Menyoal Etika Mereka yang Pasang Badan Biar Parkiran Tak Diserobot Orang

Tempat kosong diklaim sebelum mobil datang, cerita para pengendara punya cara berbeda.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 19 Agustus 2026, 06:00 WIB
Tempat parkir salah satu apartemen yang tersambung langsung dengan mal. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

Liputan6.com, Jakarta - Memilih mengalah bukan berarti kalah. Ungkapan tersebut mungkin cocok menggambarkan sebagian pengendara yang memilih tidak memperpanjang persoalan ketika menemukan orang yang melakukan tag atau mengklaim tempat parkir meski kendaraannya belum terlihat.

Sebagian orang memilih mengalah bukan karena takut, melainkan enggan menghabiskan energi untuk berdebat. Mereka akhirnya mencari tempat parkir lain demi menghindari keributan.

Hal itulah yang terjadi pada Kia. Warga Cibubur, Jakarta Timur ini pernah beberapa kali mengalami kejadian kurang mengenakkan saat hendak parkir mobil.

Kia pernah mengira sebuah tempat parkir kosong. Namun, ketika mobilnya hendak masuk, ternyata sudah ada seseorang yang berdiri di lokasi tersebut untuk mengklaim tempat parkir.

Saat itu, Kia menyetir sendiri bersama seorang temannya. Karena malas ribut, dia akhirnya memilih mencari tempat parkir lain.

"Pernah waktu itu di Kelapa Gading. Kirain kosong, pas mau parkir, taunya ada bapak-bapak tua gitu lagi berdiri," cerita Kia kepada Liputan6.com, Rabu (19/8/2026).

Menurut Kia, dia juga tak tega dengan si bapak mau berdiri dan menunggu mobilnya yang entah dikendarai siapa untuk parkir. Dia dan temannya juga sudah melihat-lihat apakah ada petugas parkir atau satpam, tapi nihil.

"Kasihan aja sih, kan bapaknya juga sudah tua, terus mau effort berdiri, jadi ya nothing to lose aja cari parkiran lain," ucap Kia.

Pengalaman serupa juga dialami Kia ketika mengunjungi sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan.

"Pernah juga kok pas ke mall, kirain kosong, eh pas mau parkir, ada ibu-ibu. Kan mal itu cukup besar ya, kaget aja kok sebegitunya buat parkir. Ya sudah kita cari parkir lain," sambung Kia.

Kia mengatakan, pergi ke mal seharusnya menjadi kesempatan untuk bersantai sehingga tidak perlu terburu-buru mencari tempat parkir. Menurut dia, jika satu tempat penuh, masih ada lokasi lain yang bisa dicari.

Dia juga pernah mengalami kejadian serupa di sebuah apartemen yang terhubung dengan mal di kawasan Jakarta Timur. Kia yang pernah tinggal di apartemen tersebut mengaku beberapa kali bertemu dengan orang yang melakukan tag parkir.

"Malah di apartemen yang nempel mal tuh sering. Karena mungkin ngerasa penghuninya, dia bilang 'ini tempat parkir saya'. Karena males ribut, ya sudah akhirnya cari tempat parkir lain," cerita Kia.

Tak Ketemu Tukang Parkir

Tempat parkir salah satu apartemen yang tersambung langsung dengan mal. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

Cerita lain datang dari Warda. Menurut dia, kejadian itu sekitar tahun 2025 di sebuah mal di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

"Karena kondisi lagi ramai, gue sampai harus muter-muter beberapa kali buat cari tempat parkir yang kosong. Lumayan capek juga karena muter terus, sementara parkiran penuh," kata Warda.

Setelah berkeliling beberapa kali, Warda akhirnya melihat sebuah tempat parkir kosong. Namun, ternyata ada seseorang yang berdiri di lokasi tersebut.

"Kayaknya cowoknya atau siapa, gue juga kurang tahu, mungkin memang lagi muter-muter cari parkiran juga. Tapi karena gue sudah keliling dan kebetulan tempatnya kosong, gue mau coba ngotot buat parkir di situ," ucap Warda.

Warda kemudian menyampaikan kepada orang tersebut bahwa dirinya sudah lama berkeliling mencari tempat parkir.

"Gue bilang kurang lebih, 'Gue udah muter dari tadi, mau parkir di sini'. Tapi dia bilang kalau tempat itu sudah dia dapat duluan. Jadinya ribut kecil dan malah jadi panjang urusannya. Gue juga sudah capek cari parkiran, dia juga merasa sudah duluan dapat tempatnya," sambung dia.

Warda yang enggan semakin ribet dan menjadi masalah, akhirnya mengalah tidak parkir di tempat tersebut. Dia juga sempat mencari satpam atau tukang parkir yang berjaga, hasilnya pun nihil.

Sejak kejadian tersebut, Warda memilih menggunakan jasa valet parking ketika mengetahui kondisi mal sedang ramai.

"Jadi enggak perlu lagi muter-muter lama cari parkiran atau berurusan sama orang yang sudah berdiri di tempat kosong. Memang harus bayar lebih, tapi menurut gue lebih tenang dan nggak bikin capek atau ribut gara-gara tempat parkir," tutup Warda.

 

Sempat Ribut, Tapi Akhirnya Mengalah

Tempat parkir salah satu apartemen yang tersambung langsung dengan mal. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

Pengalaman berbeda diceritakan Ulung saat bersama istri dan anaknya berjalan-jalan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Saat itu, Ulung hendak mencari tempat parkir. Karena kondisi cukup ramai, dia mengaku kesulitan menemukan lokasi yang kosong.

"Bulan Juni kejadiannya. Pas gue lagi cari parkir kan itu muter ke atas ke gedung parkir, nah memang penuh posisinya. Gue sempet naik turun intinya dan sampai di lantai gw nemu ada parkiran kosong," kata Ulung.

"Tapi kalau lo tahu di Blok M kan ada sisi kanan yang buntu buat parkir, gue ngelihat dari bawahnya kosong jadi gue belokin. Dilalahnya pas gue belok ada anak muda umur 20-an mungkin sudah berdiri di situ," sambungnya.

Ulung sempat tidak memedulikan orang tersebut dan tetap memundurkan mobil untuk parkir. Namun, pemuda itu kemudian mengetuk jendela mobil dan mengatakan bahwa tempat tersebut sudah diklaim.

Ulung akhirnya memilih mengalah karena tidak ingin terjadi keributan di depan anaknya.

"Gue enggak peduli, gue mundurin aja. Eh diketok bilang sudah ada yang parkir. Ya intinya gue ribut kayak di video, cuma di sini posisinya gue malas karena bawa anak gue dua, kan kalau ribut enggak bagus. Akhirnya gue ngalah aja," ucapnya.

Ulung menceritakan saat itu memang ada petugas parkir. Namun dia menyayangkan petugas tersebut tidak menjadi penengah dan justru membiarkan praktik tag parkir.

"Cuma yang gue point out adalah kenapa petugas parkir yang ada di situ enggak bisa nengahin. Gue ngalah juga karena enggak kondusif aja, gue enggak tahu kenapa dia enggak nengahin, bisa jadi ada kongkalikong kali ya, tapi enggak tahu karena enggak terbukti juga," tutup Ulung.

Sempat Jadi Tag Parkir

Cerita berbeda datang dari Anggun. Dia justru mengaku pernah menjadi orang yang melakukan tag parkir.

Kejadian itu berlangsung sekitar 10 tahun lalu ketika Anggun masih duduk di bangku SMA. Saat itu, dia bersama ibunya hendak berbelanja kebutuhan rumah tangga di sebuah mal di Batam.

"Jadi itu kejadian saya SMA. Di sebuah mal di Batam, pas akhir pekan kalau tidak salah. Ya biasalah ibu dan anak ini ingin berbelanja kebutuhan rumah tangga, tapi ternyata mal lagi ramai banget, parkiran penuh," kata Anggun.

Setelah berkeliling dan tidak menemukan tempat kosong, Anggun melihat sebuah lokasi parkir yang tersedia. Ibunya kemudian meminta Anggun turun dari mobil dan berdiri di tempat tersebut agar tidak ditempati kendaraan lain.

"Sudah keliling-keliling, enggak nemu-nemu spot kosong, terus pas lewat, ada tuh spot kosong. Nah, ibunda nyuruh saya keluar mobil, berdiri di spot yang kosong, istilah sekarang mah nge-tag tempat. Tujuannya agar tidak ditempati mobil lain," sambungnya.

Anggun mengaku saat itu melakukan hal tersebut karena mengikuti permintaan ibunya. Dia juga menyadari bahwa praktik tersebut tidak tepat.

"Motivasi saya melakukan itu dulu, murni supaya tidak jadi anak durhaka, serta kurangnya edukasi dan kepekaan sosial. Tapi dulu, di Batam hal itu cukup umum dilakukan, sekarang mungkin sudah enggak pernah," kata dia.

"Sekarang saya sudah tobat, sudah sadar kalau itu salah. Semoga bisa menjadi pembelajaran bersama," tutup Anggun.

 

Sulit Temukan Tukang Parkir

Tempat parkir salah satu apartemen yang tersambung langsung dengan mal. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

Tim Liputan6.com juga mencoba mendatangi sejumlah mal untuk melihat kondisi parkir dan mencari tahu keberadaan petugas.

Di salah satu mal di kawasan Jakarta Timur, area parkir terlihat ramai meski masih terdapat sejumlah tempat kosong.

Saat berbincang dengan seorang satpam, dia mengatakan kondisi parkir di lokasi tersebut relatif aman karena pengunjung bebas memilih tempat yang tersedia. Tim Liputan6.com juga tidak menemukan petugas parkir yang berjaga di area tersebut.

"Di sini enggak pernah sih ada ribut tempat parkir. Kan bisa parkir di mana saja, tempatnya banyak juga," kata satpam tersebut.

Kondisi tidak jauh berbeda terlihat di mal lain yang terkoneksi langsung dengan apartemen. Area parkir tampak cukup penuh, tetapi tidak terlihat satpam maupun petugas parkir yang berjaga.

Hanya terdapat sebuah spanduk yang mengatur ketentuan parkir paralel.

"1. Dilarang menggunakan rem tangan saat parkir paralel.

2. Pastikan persneling dalam keadaan netral. Pelanggaran dikenakan denda minimal Rp250.000 hingga pencabutan member parkir," demikian bunyi spanduk tersebut.

 

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya