Perang Iran Kuras Stok Rudal Pencegat AS

Batas waktu diberikan kepada produsen militer untuk menyerahkan rencana percepatan rantai pasok sistem pertahanan udara setelah pecahnya perang Iran.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 12 Agustus 2026, 09:00 WIB
Pemerintah Iran mengecam keras insiden ini sebagai serangan terhadap infrastruktur sipil dan memperingatkan bahwa kerusakan tersebut akan mengganggu lalu lintas di salah satu rute komuter tersibuk di negara itu selama berbulan-bulan. Tampak dalam foto, kondisi sebuah jembatan yang terkena terkena serangan udara Amerika Serikat pada Kamis 2 April 2026 terlihat di Karaj, sebelah barat Teheran, Iran, Jumat, 3 April 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Washington, DC - Pentagon mendesak industri pertahanan Amerika Serikat (AS) mempercepat produksi senjata untuk mengisi kembali persediaan amunisi militer yang menipis, termasuk yang terkuras akibat perang Iran.

Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan pada Sabtu (8/8/2026) bahwa Kementerian Pertahanan AS tengah berupaya meningkatkan pengadaan amunisi agar militer memperoleh senjata yang dibutuhkan para prajurit secepat yang dituntut oleh ancaman yang dihadapi. Demikian seperti dilaporkan Anadolu.

Parnell membenarkan bahwa Pentagon dalam sepekan terakhir telah mengambil langkah untuk mempercepat proses tersebut secara signifikan. Namun, ia menegaskan upaya itu merupakan bagian dari program modernisasi yang lebih luas dan telah dimulai sebelum konflik dengan Iran pecah lima bulan lalu.

Menurut memo yang diperoleh The Washington Post, Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg pada Rabu (5/8) mengirim surat kepada para pemimpin industri pertahanan dan memberi mereka waktu paling lama 21 hari untuk menyerahkan rencana guna mendorong jadwal pengiriman yang jauh lebih cepat dan agresif dan/atau meningkatkan produksi untuk berbagai kebutuhan penting.

"Proses pengembangan yang memakan waktu bertahun-tahun tidak dapat diterima," tulis Feinberg.

"Kita harus mempercepat jadwal program secara drastis dan meningkatkan kapasitas produksi sekarang juga."

Memo tersebut muncul setelah pertempuran terbaru dengan Iran semakin menguras persediaan rudal pencegat canggih milik militer AS yang sebelumnya sudah menipis. Menurut sebuah analisis terbaru, kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko bagi pasukan AS jika pertempuran kembali pecah.

Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga kajian yang berbasis di Washington, menyebut menipisnya persediaan rudal pencegat Patriot dan THAAD dapat memaksa AS serta sekutunya di Timur Tengah lebih membatasi penggunaannya agar stok tidak cepat habis.

Sebagai contoh, pasukan AS mungkin menembakkan lebih sedikit rudal pencegat untuk menghadapi drone dan rudal Iran yang datang. Konsekuensinya, peluang sebagian serangan berhasil menembus pertahanan menjadi lebih besar.

Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir menepis laporan mengenai kekurangan amunisi. Dalam unggahan di Truth Social pada Kamis (6/8), Trump mengatakan AS memiliki persediaan dalam jumlah sangat besar.

Ia menambahkan bahwa sejumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan.

Pada Sabtu, Parnell membenarkan keberadaan memo Feinberg yang meminta percepatan produksi senjata tersebut. Ia mengatakan memo itu akan menjadi bahan dalam penyusunan anggaran tahun fiskal 2028 yang diajukan kepada Kongres untuk mendapatkan pendanaan dan sepenuhnya sejalan dengan upaya berkelanjutan pihaknya untuk membangun kembali basis industri pertahanan.

Rancangan belanja pertahanan saat ini masih tertahan di Kongres. Sejumlah anggota parlemen geram atas tindakan militer Trump terhadap Iran dan menolak permintaan Gedung Putih untuk menaikkan anggaran Pentagon secara signifikan menjadi US$ 1,5 triliun, dari sekitar US$ 900 miliar pada tahun lalu.

CSIS memperkirakan bulan lalu bahwa jumlah rudal pencegat Patriot turun dari 2.330 unit sebelum perang menjadi 1.030 unit ketika gencatan senjata mulai berlaku pada April.

Setelah pertempuran terbaru, persediaannya kini diperkirakan hanya berada di kisaran 759 hingga 827 unit. Jumlah tersebut turun sedikitnya 65 persen dibandingkan sebelum konflik dimulai.

Menurut CSIS, jumlah rudal pencegat THAAD turun dari 452 unit sebelum perang menjadi sekitar 232 hingga 262 unit ketika gencatan senjata mulai berlaku pada April.

AS kemudian berhasil menambah kembali sebagian persediaannya hingga berada di kisaran 234 sampai 278 rudal pencegat. Namun, jumlah tersebut masih sedikitnya 38 persen lebih rendah dibandingkan sebelum konflik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya