Bocah Kakak Beradik di Sidikalang Jadi Korban Penyiksaan Sadis

Ayah dipenjara sementara sang ibu tak diketahui keberadaanya, dua bocah kakak beradik menjadi korban penyiksaan seorang perempuan penjual mie gomak.

oleh Reza EfendiDiterbitkan 21 Agustus 2026, 19:59 WIB
Anak korban penyiksaan saat mendapat perawatan medis. (Liputan6.com/ Reza Efendi)

Liputan6.com, Sidikalang - Kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut). Dua bocah yang merupakan abang beradik, ditemukan menjadi korban dugaan penyiksaan sadis oleh seorang perempuan berinisial ES (45).

Akibat penganiayaan tersebut, kedua korban mengalami luka parah di sekujur tubuh hingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Sementara itu, terduga pelaku ES kini telah diamankan oleh pihak kepolisian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua bocah malang ini tinggal di sebuah rumah di dekat Gedung Nasional Sidikalang, yang sehari-hari dihuni oleh ES bersama satu anak kandungnya. ES diketahui mencari nafkah dengan berjualan mie gomak di dekat sekolah.

Kondisi kedua korban sangat memprihatinkan saat ditemukan oleh petugas. Korban anak pertama yang berusia 7 tahun mengalami luka parah pada badan, telinga masih berdarah, dan tangan kirinya patah akibat dugaan diputar-putar oleh pelaku.

Ia bahkan harus menjalani operasi di RSUD Sidikalang. Sedangkan Adiknya yang berusia 6 tahun ditemukan dengan sekujur tubuh penuh bekas cubitan dan luka-luka.

"Korban mengaku disiksa. Dia dititipkan ayahnya di rumah ES," ungkap Kepala UPT Perlindungan Anak dan Perempuan Dinas P2KBP3A, Eva Napitupulu.

Berdasarkan penuturan korban, mereka dititipkan oleh ayah kandungnya berinisial SP, yang saat ini tengah mendekam di penjara akibat kasus narkoba. Hingga kini, keberadaan ibu kandung kedua bocah tersebut tidak diketahui. Hubungan keluarga antara korban dan ES selaku pemilik rumah juga dipastikan tidak ada.

Kasus ini langsung mendapat respons cepat dari aparat penegak hukum. Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Dairi langsung bergerak menjemput ES dari kediamannya untuk menjalani pemeriksaan lebih intensif.

Kasie Humas Polres Dairi, AKP Syahril Ramadhan, membenarkan penangkapan tersebut.

"Dia dijemput dari rumah. Saat ini pemeriksaan sedang berlangsung," ujar AKP Syahril.

Sementara itu, korban Andi yang sempat dievakuasi oleh Kepala UPT Perlindungan Anak dan Perempuan, Eva Napitupulu, langsung dilarikan ke RSUD Sidikalang untuk mendapatkan tindakan medis darurat.

Pihak rumah sakit memastikan bahwa prioritas utama saat ini adalah pemulihan kesehatan fisik korban, sementara urusan biaya pengobatan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak direksi rumah sakit.

Di tengah musibah yang menimpa, secercah harapan muncul bagi masa depan kedua korban. Pemerintah daerah melalui instansi terkait menaruh atensi penuh terhadap pemulihan mental dan fisik kedua korban.

Tak hanya itu, aksi kemanusiaan turut ditunjukkan oleh Poltak Simanjuntak, seorang aktivis kemanusiaan di Medan, bersama Mestron Siboro dan Sabar Sianturi (anggota Polda Sumut). Ketiganya menyatakan kesiapan untuk merawat dan menyekolahkan kedua bocah malang tersebut hingga jenjang perkuliahan.

Saat ini fokus utama untuk korban adalah pemulihan trauma psikologis serta penyembuhan fisik secara total. Para aktivis dan aparat kepolisian siap menanggung biaya hidup dan pendidikan kedua korban sedaya mampu.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik di Sidikalang, dan masyarakat mendesak agar proses hukum terhadap pelaku berjalan transparan serta memberikan efek jera yang setimpal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya