Liputan6.com, Jakarta - Indonesia Human Capital and Business Summit (IHCBS) 2026 mendorong transformasi sumber daya manusia (SDM) Indonesia di tengah percepatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan digitalisasi.
Menjelang pelaksanaannya pada 15–16 September 2026 di NICE PIK 2, IHCBS menggelar Media Day di Wayang Bistro, Jakarta, Rabu (12/8/2026). Agenda tersebut bertujuan memperkenalkan visi, rangkaian kegiatan, serta arah gerakan human capital Indonesia ke depan.
Advertisement
Chairman Steering Committee GNIK Yunus Triyonggo mengatakan, komposisi tenaga kerja Indonesia yang masih didominasi lulusan SD dan SMP merupakan kondisi riil yang tidak cukup hanya dikeluhkan. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi yang relevan dengan perubahan teknologi.
“Dengan hadirnya emerging technology dan AI, sudah selayaknya kita yang mengaku sebagai pengelola dan penanggung jawab SDM bertindak dengan aksi nyata,” kata Yunus dalam Media Day IHCBS 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Yunus menilai kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi pekerjaan rumah. Link and match antara SMK, politeknik, perguruan tinggi, dan dunia industri belum fully terjawab meski telah menjadi agenda selama puluhan tahun.
Di sisi lain, Indonesia masih kekurangan talenta digital. Oleh karena itu, IHCBS 2026 memasukkan isu emerging technology dan AI dalam berbagai agenda untuk mendorong peningkatan kompetensi dan kapasitas SDM.
“Kita tahu digital talent di Indonesia masih sangat langka (scarce). Karena itu, kita ingin setiap orang tergerak bahwa mereka harus kompeten dan memiliki kapasitas yang memadai untuk berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Manusia Jadi Pusat Transformasi
CEO One GML sekaligus Founder QuBisa Suwardi Luis menambahkan, pemanfaatan AI dan digitalisasi harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat transformasi (human-centric).
Menurut Suwardi, tantangan produktivitas Indonesia perlu dijawab melalui kolaborasi antara manusia, teknologi, dan tujuan pembangunan. AI tidak hanya menjadi alat otomasi, tetapi juga pendorong peningkatan kapabilitas tenaga kerja.
Sementara itu, Managing Director Kontan News Cipta Wahyana menilai peningkatan produktivitas menjadi salah satu kunci agar Indonesia dapat keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5 persen.
“Kalau meminjam istilah Bappenas, kita perlu productivity-led growth, yaitu pertumbuhan ekonomi yang dipacu oleh produktivitas,” kata Cipta.
Ia menilai persoalan produktivitas tidak terlepas dari struktur ketenagakerjaan Indonesia yang masih didominasi sektor informal. Karena itu, peningkatan kualitas pekerjaan, penciptaan lapangan kerja, inovasi, serta kesiapan pendidikan menghadapi AI perlu dilakukan secara beriringan.
Future-Ready Workforce
Dalam kesempatan tersebut, IHCBS juga memperkenalkan buku “Future-Ready Workforce: Insights from Human Capital Leaders on the Future of HR and the Indonesian Workplace in the AI Era” yang lahir dari perjalanan IHCBS 2025. Buku tersebut menekankan bahwa tenaga kerja masa depan tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga harus adaptif, terus belajar, mampu berkolaborasi dengan teknologi, serta memiliki empati dan ketahanan menghadapi perubahan.
Pada 2026, IHCBS menargetkan kehadiran lebih dari 6.000 ecosystem leaders dan menghadirkan lebih dari 70 pembicara. Rangkaian acara mencakup Mega Session, Talk Show, AI & Digitalization Zone, Benchmark Visit, Exhibition Booth, sesi jejaring (networking), serta delapan Power Tracks.
Sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, CHRO Bridgestone Asia Pacific Paul Choo, Chief Investment Officer Danantara Pandu Patria Sjahrir, EY Global Chief Learning Officer Brenda Sugrue, dan Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria.
Dengan mengusung DNA kolaborasi, human-centric transformation, dan measurable productivity, IHCBS menempatkan transformasi SDM sebagai penghubung antara manusia, teknologi, dan produktivitas untuk memperkuat daya saing Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.