Liputan6.com, Jakarta - Film baru berjudul Operasi Pesta Copet menceritakan tentang pencopetan dan festival musik besar yakni Pestapora, yang memang benar. Yang membuat penasaran, apakah proses syuting dilakukan saat Pestapora berlangsung?
Ernest Prakasa selaku salah satu produser menjawab pertanyaan ini secara langsung dalam konferensi pers film Operasi Pesta Copet yang diselenggarakan di kawasan Jakarta Selatan pada Rabu, (18/8/2026). Rupanya, adegan dalam film menggabungkan antara footage Pestapora asli dengan adegan yang diambil kala syuting.
Advertisement
“Intinya kita melakukan adegan-adegan pesta pora itu memang mix antara real Pestaporanya dengan adegan yang kita shoot di panggung pesta pora tapi sebelum konsernya dimulai,” jelas Ernest.
Ia juga menambahkan informasi tentang banyaknya pemain figuran yang ikut syuting sebelum konser Pestapora dimulai.
“Dengan 500 ekstra jadi kita create seolah-olah itu memang, untuk secara editing dikawinkan dengan footage real pesta Poranya gitu,” lanjutnya.
Nama 500 ekstra yang terlibat dalam proses syuting ini pun ditulis di credits film Operasi Pesta Copet. Iqbaal selaku produser dan pemeran Ijal di film itu ikut menanggapi keseriusan Imaginary dalam menulis credit.
Pandangan Iqbaal Ramadhan tentang Imaginary
Dalam press conference itu, Iqbaal menyampaikan bahwa rumah produksi Imaginary sangat menghargai orang-orang yang terlibat. Bahkan aktor berbakat ini sampai menyebut bahwa Imaginary adalah salah satu yang terbaik.
“Gua mau ngasih fun fact dikit ya. Imaginary itu sangat sangat fokus terhadap credits teman-teman, karena mereka sangat menghargai semua orang yang terlibat. Jadi 500 itu benar-benar sangat diperhatikan sehingga ketika ada kesalahan, harus diulang lagi. Itu kenapa akhirnya Imaginary mungkin jadi salah satu yang terbaik karena semua kredit itu sangat-sangat di pikirkan,” jelas Iqbaal.
Keinginan Ernest Prakasa
Sementara itu sebagai produser, Ernest berkeinginan agar penonton merasakan suguhan yang fresh dan jarang di Indonesia.
“Cita-cita kalau gua pribadi ya, pengennya orang keluar tuh pengen ngerasa kalau ini tuh suguhan yang fresh gitu. Nekat, fresh, menyegarkan, berani, sebuah sajian yang mungkin jarang bisa ditemuin di bioskop Indonesia,” kata Ernest.