Apakah Keputusan LG Setop Produksi HP Jadi Langkah Tepat?

Sepanjang sejarahnya, LG meluncurkan sejumlah HP ikonik yang cukup laris. Lantas, apakah keputusan perusahaan setop jual ponsel merupakan langkah tepat?

oleh IskandarDiterbitkan 19 Agustus 2026, 06:30 WIB
LG V30+, flagship smartphone LG untuk pecinta entertainment di Indonesia (Liputan6.com/ Agustin Setyo W)

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan LG melambaikan bendera putih di industri smartphone pada 31 Juli 2021 menandai akhir dari perjalanan panjang raksasa teknologi asal Korea Selatan ini.

Selama bertahun-tahun, LG telah mengeksplorasi berbagai sistem operasi--mulai dari platform berbasis Adobe Flash, Windows Mobile, Symbian, hingga Android.

LG sebenarnya bukan pemain baru yang minim inovasi. Sepanjang sejarahnya, mereka meluncurkan sejumlah produk ikonik. Pada 2006, perusahaan merilis LG Prada, ponsel pintar pertama di dunia dengan layar sentuh kapasitif yang berhasil mendahului iPhone.

Selain itu, ponsel Android LG G3 mencatatkan rekor penjualan tertinggi dalam sejarah perusahaan dengan menembus angka lebih dari 10 juta unit secara global. Demikian sebagaimana dikutip dari BGR, Rabu (19/8/2026).

Meskipun sempat menguasai posisi ketiga di pasar Amerika Utara dengan pangsa sekitar 10%, posisi LG di tingkat global justru merosot tajam. Pada 2020, LG berada di peringkat kesembilan dengan pangsa pasar global hanya sebesar 2%.

Data Counterpoint Research mencatat, LG hanya mampu mengapalkan 7,6 juta unit smartphone pada kuartal IV 2020. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Apple yang memimpin dengan 81,9 juta unit, serta Samsung (62,5 juta unit) dan Xiaomi (43 juta unit).

Penurunan volume pengiriman ini berdampak langsung pada keuangan perusahaan. Menurut laporan Reuters, divisi seluler LG membukukan kerugian operasional selama hampir enam tahun berturut-turut hingga 2021, dengan total kerugian mencapai sekitar USD 4,5 miliar (sekitar Rp 80,4 triliun).

 

Persaingan Sengit dan Perubahan Fokus Bisnis

LG terjepit di berbagai lini pasar. Di kelas menengah dan premium, mereka harus berhadapan langsung dengan Apple dan Samsung.

Sementara di segmen entry-level, merek-merek asal Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo secara agresif merusak harga pasar. Situasi semakin sulit karena divisi seluler hanya menyumbang sekitar 7% dari total pendapatan grup LG.

Sebelum memutuskan mundur total, LG sempat bernegosiasi untuk menjual sebagian bisnis selulernya ke konglomerat asal Vietnam, Vingroup--induk dari produsen kendaraan listrik VinFast. Namun, kesepakatan tersebut batal terealisasi.

LG akhirnya memutuskan alokasi sumber daya secara menyeluruh ke sektor yang lebih prospektif.

"Keputusan strategis LG untuk keluar dari sektor ponsel yang sangat kompetitif akan memungkinkan perusahaan memfokuskan sumber daya pada area pertumbuhan lain, seperti komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung, smart home, robotik, kecerdasan buatan (AI), solusi B2B, serta platform dan layanan," ungkap manajemen LG dalam pernyataan resminya saat itu.

 

Langkah Tepat Berbuah Manis

Melihat ke belakang, keputusan keluar dari bisnis smartphone terbukti menjadi langkah yang sangat tepat. Sektor-sektor baru yang digarap LG menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Divisi komponen kendaraan listrik LG telah mengantongi pesanan dengan nilai fantastis, mencapai KRW 90 hingga 100 triliun (sekitar USD 75 miliar).

Angka ini menjamin stabilitas pendapatan perusahaan untuk beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, lini bisnis B2B juga berkinerja positif dengan menyumbangkan sekitar 36 persen dari total pendapatan perusahaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya