Liputan6.com, Sikka - Sebanyak tiga desa di Kecamatan Mapitara, Desa Natakoli, Desa Hale, dan Desa Hebing Kabupaten Sikka, NTT, hingga kini masih terisolasi. Satu-satunya jalan penghubung menuju Desa Egon Gahar dan Jalan Negara Trans Flores di Kecamatan Waigete tertutup longsoran material imbas gempa, termasuk batu besar yang tidak dapat diangkat dengan tenaga manusia, sehingga belum bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sekretaris Camat Mapitara, Stefanus Raga, menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores, Kamis (20/8/2026). Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses satu-satunya bagi ketiga desa tersebut untuk menuju ke arah Kota Maumere.
Advertisement
Akibat terputusnya akses tersebut, mobil ambulans dari Puskesmas Mapitara yang hendak merujuk pasien ke RSUD dr. TC Hillers Maumere terpaksa menempuh rute jauh lebih panjang, melewati jalur pesisir Pantai Selatan Flores melalui Kecamatan Doreng, Bole, dan Hewokloang sebelum sampai ke Jalan Negara Trans Flores.
"Kendaraan harus memutar jauh lagi dan jarak tempuhnya lebih lama. Orang pun takut melintasi jalan tersebut karena bisa terkena material longsor sebab daerah tersebut rawan longsor," ujar Stefanus.
Selain ketiga desa tersebut, warga Desa Egon Gahar juga ikut terhambat dan tidak dapat menuju Puskesmas Mapitara maupun Kantor Camat Mapitara, karena akses utama hanya melalui ruas jalan yang tertutup longsor itu.
Pemerintah Kecamatan Mapitara telah melaporkan kondisi ini ke Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores. Stefanus berharap pemerintah Kabupaten Sikka segera mengirimkan alat berat untuk membuka kembali akses jalan tersebut.
"Mudah-mudahan alat berat segera dikirim agar akses transportasi bisa berjalan lancar seperti semula," harapnya.
11.862 Warga Mengungsi
Berdasarkan data di Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di BPBD Kabupaten Sikka jumlah pengungsi Kabupaten Sikka sebanyak 11.862 jiwa yang berasal dari 3285 KK, yang terdiri dari 1203 jiwa dari 324 KK yang mendiami pusat pengungsian Gelora Samador Maumere dan pengungsi mandiri yang tersebar di 7 kecamatan sebanyak 10.659 jiwa dari 2961 KK.
Rincian sebaran pengungsi mandiri setiap kecamatan yaitu Alok 803 KK 2940 jiwa, Alok Barat 201 KK 965 jiwa, Alok Timur 19 KK 66 jiwa, Bola 72 KK 210 jiwa, Hewokloang 54 KK 135 jiwa, Kangae 1036 KK 3213 jiwa, Talibura 409 KK 1812 jiwa, dan Palue 690 KK 2521 jiwa.
Sementara itu data kerusakan rumah warga tercatat sebanyak 2560 yang terdiri dari rusak berat 905 unit, rusak ringan 1173 unit, dan rusak sedang 482 unit. Selain kerusakan rumah warga terdapat 167 unit fasilitas umum yang mengalami kerusakan, antara lain 26 unit bangunan pemerintah, 31 unit fasilitas kesehatan, 47 unit fasilitas pendidikan, 11 ruas jalan, 8 unit prasarana, dan 44 buah rumah ibadah.
Untuk korban jiwa akibat gempa bumi ini berjumlah 61 jiwa yang terdiri dari 6 orang meninggal dunia, 23 orang luka berat, 26 orang luka ringan, dan lainnya 6 orang.