AI vs Ilustrator, Alasan Karya Manusia Tetap Punya Karakter

AI tak mudah gantikan suatu karya seni karena pengalaman, kreativitas, dan karakter personal ilustrator menjadi bagian penting dalam setiap karya.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 20 Agustus 2026, 14:00 WIB
Ratu Fesia dari Brand Red Nation membagikan perbedaan karya sendiri dengan AI, saat acara TERASI 2026 (Teras Inspirasi), Jumat (7/8/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk dunia kreatif. Teknologi ini mampu menjalankan sejumlah tugas yang sebelumnya membutuhkan kemampuan kognitif manusia, mulai dari menganalisis data hingga mengenali pola dan menghasilkan gambar dalam waktu singkat.

Kehadiran AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas belajar, mengolah informasi, memberikan rekomendasi film, bahkan membantu mengambil keputusan.

Dalam dunia visual, AI juga menawarkan kemudahan untuk menciptakan gambar dengan beragam gaya hanya melalui perintah tertentu. Meski begitu, kemajuan teknologi tidak lantas membuat karya ilustrator kehilangan tempat.

Hal tersebut terlihat dari pandangan para ilustrator yang hadir dalam Teras Inspirasi (TERASI) 2026. Bagi mereka, karya manusia memiliki nilai yang tidak hanya terletak pada hasil visual, tapi juga pengalaman dan proses kreatif di baliknya.

Ilustrator Ratu Fesia dari brand Red Nation mengatakan, pengalaman menjadi salah satu hal yang membedakan karya ilustrator dengan gambar yang dibuat AI. "Kalau kita ilustrasi sendiri, itu sama aja kita menggabungkan pengalaman kita, pengetahuan kita, AI nggak punya itu,” katanya saat ditemui di TERASI 2026 di Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.

Menurut Ratu, AI bekerja berdasarkan pengetahuan yang telah tersedia, sedangkan ilustrator membawa pengalaman, pengetahuan, serta sudut pandang pribadi ke dalam setiap karya. Proses tersebut membuat ilustrasi manusia terasa lebih personal karena memiliki cerita, karakter, dan identitas yang merepresentasikan pembuatnya.

Kehadiran teknologi pun dapat dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti kreativitas manusia.

Ciri Khas Karya

Amel dari Brand Extrocats membagikan perbedaan karya sendiri dengan AI, saat acara TERASI 2026 (Teras Inspirasi), Jumat (7/8/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Perkembangan AI tidak membuat Ratu merasa perlu meninggalkan proses menggambar secara manual. Ia justru melihat adanya perbedaan antara gambar yang dihasilkan teknologi dan karya yang lahir dari pengalaman seorang ilustrator.

Menurutnya, proses kreatif manusia menghadirkan perspektif, serta karakter personal yang terbentuk dari perjalanan masing-masing. Pandangan serupa disampaikan Amel dari brand Extrocats yang menilai kemampuan menciptakan karya secara mandiri menjadi salah satu kekuatan ilustrator.

"Karena kita bisa sendiri, kita bisa bikin karya terus juga kita itu lebih ke generatif, ada ciri khas sendiri," ucapnya di kesempatan yang sama.

Menurut Amel, ciri khas menjadi bagian penting dalam proses berkarya karena membuat setiap ilustrasi memiliki identitas. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, ilustrator tetap dapat mempertahankan keunikan tersebut melalui pengalaman, gaya visual, dan kebiasaan menggambar yang menjadi bagian dari proses kreatif mereka.

Perkuat Karakter Ilustrasi

Irene Umar hadir membuka TERASI 2026 dan menyoroti pentingnya ruang kreatif bagi perkembangan ilustrator lokal, Jumat (7/8/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

 

Menurut Ratu, pengalaman personal bukan satu-satunya unsur yang dapat memperkuat karakter sebuah ilustrasi. Kekayaan budaya Indonesia juga memberikan ruang luas bagi ilustrator untuk menciptakan karya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Beragam motif, tradisi, hingga karakter lokal dapat diolah dan dipadukan dengan karakter orisinal sehingga menghasilkan visual yang memiliki identitas kuat. "Jadi kayak memang mengkombinasikan karakter yang kita punya, original karakter, dengan kebudayaan yang ada di sekitar kita sehari-hari," kata Ratu.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat karya ilustrasi tidak hanya memiliki ciri khas dari sisi visual, tapi juga membawa unsur yang akrab bagi masyarakat. Humor lokal menjadi salah satu elemen yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kedekatan tersebut.

Dengan mengangkat hal-hal yang familiar, ilustrasi dapat terasa lebih relevan sekaligus merepresentasikan kehidupan dan karakter masyarakat Indonesia.

Budaya Lokal Jadi Sumber Inspirasi

Budaya lokal ikut dituangkan dalam acara TERASI 2026 (Teras Inspirasi) agar tidak bisa diganti oleh AI, Jumat (7/8/2026). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Amel memilih mengangkat pengalaman dan budaya Indonesia sebagai bagian dari proses kreatifnya. "Aku ekspresiin diri aku atau masa lalu aku lewat Indonesia juga kan banyak juga kayak kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang perlu kita naikin dulu," ujar dia.

Sementara itu, Ratu menemukan inspirasi dari hal-hal yang dekat dengan kesehariannya. "Kalau aku dari hobi sih, kayak misalkan aku suka nonton sesuatu. Jadi karena aku senang dan aku kebetulan bisa gambar, jadi akhirnya aku memanfaatkan itu," katanya.

Penggunaan istilah, kebiasaan, atau situasi yang familiar dapat menciptakan kedekatan dengan audiens. Bagi para ilustrator, inspirasi tidak selalu datang dari tren visual, tapi juga budaya, hobi, lingkungan, dan pengalaman yang kemudian diolah menjadi karya berkarakter.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya