Alih-Alih Pangkas Jam Kerja, AI Malah Bikin Karyawan Lembur 90 Jam Seminggu

Meskipun AI diklaim dapat meringankan beban kerja, beberapa karyawan ini menyebutkan mereka justru harus lembur berjam-jam.

oleh Aisyah Mustika ZamaniDiterbitkan 12 Agustus 2026, 12:00 WIB
Ilustrasi karyawan, bekerja, suasana kantor. (Photo by Damir Kopezhanov on Unsplash)  

Liputan6.com, Jakarta - Selama bertahun-tahun, para eksekutif perusahaan mengklaim kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan membantu meringankan beban kerja manusia. Empat tahun lalu, seorang direktur rekayasa perangkat lunak di Google memprediksi AI akan mewujudkan empat hari kerja dalam seminggu pada 2025.

Awal tahun ini, OpenAI pun mendorong perusahaan untuk menguji coba empat hari kerja tersebut karena AI disebut mampu mempercepat berbagai tugas secara signifikan.

Namun, realitanya berkata lain, sebagaimana pekerja di balik pengembangan AI justru mengalami peningkatan beban kerja hingga melampaui lima hari kerja dengan total 40 jam seminggu. Demikian sebagaimana dilaporkan BBC, Rabu (12/8/2026).

Sprint

Istilah ini merupakan periode saat karyawan bekerja dengan jam kerja panjang selama beberapa minggu menjelang peluncuran fitur atau produk baru.

Pada perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic, periode ini bisa berlangsung selama berminggu-minggu dengan jam kerja lebih dari 90 jam dalam tujuh hari. Hal ini bertentangan dengan jam kerja standar di AS yaitu 40 jam seminggu.

Dipaksa Pindah

Di Meta, terjadi sebuah pengerahan paksa di mana karyawan tiba-tiba dipindahkan ke tim proyek AI yang dianggap mendesak. Pekerja tidak diberikan pilihan memilih kecuali siap mengundurkan diri.

Mereka juga mengatakan meskipun Meta mulai melonggarkan pendekatan ini, pada saat itu sudah banyak karyawan yang terlanjur dipaksa mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jam kerja pun menjadi lebih panjang, seringkali hingga larut malam dan akhir pekan, serta harus selalu siap sedia bahkan di luar jam kerja.

Sebagai contoh seorang mantan karyawan Google, Amin Shali, keluar dari perusahaan pada Mei karena dampak negatif terkait hal ini. Sejak meninggalkan Google, Shali mengatakan kepada BBC bahwa kualitas tidur dan kesehatannya telah membaik.

Menurutnya, ketergantungan pada AI di perusahaan teknologi besar memicu budaya buruk yang memberikan tekanan berlebih pada para teknisi.

Penghematan Waktu Terserap Habis

Studi dari UC Berkeley yang mengamati ratusan pekerja teknologi di AS selama delapan bulan menemukan penggunaan AI membuat para karyawan bekerja lebih cepat, menangani tugas lebih luas, dan memperpanjang jam kerja mereka.

Neil Thompson, pakar inovasi dari MIT, menjelaskan penghematan waktu dari AI seringkali justru terserap oleh munculnya beban pekerjaan baru.

Ditambah lagi, penelitian UC Berkeley menemukan beban kerja karyawan teknologi bertambah, sebagian karena adanya kebutuhan untuk memeriksa hasil kerja AI secara terus-menerus.

Selain itu, ditemukan adanya tuntutan industri juga dorongan karyawan untuk membuktikan kontribusinya di mata perusahaan.

Seperti hasil pengamatan Shali, disebutkan AI seharusnya bisa melakukan banyak hal, sehingga membantu banyak orang memiliki kesehatan dan kualitas tidur lebih baik. Namun, kenyataannya berbanding terbalik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya