Prabowo Singgung Swasembada Pangan: Dunia Khawatir Kelaparan Massal, tapi Indonesia Aman

Presiden Prabowo menuturkan, Indonesia dapat mencapai swasembada pangan lebih cepat yakni dalam satu tahun dari target empat tahun.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 14 Agustus 2026, 10:28 WIB
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto juga dijadwalkan menghadiri serta mengikuti Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026. (Ajeng Dinar Ulfiana/POOL/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan dalam waktu singkat. Capaian tersebut meyakinkan pemenuhan kebutuhan nasional di tengah kekhawatiran global.

Dia mengatakan Swasembada pangan yang semula ditargetkan bisa diraih dalam 4 tahun, ternyata bisa tuntas dalam 1 tahun. Tonggak pertama, yakni swasembada beras.

"Karena kebijakan dan kerja keras kita, swasembada pangan yang dahulu kita targetkan tercapai dalam empat tahun ternyata berhasil kita capai dalam waktu satu tahun," kata Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026, Jumat (14/8/2026).

Kepala Negara ini melihat kondisi yang dialami di seluruh dunia. Yakni, kekhawatiran minimnya pasokan kebutuhan pangan yang memicu kelaparan massal. Namun, Indonesia telah berhasil menjamin kebutuhan pangannya.

"Di tengah dunia sekarang, yang sangat khawatir terhadap kelaparan massal, akibat kesulitan pangan dan cuaca yang tidak menentu, kita alhamdulillah," tegas dia.

"Dapat saya laporkan di majelis ini soal pangan, soal makanan untuk rakyat Indonesia kita berada dalam keadaan aman," sambung Prabowo.

Prabowo juga menekankan, stok cadangan pangan RI mampu untuk melewati ancaman krisis imbas kemarau panjang El Nino. "Kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Nino yang katanya tahun ini akan berarti El Nino yang paling dahsyat. Kita telah mencapai itu dengan keberanian menghadapi masalah," beber dia.

Stok Beras Tembus 5,4 Juta Ton

Sebelumnya, - Perum Bulog mencatat realisasi penyerapan beras dari masyarakat telah menyentuh angka sekitar 3,4 juta ton hingga Agustus 2026. Capaian ini setara dengan 80% dari total target penyerapan nasional yang dipatok sebanyak 4 juta ton sepanjang tahun.

 

 

Stok Beras

Pekerja memindahkan beras ketika bongkar muat beras bulog di gudang PT Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta Timur, Jumat (3/2/2023). Untuk menstabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Perum BULOG akan menyaluran beras SPHP di Pasar Induk Beras Cipinang dari 13 ribu menjadi 30 ribu ton,dengan harga paling tinggi sebesar Rp. 8.900. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Direktur Keuangan Perum Bulog, Hendra Susanto, menyatakan optimismenya bahwa target tahunan tersebut dapat segera rampung dalam waktu dekat.

"Stok beras kita seperti yang saya sampaikan tadi itu 5,4 juta ton. Kita target di tahun ini itu sekitar 4 juta ton kita serap dari masyarakat dan sudah tercapai sekitar 80% ini atau sekitar 3,4 juta ton. Tinggal sedikit lagi," ujar Hendra di Cimahi, dikutip dari Antara, Kamis (13/8/2026).

Stok Beras Aman

Penyerapan beras dari hasil panen masyarakat ini memegang peran ganda, yakni menjaga ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjamin hasil produksi petani lokal terserap pasar dengan baik.

Guna menggenapi target 4 juta ton di tahun 2026, Bulog kini tinggal berburu sekitar 600 ribu ton beras lagi dari pasokan domestik.

Di sisi lain, total stok beras yang dikuasai pemerintah saat ini telah menginjak angka sekitar 5,4 juta ton. Jumlah jumbo tersebut dinilai teramat memadai untuk mengamankan kebutuhan pangan nasional, termasuk mengantisipasi ancaman musim kemarau.

"Ini enggak masalah. Aman, stok beras kita aman, banyak betul," tegas Hendra

 

Penyaluran Bansos Lancar

Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading, Rabu (29/12/2021). Dirut Perum Bulog Budi Waseso menjamin tahun ini stok beras aman dan tidak ada impor untuk kebutuhan Cadangan Beras Pemerintah. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Melimpahnya cadangan pangan ini turut memperlancar program penyaluran bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam skala besar. Untuk alokasi periode Juli, Agustus, dan September 2026, setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berhak mendapatkan alokasi beras sebanyak 30 kilogram.

Program bantuan ini menjangkau sekitar 33,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan total komoditas yang disalurkan menembus sekitar 1 juta ton beras.

Hendra menekankan bahwa langkah agresif dalam menyerap hasil panen serta tata kelola cadangan pangan yang terstruktur merupakan komitmen nyata pemerintah untuk mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

"Makanya atas perintah Presiden dibagikan kepada masyarakat, supaya swasembada pangan dan ketahanan pangan itu benar-benar dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat," katanya.

Ke depan, Bulog berkomitmen untuk terus menggenjot penyerapan beras lokal demi memastikan ketahanan pangan nasional tetap kokoh dan target swasembada dapat tercapai secara berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya