Liputan6.com, Jakarta - Proyek pembangunan konstruksi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bakal menyerap tenaga kerja hingga 1.000 orang.
Hal itu disampaikan Direktur Investasi Danantara Fadli Rahman setelah bertemu dengan Gubernur DIY di Yogyakarta dikutip dari Antara, Selasa (11/8/2026).
Advertisement
Adapun pembangunan PSEL di sebelah bekas Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Kabupaten Bantul itu akan dimulai pada awal 2027. Hal ini setelah ditargetkan akhir 2026 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan.
Danantara telah berkomunikasi dengan pemerintah daerah di DIY supaya tenaga kerja yang terlibat dalam proyek nasional tersebut mengutamakan masyarakat lokal.
"Tenaga kerja yang akan kita utamakan tenaga kerja dari lokal," ujar dia.
Dia mengatakan, proyek PSEL di Yogyakarta tersebut merupakan salah satu dari belasan infrastruktur pengolahan sampah yang dibangun pemerintah secara beriringan di berbagai daerah di Indonesia.
"PSEL ini salah satu dari tahap dua, satu dari sebelas PSEL yang berjalan secara beriringan. Jadi, ini tidak ada pendahuluan atau tidak ada prioritisasi. Memang semuanya berjalan beriringan," ujar dia.
Menurut dia, PSEL di Yogyakarta tersebut ketika sudah beroperasi nantinya ditargetkan mampu mengolah sampah mencapai 1.000 ton, yang sampah tersebut akan disuplai dari Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta.
Sementara untuk hasil listrik hasil pengolahan PSEL akan dikerjasamakan dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebelum kemudian didistribusikan ke masyarakat atau konsumen.
"Kita mengharapkan ada kesepakatan dengan pemerintah daerah tentang komitmen jumlah sampah, tetapi sebelum ada mencapai ke titik penalti ada langkah-langkah mitigasi untuk sampah itu tetap berada di level atau volume yang memang sudah diperjanjikan," ujar dia.
Bukan Cuma PSEL, Pemerintah Punya Cara Baru Tangani Sampah
Sebelumnya, pemerintah terus memacu percepatan penanganan sampah nasional melalui intervensi teknologi. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi pirolisis kini didorong untuk melengkapi fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Langkah ini diambil karena kapasitas PSEL yang ada saat ini dinilai belum memadai untuk mengolah seluruh timbulan sampah di Indonesia.
“Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. Kita membutuhkan percepatan melalui intervensi teknologi. Karena itu, selain pembangunan PSEL, pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis agar semakin banyak sampah yang dapat diolah menjadi energi,” kata Zulhas dikutip dari Antara, Minggu (9/8/2026).
Implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sebenarnya telah mempercepat pembangunan PSEL di berbagai daerah. Indonesia diproyeksikan memiliki 13 titik lokasi PSEL, termasuk fasilitas di Kota Palembang yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
Meski begitu, Menko Zulhas mengungkapkan bahwa seluruh PSEL tersebut diperkirakan baru mampu menyerap sekitar 22 persen dari total sampah nasional. Oleh karena itu, kehadiran teknologi pendamping seperti pirolisis menjadi sangat krusial.
Kualitas Sama Seperti Solar
Teknologi pirolisis bekerja dengan mengolah tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi bahan bakar terbarukan yang kualitasnya setara dengan solar. Jika diterapkan secara meluas, teknologi ini diproyeksikan dapat menyelesaikan sekitar 20 persen masalah sampah nasional.
Untuk merealisasikannya, pemerintah menjalin kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat serta pemerintah daerah melalui proyek percontohan di lima wilayah, yaitu Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta. Kerja sama ini juga ditujukan untuk menyokong percepatan Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1.
Zulhas menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam mendukung penyediaan lahan, kemudahan perizinan, hingga jaminan ketersediaan pasokan sampah. Selain menekan beban penumpukan di TPA, penanganan sampah yang cepat juga penting untuk meminimalkan risiko kebakaran saat musim kemarau.
"Kita ingin persoalan sampah tidak hanya selesai, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat. Dengan gotong royong dan kerja cepat, target itu dapat kita capai," pungkas Zulhas.