Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 71 orang.
Kabar tersebut disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, dalam konferensi pers secara daring, Rabu (19/8/2026). Ia menyebut satu korban meninggal tambahan berasal dari Kabupaten Nagekeo.
Advertisement
"Bahwa jumlah korban ada bertambah satu orang menjadi 71 yaitu di Kabupaten Nagekeo," kata Berton dalam siaran langsung di YouTube BNPB.
Mewakili BNPB dan pemerintah, Berton menyampaikan duka cita mendalam atas bertambahnya korban meninggal dunia.
"Kami segenap pemerintah maupun dari kementerian lembaga yang ada bersama-sama saat ini, mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya keluarga kita yang saat ini ada di tempat-tempat pengungsian maupun daerah terdampak di NTT ini," tutur Berton.
Hampir 60 Ribu Mengungsi
Selain korban meninggal, Berton melaporkan jumlah warga yang mengungsi akibat gempa di NTT. Ia mengatakan penanganan pengungsi menjadi salah satu fokus BNPB karena sebagian masyarakat memilih tidak kembali ke rumah, terutama akibat kondisi bangunan yang rusak dan kekhawatiran terhadap gempa susulan.
Berdasarkan data BNPB, jumlah total pengungsi saat ini mencapai 59.647 orang. Pengungsi terbanyak berada di Manggarai, yakni 20.103 orang, disusul Manggarai Barat sebanyak 19.345 orang.
"Saat ini menurut catatan kami, sebanyak 59.647 orang, dan yang terbanyak ini ada di Manggarai, sebanyak 20.103 pengungsi, dan di Manggarai Barat ada sebanyak 19.345 orang," kata dia.
BNPB terus memastikan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian terpenuhi. Kebutuhan tersebut meliputi makanan, air minum, tempat tinggal sementara, matras dan selimut, layanan kesehatan, sanitasi dan kebersihan, serta kebutuhan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, perempuan hamil, dan penyandang disabilitas.