Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan kontribusi bisnis non-farebox mencapai 20–25% terhadap total pendapatan perusahaan pada 2045 melalui optimalisasi aset, teknologi, dan pengembangan bisnis baru.
Saat ini, KAI mencatat sekitar 94% pendapatan perusahaan masih berasal dari bisnis transportasi (farebox), sedangkan bisnis non-farebox baru menyumbang sekitar 6%.
Advertisement
“Skala KAI sudah sangat besar. Tantangan sekaligus peluang berikutnya adalah meningkatkan kontribusi aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru,” kata Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, dikutip Kamis (20/8/2026).
Guna memperbesar sumber pendapatan tersebut, KAI akan mengembangkan empat mesin pertumbuhan yang mencakup aset operasional, aset berwujud, aset berbasis kapabilitas, serta aset teknologi.
KAI memiliki sekitar 327,8 juta meter persegi aset lahan perkeretaapian yang dapat dikembangkan melalui kawasan properti, Transit-Oriented Development (TOD), layanan digital, Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), manufaktur, serta jasa berbasis keahlian perkeretaapian.
“Pertumbuhan ke depan harus lebih produktif. KAI perlu semakin kuat dalam operasi, semakin optimal dalam mengelola aset, dan semakin cepat memanfaatkan teknologi,” ujar Bobby.
Manfaatkan Artificial Intelligence
Strategi tersebut sejalan dengan pertumbuhan basis pelanggan KAI Group yang mencapai 503,5 juta pelanggan pada 2025, atau naik 8,52% dibandingkan 464 juta pelanggan pada 2024.
KAI juga mencatat sekitar 2,8 juta interaksi pelanggan per hari yang menjadi basis utama pengembangan layanan digital dan bisnis berbasis data.
Di samping itu, KAI mulai memanfaatkan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas operasi serta mengoptimalkan kapasitas jaringan perkeretaapian.
Melalui transformasi ini, KAI menargetkan volume penumpang mencapai sekitar 1,4 miliar pelanggan per tahun pada 2045 seiring dengan peningkatan kontribusi bisnis non-farebox ke angka 20–25%.
“Kita perlu bergerak dari menunggu permintaan menjadi menciptakan peluang. Industri yang maju membangun kesempatan, lalu pertumbuhan akan mengikuti,” kata Bobby.
Menuju World-Class Railway Operator
KAI mengarahkan transformasi ini untuk meningkatkan peran kereta api dalam efisiensi transportasi dan logistik, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
“Menuju 2045, KAI menargetkan posisi sebagai world-class railway operator dengan memperkuat produktivitas, memperluas sumber pertumbuhan, dan meningkatkan kontribusi perkeretaapian terhadap konektivitas serta daya saing Indonesia,” tutup Bobby.