Liputan6.com, Jakarta - Produsen kendaraan listrik Nio resmi mengubah strategi bisnis infrastrukturnya melalui anak usahanya, Nio Power. Dalam acara penyerahan resmi di Wuhan, Hubei, Nio menyerahkan kepemilikan tahap pertama sebanyak 36 stasiun pengisian dan penukaran baterai kepada BUMN setempat, Optics Valley Traffic Company.
Dilansir dari laman CarNewsChina, Jumat(21/8/2026), melalui skema “Kepemilikan BUMN + Operasional Nio”, seluruh aset stasiun tukar baterai di Wuhan kini dimiliki oleh mitra modal negara. Sementara itu, Nio Power berfokus sebagai penyedia layanan teknis dan operasional. Langkah asset-light ini memangkas beban fiskal Nio dari tingginya biaya pembangunan infrastruktur.
Advertisement
Langkah ini menjadi krusial mengingat bisnis penukaran baterai membutuhkan modal raksasa. Pembangunan stasiun generasi pertama Nio menelan biaya sekitar 3 juta yuan (senilai Rp 6,5 miliar), sedangkan generasi kedua membutuhkan 2 juta yuan (Rp 4,3 miliar).
Biaya tersebut berhasil ditekan pada stasiun generasi ketiga dan keempat menjadi 1,5 juta yuan (Rp 3,2 miliar) per unit. Hingga saat ini, Nio telah menginvestasikan lebih dari 20 miliar yuan atau Rp 43,5 triliun di bidang teknologi pengisian dan penukaran baterai.
Jaringan Luas dan Model Kerja Sama Efektif
Per 12 Agustus 2026, jaringan nasional Nio mencakup 9.198 stasiun, terdiri dari 4.017 stasiun swap dan 5.181 stasiun pengisian daya yang didukung 29.875 tiang pengisian (charging pile). Jaringan ini telah melayani lebih dari 120 juta kali penukaran baterai dan total 200 juta layanan daya.
Model kerja sama ini telah diperluas ke 25 provinsi dengan menggandeng lebih dari 40 platform BUMN dan lembaga keuangan untuk mengoperasikan lebih dari 800 stasiun swap. Di Shanghai, volume transaksi stasiun bahkan mendekati titik impas (break-even) dengan pesanan harian mendekati 10.000 unit.
Kinerja Keuangan Positif dan Penjualan Melonjak
Efisiensi biaya berdampak positif pada kinerja keuangan korporasi. Pada kuartal IV-2025, Nio membukukan laba bersih 2,8 miliar yuan (setara Rp 6 triliun) dan laba operasional 1,25 miliar yuan (Rp 2,7 triliun).
Tren positif berlanjut pada kuartal I-2026 dengan pendapatan mencapai 25,53 miliar yuan (Rp 55,5 triliun) atau melonjak 112,2% secara tahunan (YoY), serta laba operasional 66,8 juta yuan (Rp 145 miliar). Ini menandai keberhasilan Nio mencetak laba operasional dua kuartal berturut-turut.
Dari sisi volume penjualan, sepanjang Januari hingga Juli 2026, Nio berhasil mengirimkan 227.057 unit kendaraan baru (naik 68,0% YoY). Penjualan ini ditopang oleh merek utama Nio sebanyak 139.496 unit, sub-merek Onvo sebesar 52.618 unit, serta Firefly sebanyak 34.943 unit. Secara kumulatif, total pengiriman kendaraan Nio kini telah menembus 1.224.649 unit.