Liputan6.com, Jakarta - Ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Marco Rubio menyarankan dunia mencari jalur pelayaran baru untuk menghindari tersendatnya pelayaran di Selat Hormuz, kemungkinan besar ia tidak sedang membayangkan Northern Sea Route (NSR) atau Rute Laut Utara di Arktik.
Mengutip laporan The Guardian, dalam beberapa bulan terakhir jalur sepanjang 5.500 kilometer yang membentang di sepanjang pesisir utara Rusia itu semakin menarik perhatian. Jepang, Korea, dan India telah menyatakan minat untuk mengirim kargo melalui Rute Laut Utara.
Advertisement
China melangkah lebih jauh. Perusahaan pelayaran Sea Legend baru-baru ini membuka layanan peti kemas reguler melalui Arktik, menjadikannya layanan kargo komersial terjadwal pertama di jalur tersebut.
Perkembangan itu muncul ketika ketegangan di Timur Tengah kembali menunjukkan betapa rentannya jalur perdagangan dunia yang melewati Selat Hormuz dan Terusan Suez terhadap konflik regional.
Bagi China dan Rusia, kondisi tersebut membuat NSR semakin menarik sebagai jalur alternatif. Rute ini bahkan dapat memangkas waktu perjalanan antara China dan Eropa hingga lebih dari separuh untuk sejumlah kapal.
Namun, perjalanan yang lebih singkat bukan berarti NSR sudah siap menggantikan Selat Hormuz atau Terusan Suez. Di balik potensinya, jalur Arktik masih menghadapi persoalan besar, mulai dari risiko lingkungan dan keselamatan hingga biaya tinggi, sanksi terhadap Rusia, serta masa pelayaran yang terbatas.
China Mulai Uji Potensi Rute Arktik
NSR melintasi Lingkar Arktik di sepanjang pesisir utara Rusia. Jalur ini hanya dapat dilayari pada bulan-bulan yang lebih hangat, tetapi masa pelayarannya semakin panjang seiring menyusutnya es laut pada musim panas.
Kondisi itu membuka peluang yang sebelumnya sulit dibayangkan. Setelah melakukan satu pelayaran percobaan pada 2025, Sea Legend kini membuka layanan peti kemas reguler melalui jalur tersebut.
Menurut Li Xiaobin, Chief Operating Officer Sea Legend, perjalanan langsung dari Ningbo-Zhoushan di China menuju Felixstowe di Inggris dapat ditempuh hanya dalam 18 hari. Sebagai perbandingan, perjalanan melalui Terusan Suez membutuhkan waktu lebih dari 40 hari.
Waktu tempuh yang jauh lebih singkat itu dinilai menguntungkan untuk jenis kargo tertentu. Para pakar menyebut NSR cocok untuk mengangkut barang yang sensitif terhadap perubahan suhu, seperti kendaraan listrik, baterai litium, dan produk tenaga surya. China merupakan salah satu eksportir utama dunia untuk produk-produk tersebut.
Karena itu, operasi Sea Legend akan menjadi ujian penting bagi ambisi China di Arktik. Pertanyaannya adalah apakah jalur tersebut benar-benar dapat dikembangkan menjadi rute perdagangan reguler antara China dan Eropa.
Ambisi itu bukan hal baru. Pada 2017, Presiden China Xi Jinping secara terbuka menyerukan agar China dan Rusia mengembangkan jalur pelayaran Arktik sekaligus membangun apa yang disebut sebagai "Jalur Sutra Kutub".
Rusia pada awalnya berhati-hati terhadap semakin besarnya kehadiran China di Arktik. Moskow menguasai sebagian besar Rute Laut Utara dan memegang peran penting dalam pengoperasiannya.
Namun, setelah invasi skala penuh ke Ukraina, Rusia semakin bergantung pada China di kawasan utara tersebut. Kondisi itu memberi Beijing pengaruh dan akses yang lebih besar.
Perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom, menerbitkan izin pelayaran dan mengawasi aktivitas kapal di sepanjang NSR. Rosatom juga menyediakan kapal pemecah es bertenaga nuklir yang dibutuhkan untuk mendampingi sebagian besar kapal yang melintasi jalur tersebut.
Perjalanan Lebih Singkat, Risiko Lingkungan Lebih Besar
Keuntungan dari sisi waktu tempuh juga disertai risiko lingkungan yang serius.
Sea Legend menyebut rute Arktik dapat memangkas emisi sekitar separuh karena perjalanan antara China dan Eropa menjadi lebih singkat. Namun, para pakar memperingatkan bahwa risiko lingkungan di sepanjang rute dapat dengan mudah menghapus manfaat tersebut.
Salah satu kekhawatiran utama berkaitan dengan penggunaan heavy fuel oil (HFO) atau bahan bakar minyak berat. Sejumlah perusahaan pelayaran telah dikritik karena mengoperasikan kapal yang menggunakan bahan bakar tersebut, meski penggunaannya di Arktik telah dilarang sejak 2024.
Menurut laporan Bellona Environmental Foundation pada 2025, tumpahan HFO dapat menimbulkan bahaya besar di Arktik. Bahan bakar tersebut lebih kental dibandingkan jenis bahan bakar lain sehingga lebih sulit dibersihkan.
Masalahnya semakin besar di wilayah bersuhu sangat rendah. Minyak terurai lebih lambat dalam cuaca dingin dan hampir mustahil dibersihkan jika sudah terperangkap di dalam es.
Letak NSR yang terpencil juga membuat penanganan kecelakaan jauh lebih sulit. Bellona menilai Rusia sama sekali belum siap menghadapi bencana tumpahan minyak jika hal itu terjadi.
Panjang jalur dan keterpencilan kawasan membuat tim khusus penanganan tumpahan dapat membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mencapai lokasi kejadian.
"Karena wilayah ini sangat terpencil dan dukungan logistiknya terbatas, kemungkinan terjadinya kerusakan mesin berkepanjangan yang kemudian menyebabkan kapal kandas jauh lebih tinggi. Kondisi ini menimbulkan risiko tumpahan minyak di ekosistem yang rapuh," tutur Kapten Nitin Chopra, konsultan utama risiko kelautan Allianz untuk Asia.
Selain tumpahan minyak, Bellona juga menyoroti karbon hitam, salah satu emisi yang dihasilkan dari penggunaan HFO.
Karbon hitam merupakan penyerap radiasi matahari yang sangat kuat. Ketika mengendap di kawasan Arktik, zat tersebut dapat mengurangi kemampuan permukaan es memantulkan sinar matahari.
Akibatnya, kawasan tersebut menyerap lebih banyak panas, yang pada akhirnya dapat memperparah pemanasan global.
Ambisi Rusia di Rute Laut Utara
Meski risikonya besar, dorongan untuk mengembangkan NSR justru semakin kuat di tengah ketegangan geopolitik.
Li Xiaobin mengatakan bulan ini bahwa krisis di Timur Tengah telah menunjukkan betapa rentannya Terusan Suez dan Selat Hormuz terhadap gejolak kawasan. Menurut dia, situasi tersebut semakin menegaskan perlunya jalur perdagangan alternatif antara China dan Eropa.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan pandangan serupa. Moskow ingin mendorong NSR sebagai bagian dari upaya mengubah peta perdagangan dunia.
Namun, kendali Rusia atas jalur tersebut juga menjadi sumber kekhawatiran bagi banyak operator pelayaran. Sebagian besar NSR berada di zona ekonomi eksklusif Rusia.
Risiko itu semakin besar karena Rusia masih menghadapi sanksi internasional setelah invasi ke Ukraina.
Allianz Commercial dalam laporan keselamatan dan pelayaran 2026 menyebut sanksi tersebut dapat mempersulit operasi penyelamatan jika sebuah kapal mengalami masalah dan membutuhkan bantuan.
Untuk saat ini, sebagian besar lalu lintas di sepanjang NSR juga belum berasal dari layanan komersial reguler seperti Sea Legend. Banyak kapal yang melintasi jalur tersebut justru merupakan bagian dari armada bayangan Moskow.
Armada bayangan merujuk pada kapal-kapal tanker yang kerap beroperasi tanpa asuransi atau pengawasan aturan yang memadai. Kapal-kapal itu melakukan pelayaran tidak tetap untuk menghindari sanksi terhadap minyak Rusia.
"Pada 2025 terdapat seratus kapal semacam itu yang dikenai sanksi internasional, atau hampir sepertiga dari kapal kargo yang berlayar di rute tersebut," tulis Ksenia Vakhrusheva dari Bellona dalam sebuah laporan tahun lalu.
Pada 2026, sejumlah laporan menunjukkan pengiriman menggunakan armada bayangan melalui NSR berlangsung semakin cepat. Salah satu penyebabnya adalah kondisi musim panas yang lebih ringan, sehingga pelayaran di kawasan tersebut menjadi lebih mudah.
Perubahan iklim bahkan dapat memperpanjang masa NSR bisa dilayari.
"Dengan perubahan iklim saat ini, kita mungkin akan melihat Rute Laut Utara terbuka untuk pelayaran komersial dalam waktu yang lebih panjang setiap tahunnya," ungkap Vinh Thai, profesor logistik dan manajemen rantai pasok di RMIT University.
Menurut Thai, sudah ada sejumlah bukti bahwa perubahan tersebut mulai terjadi.
Pada Mei, sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Rusia dapat mulai melintasi jalur tersebut lebih awal karena es laut musim panas semakin menyusut.
Dalam sepekan terakhir, para pengamat kapal juga melihat konvoi tanker Rusia dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya mengambil jalur yang sangat jauh ke utara melalui NSR.
Armada tersebut dilaporkan mengangkut sekitar 8 juta barel minyak dan melintas dalam jarak sekitar 500 mil dari Kutub Utara.
Meski lalu lintasnya meningkat dan masa pelayaran berpotensi semakin panjang, para pakar menilai NSR belum siap menjadi pengganti jalur perdagangan utama dunia.
Rusia memang gencar—bahkan mungkin nekat—mendorong Rute Laut Utara sebagai alternatif bagi pelayaran internasional. Namun, untuk saat ini, hitungan ekonominya masih belum mendukung.
Masalah keselamatan, tingginya biaya operasional, singkatnya musim pelayaran, serta risiko akibat sanksi diperkirakan akan terus membatasi penggunaan jalur Arktik.
Risiko kecelakaan juga tetap menjadi persoalan besar. Thai memperingatkan bahwa tumpahan minyak dapat menjadi "bencana lingkungan sekaligus ekonomi".
"Bukan hanya bagi Rusia, tetapi juga bagi wilayah di sekitarnya," ujarnya.
Lantas, bisakah Rute Laut Utara menggantikan Selat Hormuz dan Terusan Suez?
"Jawaban singkatnya: tidak, setidaknya untuk saat ini," imbuh Thai.