Liputan6.com, Lampung - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali meningkat. Gunung api tersebut tercatat erupsi sebanyak empat kali pada Minggu, 16 Agustus 2026, kemarin.
Letusan pertama terjadi pada pukul 09.12 WIB. Kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak kawah atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
Advertisement
Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal dan bergerak ke arah barat daya serta barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan durasi 59 detik.
Aktivitas kembali terjadi pada pukul 14.32 WIB. Kali ini, kolom letusan mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut. Erupsi tercatat memiliki amplitudo maksimum 52 milimeter dengan durasi 55 detik.
Selanjutnya, Gunung Anak Krakatau kembali meletus pada pukul 17.06 WIB. Kolom letusan teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan berlangsung selama 40 detik.
Erupsi keempat terjadi pada pukul 20.09 WIB. Tinggi kolom erupsi kali ini tidak teramati. Namun, letusan terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 60 milimeter dan durasi 38 detik.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, Andi Suwardi, sebelumnya mengatakan aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih fluktuatif.
"Memang dari kemarin Krakatau aktif. Tremornya mulai keluar harmonik dan amplitudonya agak besar. Magmanya sudah dekat," kata Andi saat dikonfirmasi, Minggu (16/8/2026).
Menurut dia, aktivitas Gunung Anak Krakatau sempat mengalami penurunan sebelum kembali meningkat.
"Masih naik, masih turun. Makanya statusnya masih Siaga," ujarnya.
Andi mengingatkan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas vulkanik masih meningkat.
Berdasarkan rekomendasi pengamatan, masyarakat dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Dia menegaskan masyarakat sebaiknya tidak mengambil risiko dengan mendekati gunung api tersebut selama statusnya masih Siaga.
"Kita kan masyarakat umum tidak punya alat pendeteksi kegiatan dari dalam. Kalau tiba-tiba ada letusan, risikonya sangat besar," ungkapnya.
Andi juga mengingatkan adanya peningkatan amplitudo tremor yang tidak dapat diketahui secara kasatmata oleh masyarakat.
"Makanya lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga," tegasnya.
Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi tersebut karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dapat berubah sewaktu-waktu.