Liputan6.com, Jakarta - OpenAI resmi meluncurkan ChatGPT khusus untuk remaja berusia 13 hingga 17 tahun. Perilisan ini berangkat dari pengakuan pimpinan perusahaan Sam Altman yang menyebutkan versi standar kurang aman bagi pelajar.
Perusahaan mengklaim fitur ini didukung proteksi keamanan tingkat tinggi dan secara otomatis akan mengalihkan pengguna di bawah 18 tahun ke versi khusus. Meskipun OpenAI tidak menjelaskan detail mekanisme deteksi tersebut secara mendalam.
Advertisement
Mengutip Futurism, Kamis (20/8/2026), anak di bawah 13 tahun tetap dilarang menggunakan ChatGPT, walaupun pembatasan usia tersebut mudah untuk diterobos.
ChatGPT khusus remaja kini menuai kritik tajam, sebagaimana temuan dari Joshua Nelken-Zitser, Jurnalis Business Insider, batasan dari fitur ini disebut tidak efektif.
Nelken-Zitser menguji coba dengan menggunakan akun fiktif remaja berusia 15 tahun dan meminta chatbot membuat esai 800 kata dari buku The Crucible. Awalnya, chatbot tersebut menolak dan menyarankan pengguna menulis sendiri. Namun, pada akhirnya luluh juga saat didesak dan dimanipulasi.
Chatbot akhirnya menghasilkan esai 608 kata sebelum kembali dipaksa membuat esai 776 kata dengan tingkat detail kedalaman yang sama dengan versi standar.
Tidak hanya itu, ketika diuji untuk menyelesaikan soal aljabar sulit untuk ujian SAT, versi remaja dan standar bisa memberikan jawaban serupa.
Juru bicara OpenAI menyatakan fitur ini masih dalam tahap awal dan akan terus dikembangkan. Tetapi, hasil uji coba ini membuktikan kerentanan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terhadap desakan dan manipulasi.
Peringatan dari Pakar Psikolog
Psikolog kognitif Ronald Kellogg memberi tanggapan terkait hal ini, menyebutkan ketergantungan pelajar pada AI dapat mengikis kemampuan berpikir kritis mereka. Akibatnya, banyak pengajar kembali ke versi konvensional.
Uji coba ini menegaskan keamanan yang digadang-gadang bertingkat tinggi tersebut tidak akan menghentikan kebiasaan remaja meminta AI untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah.
Menurut Shelmerdine fenomena ini mirip seperti makanan olahan bagi tubuh. Jika dibiarkan, nantinya akan melahirkan generasi dengan pikiran serba instan dan tumpul.