beijing - China bersiap meluncurkan Chang'e-7, misi eksplorasi Bulan paling kompleks secara teknologi yang pernah dijalankan negara itu. Mengutip laporan CNA, misi ini akan mencari cadangan air dalam bentuk es di kawah-kawah yang selalu tertutup bayangan di sekitar kutub selatan Bulan.

Misi tanpa awak yang namanya diambil dari dewi Bulan dalam mitologi China itu akan mengerahkan wahana pendarat, kendaraan penjelajah, dan robot yang bisa "melompat" untuk menjangkau salah satu kawasan terdingin di tata surya.

Pekan depan, Chang'e-7 akan diluncurkan dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan, China selatan, menggunakan roket Long March 5.

Wahana tersebut membawa berbagai perangkat ilmiah, termasuk alat untuk menganalisis air, kamera, dan radar.

Setelah memasuki orbit Bulan, Chang'e-7 akan lebih dulu mengamati sejumlah calon lokasi pendaratan di kutub selatan sebelum menentukan lokasi untuk mencoba mendarat. Salah satu kandidatnya berada di dekat tepian Kawah Shackleton. Bagian dalam kawah ini selalu berada dalam bayangan dan tidak terkena sinar Matahari, sedangkan tepiannya yang terjal dan tidak rata justru hampir terus-menerus mendapat sinar Matahari.

China belum mengumumkan secara terbuka jadwal lengkap misi Chang'e-7. Namun, para pengamat antariksa memperkirakan upaya pendaratan akan dilakukan sekitar November.

Setelah mendarat, kendaraan penjelajah dan robot pelompat akan mulai menyurvei permukaan Bulan.

Belum diketahui berapa lama misi tersebut akan berlangsung.

 

Mengapa Kutub Selatan Bulan?

Kawah-kawah di dekat kutub selatan Bulan tidak terkena sinar Matahari selama miliaran tahun. Karena itu, para ilmuwan memperkirakan kawasan tersebut dapat berfungsi seperti lemari pembeku alami yang mampu menyimpan air purba dan senyawa organik yang mudah menguap.

Menurut NASA, suhu di sebagian wilayah yang selalu tertutup bayangan itu dapat turun hingga minus 203 derajat Celsius.

Menemukan sumber air yang mudah dijangkau sangat penting untuk pembangunan pangkalan di Bulan pada masa depan. Air tersebut dapat digunakan untuk minum, menghasilkan oksigen bagi astronaut, bahkan menjadi bahan baku propelan roket. Dengan begitu, kebutuhan membawa pasokan dari Bumi yang membutuhkan biaya besar dapat dikurangi.

Kutub selatan Bulan juga memiliki keunggulan lain. Di sebagian besar wilayah Bulan, satu malam berlangsung selama sekitar 14 hari di Bumi. Namun, puncak-puncak tinggi dan tepian kawah di sekitar kutub selatan hampir terus-menerus mendapat sinar Matahari.

Kondisi itu membuat kawasan tersebut dinilai ideal untuk menjadi lokasi pangkalan di Bulan karena memiliki suhu yang relatif stabil sekaligus pasokan tenaga surya yang hampir terus tersedia.

 

Salah satu kendala bagi kendaraan penjelajah beroda adalah medan di tepian kawah yang sangat curam. Untuk mencapai dasar kawah yang gelap gulita, Chang'e-7 akan mengerahkan robot pelompat dengan rancangan baru.

Robot tersebut dilengkapi alat untuk menganalisis molekul air. Dengan pendorong kecil, robot akan terbang masuk ke kawah yang tertutup bayangan, kemudian mendarat menggunakan enam kaki bersendi. Setelah itu, robot akan melompat kembali ke tepian kawah yang terkena sinar Matahari untuk mengisi ulang daya.

Rincian teknis mengenai berat robot tersebut, kinerja mesinnya, maupun jangkauan terbangnya belum diketahui.

Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan bahwa robot itu diperkirakan akan melakukan sedikitnya tiga kali lompatan selama misi berlangsung.

Amerika Serikat (AS), India, dan Rusia turut membidik kutub selatan Bulan. Sejauh ini, hanya India yang berhasil mendarat di dekat kawasan tersebut melalui misi Chandrayaan-3 pada 2023.

Dalam beberapa tahun mendatang, wahana penjelajah VIPER milik NASA, perangkat pengeboran PROSPECT milik Badan Antariksa Eropa (ESA), serta wahana LUPEX hasil kerja sama Jepang dan India diperkirakan juga akan tiba di kutub selatan Bulan, seiring semakin ketatnya persaingan untuk menemukan sumber air di kawasan tersebut.

 

Pesaing China dalam Perlombaan ke Bulan?

Ilustrasi bulan. (Dok. Ganapathy Kumar/Unsplash)

Data yang dikumpulkan Chang'e-7 dan penerusnya, Chang'e-8, yang direncanakan meluncur sekitar 2029, akan sangat penting bagi rencana China untuk mendaratkan astronaut di Bulan paling lambat 2030.

Kedua misi tersebut dirancang untuk meletakkan dasar bagi pembangunan stasiun penelitian yang nantinya dapat dihuni secara permanen.

Ambisi China untuk mengirim manusia ke Bulan dan membangun pos di dekat kutub selatan berjalan beriringan dengan program Artemis milik NASA. Program tersebut menargetkan manusia kembali ke Bulan pada 2028 dan, dalam jangka panjang, membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan di sana.

Pada April, misi Artemis II NASA menuntaskan penerbangan berawak selama 10 hari melintasi Bulan.

Empat astronaut dalam misi tersebut terbang lebih jauh ke luar angkasa dibandingkan manusia mana pun sebelumnya. Mereka mencapai jarak terjauh 252.756 mil dari Bumi sebelum kembali dengan selamat. 

China sendiri berencana membangun stasiun penelitian bersama Rusia pada 2035.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya