Benarkah Meta Pura-Pura Peduli Keselamatan Anak?

Persidangan di California mengungkap kesaksian mantan insinyur Meta soal dugaan kelalaian perusahaan melindungi anak-anak.

oleh Aisyah Mustika ZamaniDiterbitkan 23 Agustus 2026, 18:10 WIB
Facebook meluncurkan tanda Meta baru mereka di kantor pusat perusahaan di Menlo Park, California, Kamis, 28 Oktober 2021. Facebook Inc. yang diperangi mengubah namanya menjadi Meta Platforms Inc., atau Meta, untuk mencerminkan apa yang CEO Mark Zuckerberg mengatakan komitmennya untuk mengembangkan t

Liputan6.com, Jakarta - Persidangan yang tengah berlangsung di California, Amerika Serikat, kembali menyoroti dugaan peran Meta dalam memperburuk krisis kesehatan mental anak-anak.

Para jaksa agung negara bagian mendesak Meta untuk bertanggung jawab atas dampak platform media sosialnya terhadap anak dan remaja.

Mantan insinyur keselamatan Meta, Arturo Béjar, memberikan kesaksian dalam persidangan tersebut. Ia menyebut perusahaan sengaja menerapkan kebijakan “jangan tanya, jangan beri tahu” terkait upaya menjaga keselamatan anak-anak di platformnya.

Dikutip dari Futurism, Minggu (23/8/2026), Béjar mengatakan Meta mengetahui bahwa platformnya dapat membahayakan anak-anak. Salah satu persoalan yang disorot adalah munculnya konten seperti kekerasan dan materi seksual dalam feed pengguna muda.

Menurut Béjar, Meta tidak segera mencari solusi meski telah memahami persoalan tersebut. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan klaim perusahaan yang berulang kali menyatakan tidak menempatkan keuntungan di atas keselamatan pengguna.

“Tampaknya dia (Zuckerberg) menciptakan kesan palsu dan menyesatkan mengenai komitmen Facebook terhadap anak muda,” ujar Béjar dalam kesaksiannya.

Bocoran dari Orang Dalam

Kesaksian Béjar bukan satu-satunya tudingan yang diarahkan kepada Meta. Sejumlah mantan orang dalam perusahaan sebelumnya juga pernah mengungkap dugaan strategi yang berkaitan dengan pengguna di bawah umur.

Tahun lalu, mantan Direktur Kebijakan Publik Facebook, Sarah Wynn-Williams, menerbitkan buku yang mengungkap strategi perusahaan dalam memperluas jangkauan iklan kepada anak di bawah umur sejak 2017.

AI Milik Meta Meretas Sistem

Logo Meta di kantor Meta Indonesia di Capital Place. Liputan6.com/Matahari Kartika Purusakara.

Dalam bukunya, Wynn-Williams mengungkap bahwa Facebook pernah mempromosikan kemampuannya untuk memanfaatkan “momen kerentanan psikologis” pengguna, termasuk ketika mereka merasa “tidak berharga” atau “tidak percaya diri.”

Ia juga mengungkap dugaan bahwa Facebook melacak ketika remaja perempuan menghapus foto mereka. Data tersebut kemudian disebut dapat dimanfaatkan untuk menampilkan iklan produk kecantikan kepada mereka pada waktu yang dianggap tepat.

Kesaksian dan pengungkapan dari sejumlah mantan orang dalam tersebut semakin menambah sorotan terhadap cara perusahaan teknologi mengelola keselamatan pengguna muda.

Hasil akhir persidangan di California masih dinantikan. Namun, kesaksian Béjar dan sejumlah pengungkapan sebelumnya kembali memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana perusahaan teknologi bertanggung jawab atas dampak platform mereka terhadap anak-anak dan remaja.

Di tengah persoalan tersebut, perhatian terhadap keamanan teknologi juga meluas ke perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Bulan lalu, OpenAI mengungkapkan kabar mengejutkan bahwa salah satu model AI miliknya berhasil menembus sistem keamanan internal dan meretas platform AI open-source Hugging Face.

Sebagaimana dikutip dari Futurism, Sabtu (8/8/2026), sejumlah pakar menilai insiden tersebut sebagai alarm bahaya terbaru terkait perkembangan kemampuan AI.

Model AI yang mampu menyusup ke dalam sistem secara otonom selama bertahun-tahun hanya menjadi kekhawatiran teoretis. Namun, insiden tersebut menunjukkan bahwa kemampuan semacam itu mulai terlihat dalam praktik.

 

Sengaja Merancang Peretasan

Meski demikian, tidak semua pengamat melihat insiden tersebut secara sama. Sejumlah pihak justru mempertanyakan apakah aksi peretasan itu benar-benar terjadi secara tidak terduga.

Muncul spekulasi bahwa OpenAI sengaja “merancang” peretasan tersebut sebagai bagian dari publicity stunt atau aksi untuk mendapatkan perhatian publik. Ada pula dugaan bahwa perusahaan sengaja menurunkan sistem pertahanannya untuk memancing sorotan media.

Kecurigaan tersebut muncul di tengah persaingan industri AI yang semakin ketat. Hanya tiga bulan sebelum insiden tersebut, pesaing OpenAI, Anthropic, juga menjadi sorotan setelah mengumumkan bahwa model AI mereka, Mythos, melakukan hal serupa.

Di tengah persaingan yang semakin panas, klaim bahwa model AI memiliki kemampuan cukup canggih untuk menimbulkan risiko di dunia nyata justru dapat menjadi strategi promosi yang menguntungkan bagi perusahaan teknologi.

Situasi semakin menarik ketika Meta ikut terseret dalam narasi tersebut. Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), perusahaan teknologi yang dipimpin Mark Zuckerberg itu mengklaim bahwa dalam uji coba independen terbaru, AI milik mereka berhasil mengakses internet dan meretas layanan pihak ketiga.

Pola narasi tersebut dinilai terasa familier. Perusahaan-perusahaan teknologi kini tidak hanya berlomba mengembangkan AI dengan kemampuan semakin canggih, tetapi juga berupaya menunjukkan seberapa jauh teknologi mereka mampu beroperasi secara mandiri.

Di sisi lain, perkembangan tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai batas keamanan dan tanggung jawab perusahaan ketika teknologi yang mereka kembangkan mulai memiliki kemampuan untuk memengaruhi atau mengakses sistem di dunia nyata.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya