Tiga Menguak Takdir: Misteri Gempa Besar 15 Agustus di Indonesia

Dalam kurun waktu sehari (Sabtu, 15 Agustus 2026) kemarin, wilayah Indonesia diguncang tiga gempa besar. Ada apa?

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 17 Agustus 2026, 10:59 WIB
Tiga gempa dengan kekuatan besar mengguncang wilayah Indonesia dalam satu hari pada Sabtu 15 Agustu 2026 lalu. (Liputan6.com/ Dok Ist)

 

 

Liputan6.com, Jakarta - Dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai sehari, wilayah Indonesia diguncang gempa besar pada, Sabtu (15/8/2026) kemarin. Gempa kuat pertama terjadi di Flores dengan kekuatan Magnitudo 7,7 pada pukul 04.58.21 WIB. Belum selesai di NTT, gempa kuat berikutnya terjadi di Sumatra Utara dengan kekuatan Magnitudo 6,4 pada pukul 17.54.51 WIB, dan ditutup oleh gempa Magnitudo 5,9 di Parigi Moutong pada 23.25.18 WIB.

Terkait fenomena langka tersebut, Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengatakan, kedekatan temporal terjadinya gempa kerap memicu spekulasi publik mengenai kemungkinan adanya efek domino antar-gempa. Dari kacamata fisika bumi, fenomena ini dikenal sebagai earthquake clustering, sebuah kebetulan statistik di mana beberapa kejadian gempa independen terjadi berdekatan dalam kurun waktu tertentu tanpa adanya ikatan kausalitas langsung.

"Secara sederhana, earthquake clustering adalah fenomena ketika beberapa gempa terjadi berdekatan dalam kurun waktu atau wilayah tertentu, sehingga secara kasat mata terlihat seperti sebuah 'kelompok' atau gelombang kejadian. Namun, dari sudut pandang seismologi modern, pemusatan kejadian ini sebagian besar merupakan implikasi dari proses fisik yang spesifik," bebernya.

Secara statistik acak, kata Daryono, gempa independen yang berasal dari segmen tektonik berbeda, dapat melepaskan energinya dalam jendela waktu yang berdekatan murni karena kebetulan.

Setiap sumber gempa memiliki siklus pengumpulan energi (stress accumulation) dan masa pelepasan energi (recurrence interval) masing-masing. Ketika dua atau lebih segmen yang berjauhan kebetulan mencapai titik jenuh (failure threshold) pada waktu yang hampir bersamaan, kejadian gempa akan tampak seperti mengelompok.

"Padahal tidak ada keterikatan fisik atau mekanisme saling picu di antara mereka," katanya.

Dalam konteks episenter yang saling berjauhan hingga ratusan atau puluhan ribu kilometer, earthquake clustering yg terlihat di media atau katalog gempa hampir dipastikan merupakan kebetulan temporal, karena medan tegangan statik dari satu gempa tidak mampu menjangkau zona tektonik independen lainnya.

"Secara tektonik dan mekanika batuan, ketiga gempa (Flores, Sumut, dan Sulteng) ini berakar dari sistem penunjaman dan struktur yg sepenuhnya terpisah, serta beroperasi dengan mekanisme deformasi yang berbeda," ungkapnya.

Gempa Flores (M7,7) merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 km yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif naik Flores (Flores back-arc thrust). Sebaliknya, kata Daryono, gempa Sumatera Utara (M6,7 pada kedalaman 172,5 km) dan gempa Parigi Moutong (M5,7 pada kedalaman 72,5 km), keduanya dipicu oleh intraslab deformation, yakni Deformasi internal pada slab lempeng tektonik yang menunjam ke dalam lapisan astenosfer, bukan akibat pergeseran patahan di kerak dangkal.

Dalam seismologi, interaksi antar-gempa umumnya ditinjau melalui transfer tegangan (stress transfer). Konsep transfer tegangan statik (static stress trigger) dipastikan tidak bekerja pada kasus ini karena radius perubahan medan Coulomb failure stress akibat gempa Flores sangat terbatas dan menurun drastis seiring bertambahnya jarak, sehingga tidak mampu menjangkau zona Sumatera Utara maupun Sulawesi Tengah yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer.

 

Belum Ada Bukti yang Valid

Sementara itu, hipotesis transfer tegangan dinamik (dynamic stress trigger) melalui rambatan gelombang seismik permukaan (surface waves) memang diakui secara teoritis dapat merentang jauh.

"Namun hingga saat ini belum ada konsensus maupun bukti empiris yang valid dalam ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa perambatan gelombang tersebut mampu memicu rupture besar pada zona subduksi terpisah secara serta-merta," kata Daryono.

Daryono menjelasakan, setiap zona tektonik di Indonesia beroperasi sebagai 'otoritas lokal' yang mandiri dengan rezim tektoniknya masing-masing. Masing-masing segmen sumber gempa memiliki laju akumulasi medan tegangan (stress accumulation rate) dan periode ulang (recurrence interval) yang independen.

Batuan pada segmen Flores, Sumatera Utara, dan Parigi Moutong mengumpulkan strain mekanis secara terpisah hingga mencapai ambang batas batas elastisitasnya (failure threshold), lalu melepaskan energi kinetik tersebut pada waktunya sendiri-sendiri.

Kejadian ketiga gempa besar ini dalam satu hari yang sama murni merupakan kebetulan waktu (temporal coincidence) dari proses siklus seismik yang telah berjalan puluhan hingga ratusan tahun di masing-masing segmen tektonik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya