Industri Manufaktur Tumbuh 5,32%, Jadi Motor Ekonomi Nasional

Kemenperin mencatat industri manufaktur tumbuh 5,32% pada kuartal II 2026, lebih tinggi dari ekonomi nasional.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 15 Agustus 2026, 12:00 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mencoba produk otomotif saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (30/7/2026). (KLY/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Industri pengolahan nonmigas (IPNM) mencatat pertumbuhan 5,32% secara tahunan (year-on-year/y-o-y) pada triwulan II-2026. Pertumbuhan tersebut melampaui ekonomi nasional yang tumbuh 5,29% pada periode yang sama, sekaligus menegaskan posisi manufaktur sebagai salah satu motor utama perekonomian Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian tersebut menunjukkan kebijakan pemerintah yang memberikan keberpihakan terhadap sektor industri mulai memberikan dampak konkret.

“Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menjadi modal yang sangat penting untuk terus memperbesar peranan industri sebagai motor penggerak ekonomi,” tutur Agus Gumiwang dikutip dari laman Kemenperin, Sabtu (15/8/2026).

Selain tumbuh lebih tinggi dari ekonomi nasional, industri pengolahan memberikan kontribusi 18,50% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut membuat industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia.

Sektor ini juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90%.

Menurut Agus, kondisi tersebut memperkuat posisi manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah terus mendorong industrialisasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

 

Subsektor Strategis

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang menyaksikan produk otomotif saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (30/7/2026). (KLY/Budy Santoso)

Kinerja industri nasional juga tercermin dari sejumlah indikator aktivitas manufaktur. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada di level 52,31 yang menunjukkan kondisi ekspansi.

Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 tercatat 50,2. Adapun Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 mencapai 53,10. Ketiga indikator tersebut menunjukkan aktivitas industri nasional masih berada di zona ekspansif.

“Ini memperlihatkan bahwa pelaku industri masih memiliki optimisme terhadap prospek usaha. Pemerintah harus menjaga momentum tersebut melalui kebijakan yang memberikan kepastian usaha, memperkuat pasar domestik, meningkatkan investasi, serta menciptakan iklim industri yang semakin kompetitif,” ungkap Agus.

Sejumlah subsektor strategis juga mencatat pertumbuhan positif. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51%, sedangkan industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh 8,04%.

Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99%.

Kementerian Perindustrian akan terus memperkuat industrialisasi melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi tersebut mencakup penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya