Rahasia 3 Pemimpin Industri Kreatif Pangkas Kompleksitas Kerja Berkat Ekosistem Apple

Mereka membagikan pengalaman dalam memanfaatkan ekosistem Apple--mencakup integrasi MacBook, iPad, dan iPhone--sebagai operasional hingga proses kreatif.

oleh IskandarDiterbitkan 12 Agustus 2026, 15:55 WIB
Founder & Curator RSI Group and Retired Space, Revano Satria. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Di era digital yang bergerak cepat, efisiensi dan fleksibilitas menjadi kunci utama bagi para pelaku industri kreatif dalam mengeksekusi ide. Integrasi yang mulus (seamless workflow) antar-perangkat digital tak lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan pondasi utama operasional bisnis.

Pengalaman ini dibedah dalam sebuah diskusi mendalam bersama tiga kreator dan pemimpin perusahaan lokal yang bergerak di industri kreatif, Rabu (12/8/2026) di Jakarta.

Mereka adalah Revano Satria (Founder & Curator RSI Group dan Retired Space), Hasbi Asyadiq (Co-Founder & CEO Assemblr Group), serta Amanda Mitsuri (Founder Massicot).

Mereka membagikan pengalaman dalam memanfaatkan ekosistem Apple--mencakup integrasi MacBook, iPad, dan iPhone--sebagai tulang punggung operasional dan proses kreatif harian.

Integrasi antar-perangkat yang erat dinilai mampu memangkas kerumitan teknis, mempercepat kolaborasi real-time, hingga menjaga keamanan data perusahaan.

Dari Sketsa Manual hingga Simulasi 3D Real-Time

Bagi seorang arsitek dan desainer, perjalanan sebuah proyek besar selalu dimulai dari goresan sederhana. Revano Satria menjelaskan bahwa di studio desain miliknya, proses pengerjaan proyek berskala nasional maupun internasional selalu diawali dari sketsa digital.

"Sketsa ini sangat berharga karena coretan pertama itu selalu membawa kami untuk melangkah lebih jauh. Pada saat kami mengerjakan semua proyek, dengan sketsa kami diberi kebebasan yang tidak terbatas," ujar Revano.

Revano menambahkan bahwa komputasi berat untuk kebutuhan 3D concept development dan rendering parametrik membutuhkan perangkat keras yang andal.

iPad Air, iPhone 17, dan MacBook Air. Liputan6.com/Iskandar

Penggunaan lini pemrosesan Apple Silicon (seri M) memberikan peningkatan performa signifikan saat menjalankan aplikasi berat seperti Grasshopper maupun SketchUp.

Namun, kekuatan ekosistem sebenarnya terasa pada pengelolaan ribuan berkas data dan kolaborasi lintas negara melalui fitur berbagi kelompok dan pembaruan perpustakaan data secara real-time.

"Sejak 15 tahun lalu, kami memulai bisnis di tiga wilayah (Semarang, Jakarta, dan Surabaya). Jadi, kami tentu saja membutuhkan ekosistem yang andal untuk mengendalikan semua data yang ada. Manajer, desainer, CEO, hingga desainer junior memerlukan akses data secara real-time," ungkap Revano.

Demokratisasi Teknologi 3D dan AR

Co-Founder & CEO Assemblr Group, Hasbi Asyadiq. Liputan6.com/Iskandar

Dari sudut pandang pengembang perangkat lunak, Hasbi Asyadiq menyoroti bagaimana teknologi dapat disederhanakan agar bisa diakses oleh masyarakat luas tanpa hambatan teknis yang rumit.

Melalui platform Assemblr, Hasbi mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR) berbasis Apple ARKit untuk memungkinkan pengguna membuat simulasi 3D interaktif secepat membuat desain grafis biasa.

"As Apple-minded, saya ingin menyederhanakan proses. Jadi, saya ingin melewati segala teka-teki dan mengubahnya menjadi sesuatu yang sederhana, sehingga semua orang dapat menggunakannya, bahkan tanpa pengetahuan teknis," Hasbi memaparkan.

Ia menceritakan bagaimana seluruh alur kerja timnya--mulai dari pembuatan sketsa oleh tim ilustrator di iPad, pemrosesan model 3D kompleks, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang berjalan secara lokal (on-device)--bergantung pada keandalan ekosistem yang saling terhubung.

"Bahkan, penggunaan model AI lokal di perangkat Apple membantu kami mengamankan data rahasia tanpa mengorbankan kecepatan pemrosesan," Hasbi memungkaskan.

 

Membangun Banyak Lini Bisnis dalam Satu Sistem

Founder Massicot, Amanda Mitsuri. Liputan6.com/Iskandar

Sementara itu, pelaku industri kriya dan perhiasan, Amanda Mitsuri, mengenang awal mula perjalanan usahanya yang berakar dari pemberian sebuah perangkat MacBook Pro oleh sang ayah pada 2011.

Dari sana, brand perhiasan Massicot lahir dan terus berkembang. Bagi Amanda, keberadaan iPad Pro dan MacBook Pro telah mengubah cara pandangnya dalam mengelola beberapa bisnis sekaligus.

"Sangat powerful dengan bisnis yang berbeda-beda, tapi dengan standar operasional prosedur (SOP) yang sama, semua bisa dimunculkan dalam satu perangkat atau ekosistem," tutur Amanda.

MacBook Pro dan iPad Pro. Liputan6.com/Iskandar

Ia menjelaskan alur kerja sebagai seorang visual storyteller, yang mana dirinya harus mengidentifikasi konsep, menggambar ide visual pada iPad, lalu mentransfer data tersebut secara mulus ke MacBook Pro untuk kebutuhan presentasi klien maupun koordinasi produksi.

Melalui integrasi perangkat keras dan perangkat lunak yang harmonis, ketiga kreator tersebut sepakat bahwa ekosistem teknologi yang terintegrasi bukan sekadar alat bantu kerja, melainkan penggerak utama yang memungkinkan ide-ide kompleks diwujudkan secara presisi, cepat, dan efisien.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya