Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau di Pulau Sebesi

Kondisi tersebut dirasakan sekira tiga hingga lima hari terakhir.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 18 Agustus 2026, 13:24 WIB
Warga Pulau Sebesi bersihkan debu vulkanik Anak Krakatau

Liputan6.com, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mulai dirasakan warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa. Abu vulkanik yang terbawa angin dalam beberapa hari terakhir bahkan masuk ke rumah-rumah warga.

Pemerintah Desa Pulau Sebesi, Riko Iswanto, mengatakan warga sejauh ini tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Namun paparan abu vulkanik mulai mengganggu kenyamanan sehari-hari.

"Kalau kondisi ya kita biasa-biasa saja, normal. Cuma hanya sedikit terganggu. Tidak panik," kata Riko saat dikonfirmasi Liputan6.com, Selasa (18/8/2026).

Menurut Riko, warga kini mulai terbiasa menggunakan masker dan kacamata ketika keluar rumah. Kondisi tersebut dirasakan sekira tiga hingga lima hari terakhir.

"Kalau kemarin erupsinya memang sudah lama, tapi anginnya belum mengarah ke Sebesi. Sekarang kurang lebih tiga sampai lima hari ini abu lari ke arah Sebesi," jelasnya.

Riko menuturkan, arah angin selatan membuat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbawa menuju Pulau Sebesi.

Dampaknya mulai terlihat di dalam rumah. Debu vulkanik tidak hanya menempel di halaman, tetapi juga masuk ke ruang-ruang tempat tinggal warga.

"Di rumah saya juga sama. Di kasur itu sudah ngeres semua. Tempat tidur saja sudah ngeres," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah. Dalam sehari, warga bisa berkali-kali menyapu karena abu kembali menempel setelah dibersihkan.

"Sedikit-sedikit ada abu lagi, disapu lagi. Memang sudah mulai terasa," kata Riko.

Ia mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu, terutama saat warga beraktivitas di luar rumah menggunakan sepeda motor.

"Kalau kita tidak pakai masker, tidak pakai kacamata, sedikit terganggu. Di rumah juga agak tidak nyaman karena sudah mulai ada abu," tuturnya.

Riko menyebut paparan abu vulkanik paling terasa pada siang hari. Saat warga beraktivitas di luar rumah, debu lebih mudah terlihat dan dirasakan.

"Kalau yang paling (parah debunya) itu siang. Siang dia," ujarnya.

Menurut dia, pada malam hari aktivitas warga memang berkurang. Namun, abu yang sudah masuk ke rumah tetap terasa ketika warga beristirahat.

"Kalau malam aktivitas tidak seberapa, tapi sudah terasa ada di dalam. Tidur di kamar saja terasa ngeres," katanya.

Meski abu vulkanik mulai mengganggu, Riko memastikan warga belum mendengar suara gemuruh dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau secara langsung.

"Kalau secara pribadi tidak terdengar. Sejauh ini kita tidak pernah dengar," ujarnya.

Riko mengatakan, kondisi serupa dirasakan mayoritas warga di Dusun 3 Pulau Sebesi. Di wilayah tersebut terdapat sekitar 250 kepala keluarga (KK).

"Di Dusun 3 ini 250-an KK. Itu memang hampir sama," sebutnya.

Pulau Sebesi sendiri terdiri dari empat dusun. Dari seluruh wilayah tersebut, Dusun 3 merupakan kawasan yang paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau sehingga dampak abu vulkanik lebih terasa.

"Yang memang lebih dekat dengan Gunung Krakatau itu Dusun 3," ujar Riko.

Ia menyebut Dusun 3 juga menjadi salah satu wilayah yang terdampak ketika tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau terjadi pada 2018.

Pengalaman bencana pada 2018 membuat warga Pulau Sebesi kini lebih waspada terhadap setiap aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Riko mengatakan, sebelum kejadian tersebut, masyarakat cenderung santai ketika mendengar informasi mengenai erupsi. Namun, kondisi berubah setelah tragedi 2018.

"Makanya semenjak 2018 masyarakat kita sudah mulai panik. Sudah tidak seperti dulu," ungkapnya.

Menurut dia, keberadaan media sosial juga membuat informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebar sangat cepat. Kondisi itu terkadang membuat warga lebih mudah khawatir.

 

Warga Pulau Sebesi bersihkan debu vulkanik Anak Krakatau

"Sekarang masyarakat gampang melihat media sosial. Sedikit-sedikit, 'Wah begini', jadi panik," ujarnya.

Bahkan, suara ombak yang sebenarnya biasa terdengar di Pulau Sebesi terkadang membuat warga khawatir karena teringat pengalaman bencana sebelumnya.

"Suara ombak yang memang biasa besar, masyarakat mulai panik. Istri juga sering bilang, 'Coba lihat, kayaknya ombaknya agak besar'," tutur Riko.

Meski demikian, Riko memastikan warga Pulau Sebesi tetap mendapatkan informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pemerintah dan petugas terkait telah memberikan imbauan serta pembaruan kondisi melalui jaringan komunikasi kebencanaan dan media sosial.

"Kita memang punya grup BPBD, di Destana. Jadi sering dikasih informasi, level begini, level Siaga dan sebagainya. Kita tetap waspada," katanya.

Warga juga dapat mengakses informasi dari berbagai kanal resmi pemerintah, termasuk informasi dari BMKG dan BPBD.

Menurut Riko, kemudahan akses informasi membuat masyarakat bisa mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan cepat.

"Kalau sekarang semuanya sudah di media sosial. Dari BMKG, BPBD, maupun kabupaten terus membagikan informasi," ujarnya.

Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, warga Pulau Sebesi memilih tetap beraktivitas seperti biasa sembari meningkatkan kewaspadaan.

Riko berharap masyarakat tidak mudah panik, tetapi tetap mengikuti informasi dan imbauan resmi terkait kondisi gunung api tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya