MacBook Pro Pemberian Ayah Jadi Senjata Utama Amanda Mitsuri Besarkan Massicot

Bagi Amanda, lini perangkat Apple bukan sekadar gawai pendukung gaya hidup, melainkan investasi karir hingga senjata utama yang menopang bisnisnya.

oleh IskandarDiterbitkan 12 Agustus 2026, 18:00 WIB
Founder Massicot, Amanda Mitsuri. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Di balik estetika dan narasi kuat yang diusung oleh brand aksesori dan fashion lokal Massicot, terdapat perjalanan personal sang pendiri, Amanda Mitsuri, yang berkelindan erat dengan perkembangan teknologi.

Bagi Amanda, lini perangkat Apple bukan sekadar gawai pendukung gaya hidup, melainkan investasi karir, media terapi visual, hingga senjata utama yang menopang operasional bisnisnya.

Kisah perjalanannya bermula pada 2011. Saat itu, sang ayah yang berlatar belakang sebagai geolog memberikan kejutan berupa satu unit MacBook Pro. Hadiah tersebut bukan sekadar produk, melainkan sebuah restu dan landasan awal bagi karir Amanda di dunia desain dan seni.

"Ayah saya tahu banget anaknya suka desain dan seni. Dia mencari tahu perangkat apa yang paling baik untuk desainer, lalu membelikan MacBook Pro. Dia bilang, 'ini bukan warisan ratusan juta, tapi landasan untuk karir kamu'," kenang Amanda dalam sesi wawancara dengan Tekno Liputan6.com, Rabu (12/8/2026) di Jakarta.

Keputusan sang ayah, yang juga seorang wirausahawan, menjadi titik balik bagi Amanda. Terinspirasi oleh jejak orang tuanya, dorongan untuk membangun usaha mandiri pun tumbuh secara alami.

MacBook Pro tersebut menjadi alat kerja pertama yang mempermudah langkah awalnya meniti karir sebagai perancang produk dan pengusaha.

Studio Portabel di Masa Kritis

Langkah Amanda dalam mengembangkan Massicot kembali menemui momen emosional pada 2018. Setelah melahirkan, ia mengalami kendala kondisi klinis yang mengharuskan dirinya menjalani masa pemulihan dan isolasi di rumah selama tiga hingga empat bulan.

Di tengah keterbatasan mobilitas dan tekanan psikologis pasca-melahirkan, sang suami memberikan kejutan berupa iPad Pro. Gawai tersebut bertransformasi menjadi studio portabel yang mengubah alur pemulihan Amanda. Berbekal aplikasi Procreate dan Apple Pencil, ia menyalurkan ide, emosi, dan narasinya lewat lukisan digital.

"Pas saya bikin presentasinya, berkat iPad Pro dan output-nya berupa kegiatan menggambar benar-benar save my life. Perempuan setelah melahirkan dengan kondisi klinis biasanya punya trauma besar, apalagi tidak bisa bertemu banyak orang. Namun lewat tools itu, saya bisa menemukan diri saya kembali dan bercerita lewat karya," ungkapnya.

Bagi Amanda, keunggulan utama iPad Pro terletak pada fleksibilitasnya. Tanpa terikat meja kerja konvensional yang penuh distraksi, ia dapat berkarya di mana saja secara fokus.

"Habis menyusui, saya bisa langsung menidurkan anak dan menggunakan iPad Pro untuk berkarya. Bagi saya, tablet ini benar-benar bisa menjadi studio portabel," tuturnya menambahkan. 

 

Efisiensi Skala Besar untuk Tim Kecil

MacBook Pro dan iPad Pro. Liputan6.com/Iskandar

Dalam menjalankan operasional Massicot, Amanda mengandalkan integrasi penuh ekosistem Apple yang mencakup iPhone, iPad Pro, dan MacBook Pro. Latar belakang pendidikannya di bidang desain produk membuatnya sangat memperhitungkan efisiensi alur kerja (workflow).

Ia mengungkapkan bahwa bagi usaha mikro atau tim kecil, ketersediaan gawai yang efisien adalah kunci utama untuk mempertahankan produktivitas tinggi. Integrasi linier antar-perangkat memungkinkan eksekusi pekerjaan berlangsung serba cepat (seamless).

"Tim kami kecil, tapi kalau tidak di-provide dengan perangkat yang efisien, operasional bisa kacau. Justru dengan mengintegrasikan perangkat-perangkat ini, alur kerja jadi sangat terpadu. Orang luar melihatnya seperti tim besar, padahal kami bergerak dengan tim yang ringkas berkat dukungan ekosistem Apple," Amanda menjelaskan.

Untuk tahap ide visual, kombinasi antara iPad Pro dan Procreate menjadi pilar utama. Menurut Amanda, responsivitas layar, akurasi warna, serta sensasi goresan digital pada perangkat tersebut mampu meniru keleluasaan menggambar manual tanpa batasan teknis.

 

Akurasi Warna dan Keandalan Tanpa Bugs

Founder Massicot, Amanda Mitsuri. Liputan6.com/Iskandar

Sebagai perancang produk yang menitikberatkan pada detail estetika, Amanda menyoroti pentingnya kepastian kalibrasi warna dan stabilitas sistem operasi. Dalam industri fashion dan visual storytelling, perbedaan persepsi warna dapat berdampak signifikan pada hasil akhir produk.

"Untuk mata orang yang suka seni dan desain, hal-hal seperti kalibrasi warna, kesederhanaan (simplicity), kemudahan, dan agility itu sangat krusial. Dan Apple memberikan feeling itu," papar Amanda.

Ia menambahkan bahwa keandalan teknis perangkat dalam penggunaan sehari-hari menjadi faktor pembeda yang sangat membantu efisiensi kerja.

"Satu hal yang terasa banget di keseharian adalah perangkat ini hampir tidak pernah mengalami bugs. Kepraktisan seperti respons instan itu hal simpel, tapi tidak semua merek bisa menghadirkan pengalaman sehalus itu. Apple menyentuh hal-hal mendasar yang benar-benar berguna untuk pekerja profesional," ucap Amanda menambahkan.

 

Merawat Narasi Massicot

Founder Massicot, Amanda Mitsuri. Liputan6.com/Iskandar

Kini, Massicot terus berkembang dengan menjalin berbagai kolaborasi strategis bersama pengembang dan mitra lokal maupun internasional.

Berbeda dengan pendekatan fast fashion atau sekadar mengejar tren kain tradisional secara instan, Amanda memilih mempertahankan akar Massicot sebagai pencerita (storyteller).

Bagi Amanda, setiap koleksi yang lahir dari studio portabelnya merupakan lembaran buku harian dari seorang pencerita yang terus mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

"Menjadi amatir itu kalau berkarya harus menunggu mood, tapi kita harus melatih diri untuk punya kepekaan. Bahkan dari bunga yang layu pun kita bisa dapat inspirasi. Mengasah diri dalam storytelling adalah poin utama Massicot saat ini," ia memungkaskan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya