Liputan6.com, Jakarta - Indeks harga konsumen (IHK) yang menjadi bagian dari tolok ukur inflasi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menunjukkan kenaikan sebesar 0,1% (yang diseuaikan secara musiman) selama Juli 2026.
Hal itu berdasarkan Biro Statistik Tenaga Kerja. Jika tidak menghitung komponen pangan dan energi, IHK inti tercatat naik sebesar 0,2%. Secara tahunan, tingkat inflasi masing-masing tercatat sebesar 3,4% dan 2,5%. Seluruh angka itu sesuai dengan perkiraan konsensus Dow Jones.
Advertisement
Mengutip CNBC, Rabu (12/8/2026), meski tingkat inflasi masih jauh di atas target 2% yang ditetapkan the Fed, angka bulanan yang moderat,ditambah dengan tingkat yang juga moderat pada Juni mengindikasikan lonjakan harga akibat faktor energi pada awal tahun mulai mereda, kendati harga-harga masih fluktuatif dan bergantung pada kondisi yang terus berubah di Timur Tengah.
Kontrak berjangka pasar saham naik setelah rilis data tersebut, sementara imbal hasil obligasi pemerintah negatif di semua lini. Pelaku pasar semakin menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September, menurunkan peluangnya menjadi 42%, menurut indikator FedWatch dari CME Group untuk harga berjangka.
Harga energi turun lagi 1,5% untuk bulan ini setelah penurunan 5,7% pada Juni. Namun, sektor ini mengalami peningkatan tahunan sebesar 14,7% setelah kenaikan tajam pada bulan-bulan sebelumnya, termasuk lonjakan 10,9% pada Maret tepat setelah serangan terhadap Iran dimulai.
Baik makanan maupun tempat tinggal mengalami kenaikan 0,1% pada Juli. Biaya tempat tinggal tetap tinggi dan merupakan kontributor utama untuk menjaga tingkat inflasi di atas 2%.
“Bahkan dengan kenaikan yang moderat, biaya tempat tinggal menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan utama,” demikian disampaikan Bureau of Labor Statistics (BLS).
Harga kendaraan baru naik 0,1% sementara mobil dan truk bekas meningkat 0,4%. Perawatan medis naik 0,4% dan tarif penerbangan meningkat 2,2%.
Inflasi Sesuai Perkiraan, Ini Kata Ekonom
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan penentu suku bunga bank sentral, tidak ada pertemuan lagi hingga September, sehingga akan memiliki tambahan satu bulan data inflasi untuk dicerna sebelum harus mengambil keputusan.
"Inflasi yang sesuai dengan perkiraan akan mempertahankan narasi ‘tidak perlu menaikkan suku bunga’ yang muncul setelah laporan pekerjaan minggu lalu,” ujar Ekonom Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner.
"Akan ada putaran data inflasi lain sebelum pertemuan FOMC September, jadi alur ceritanya masih bisa berubah. Tetapi kecuali angka-angka tersebut menunjukkan cerita yang jauh berbeda, Fed kemungkinan besar masih akan berada dalam posisi untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan depan,” ujar dia.
Hingga sekitar seminggu yang lalu, pasar telah memperkirakan kemungkinan besar kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan depan. Namun, kekhawatiran baru tentang pasar tenaga kerja setelah kehilangan pekerjaan bersih pada Juli, dikombinasikan dengan fluktuasi di sektor energi, telah mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.
Pada pertemuan Juli lalu, FOMC memberikan suara 9-3 untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil, dengan semua anggota yang berbeda pendapat menyatakan dukungan untuk kenaikan suku bunga. Pasar sekarang memperkirakan peluang yang lebih besar untuk kenaikan suku bunga pada Oktober atau Desember.