Indef Beberkan 3 Sektor Kunci Penggerak Ekonomi Indonesia di RAPBN 2027

Ekonom Indef M. Rizal Taufikurahman sebut integrasi pangan, energi, dan industrialisasi jadi sektor kunci pendorong pertumbuhan ekonomi.

oleh Dimas Ramadhan WicaksanaDiterbitkan 15 Agustus 2026, 21:00 WIB
Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen pada 2027. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Terdapat tiga sektor kunci yang harus menjadi fokus utama pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut diungkap oleh Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman.

Rizal menjelaskan, tiga sektor yang dimaksud adalah integrasi antara ketahanan pangan, ketahanan energi, dan industrialisasi. Sektor-sektor tersebut memiliki dampak pengganda (multiplier effect) paling tinggi terhadap perekonomian nasional.

"Jika fokusnya pertumbuhan dan transformasi, ketahanan pangan dan energi yang terintegrasi dengan industrialisasi punya multiplier paling tinggi," kata Rizal, Sabtu (15/8/2026).

"Pangan menjaga inflasi dan daya beli, energi menentukan biaya produksi, dan industrialisasi menentukan nilai tambah domestik," tambahnya.

Di sisi lain, Rizal tidak menampik bahwa sektor pendidikan dan kesehatan tetap sangat penting. Namun, ia memberikan catatan bahwa dampak dari kedua sektor tersebut bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, stimulus jangka pendek hingga menengah harus tetap ditopang oleh sektor yang langsung menggerakkan roda produksi.

"Pada akhirnya, efektivitas APBN tidak hanya diukur dari besarnya belanja, tetapi dari dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja formal, peningkatan produktivitas, serta kemampuannya memicu investasi swasta," tegas Rizal.

 

 

Defisit 2,4 Persen Cerminkan Disiplin Fiskal

Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen pada 2027. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Dalam kesempatan yang sama, Rizal juga menyampaikan bahwa penetapan target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2,4 persen mencerminkan sikap disiplin fiskal dari pemerintah.

"Dengan tax ratio yang masih relatif rendah, ruang fiskal riil kita sebenarnya terbatas tanpa adanya reformasi penerimaan. Setiap kenaikan belanja produktif harus diimbangi oleh kenaikan penerimaan negara atau realokasi dari anggaran belanja yang memiliki multiplier effect (dampak ganda) rendah," jelasnya.

Oleh karena itu, Rizal menegaskan bahwa kredibilitas target defisit tersebut akan sangat bergantung pada keberanian pemerintah dalam melakukan reprioritisasi belanja secara tegas.

 

Dorong Program MBG Libatkan UMKM dan Petani Lokal

SPPG. (Sumber: Doc. Biro Hukum dan Humas BGN)

Lebih jauh, Rizal menyoroti keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyedot perhatian serta anggaran besar. Ia menilai program prioritas tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi tinggi jika dieksekusi dengan tepat.

Rizal menekankan bahwa program seperti MBG tidak boleh sekadar menjadi belanja konsumtif belaka, melainkan harus menciptakan hubungan yang saling mendukung (link and match) dengan para pelaku ekonomi di tingkat bawah.

"Program seperti MBG baru bisa memberikan multiplier effect yang tinggi jika sejak awal didesain menciptakan keterkaitan langsung dengan petani lokal, nelayan, dan UMKM setempat. Ini kunci agar anggaran negara berputar di dalam negeri dan menggerakkan ekonomi kerakyatan," tutur Rizal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya