Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi para pekerja di industri teknologi, bahkan bagi perusahaan-perusahaan yang mencatatkan rekor pendapatan. Salesforce memangkas hampir separuh divisi pada awal tahun ini, lalu secara diam-diam kembali mengurangi lapangan kerja dalam sebuah perombakan terkait AI pada bulan Februari.
Justifikasi yang digunakan selalu sama setiap kali terjadi pemangkasan, yaitu kecerdasan buatan (AI) telah membuat peran-peran tersebut tidak lagi dibutuhkan.
Advertisement
Kini, Oracle sedang menuliskan babak serupa, hanya saja versi mereka datang dengan beban biaya yang jauh lebih besar. Oracle telah menyusun rencana untuk gelombang pemutus hubungan kerja (PHK) baru pada bulan Agustus. Demikian menurut sebuah dokumen internal perusahaan yang bocor dan ditulis oleh Business Insider.
Mengutip laman Yahoo Finance, Kamis (13/8/2026), para manajer telah diminta untuk menyerahkan daftar karyawan yang terdampak, dengan tujuan memangkas beban penggajian sebelum kuartal kedua fiskal Oracle dimulai pada 1 September.
Pengurangan tersebut dapat mencapai persentase dua digit pada beberapa tim, menurut dokumen yang sama. Oracle menolak memberikan komentar mengenai rencana ini, sehingga jelas bahwa mereka masih menyimpannya secara internal untuk saat ini.
Perusahaan Telah Memangkas 21.000 Pekerjaan pada Tahun 2026
Ini bukan kali pertama bagi Oracle. Perusahaan telah memangkas 21.000 orang, atau 13% dari total tenaga kerjanya, selama tahun fiskal yang berakhir pada 31 Mei. Jumlah karyawan turun menjadi sekitar 141.000 orang, berkurang dari 162.000 karyawan pada tahun sebelumnya.
Uang pesangon dan biaya keluar lainnya melonjak menjadi US$ 1,84 miliar untuk tahun tersebut, naik dari US$ 374 juta pada tahun sebelumnya, menurut laporan resmi tersebut.
Oracle sendiri telah mengakui bahwa adopsi AI merupakan faktor di balik pengurangan ini, sebuah bahasa yang jarang muncul secara langsung dalam laporan resmi korporasi.
Pengeluaran AI Memperketat Arus Kas Oracle
Oracle menghabiskan US$ 55,7 miliar untuk infrastruktur AI pada tahun fiskal 2026, melebihi kemampuan kasnya sebesar US$ 23,7 miliar.
Untuk menutup selisih tersebut, Oracle mengambil utang sebesar US$ 43 miliar dan US$ 5 miliar lainnya melalui penjualan saham selama tahun tersebut, serta memperkirakan akan menghimpun sekitar US$ 40 miliar lagi melalui kombinasi utang dan ekuitas pada tahun fiskal berjalan.
Perhitungan matematis tersebut membantu menjelaskan mengapa pemangkasan pekerjaan dan pengeluaran modal kini bergerak ke arah yang berlawanan di perusahaan yang sama.
Memangkas beban penggajian adalah salah satu dari sedikit tuas yang dapat ditarik Oracle dengan cukup cepat untuk mengimbangi tagihan pusat data yang terus melonjak.
Seperti diketahui, Oracle Corporation adalah perusahaan teknologi komputer multinasional asal Amerika Serikat yang berpusat di Austin, Texas. Perusahaan ini terkenal sebagai penyedia sistem manajemen basis data (database), perangkat lunak perusahaan, serta layanan komputasi awan (cloud) terbesar di dunia.