Liputan6.com, Jakarta - Cadangan minyak darurat Amerika Serikat atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) kembali menjadi perhatian. Persediaan minyak mentah di fasilitas tersebut kini turun menjadi 298,7 juta barel, level terendah dalam lebih dari empat dekade atau sejak Januari 1983.
Mengutip Carscoops, Rabu (12/8/2026), penurunan persediaan terjadi setelah sekitar 6,1 juta barel minyak kembali dikeluarkan dari SPR dalam sepekan terakhir.
Advertisement
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat mengawali 2026 dengan persediaan sekitar 415 juta barel. Jumlah tersebut kemudian terus menyusut seiring pelepasan minyak untuk membantu mengatasi gangguan pasokan energi global.
Penurunan cadangan minyak Amerika Serikat tidak terlepas dari gangguan distribusi energi global yang berkaitan dengan konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Situasi tersebut semakin kompleks setelah gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia. Penutupan atau terganggunya aktivitas di jalur strategis tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap distribusi minyak global.
Untuk mengurangi dampak gangguan pasokan, negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) sebelumnya menyepakati pelepasan hingga 400 juta barel minyak dari cadangan darurat masing-masing negara.
Hingga Juli 2026, sekitar 290 juta barel dilaporkan telah dikeluarkan dari cadangan tersebut, sementara konflik dan ketidakpastian pasokan masih berlangsung.
Berkurangnya persediaan SPR juga terjadi ketika harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat masih berada pada level tinggi.
Harga rata-rata bensin secara nasional tercatat sekitar US$4,01 per galon, atau sekitar Rp 71 ribu per galon. Angka tersebut meningkat sekitar Rp 15 ribu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di California, harga bensin bahkan jauh lebih tinggi. Rata-ratanya mencapai sekitar US$5,59 per galon, setara dengan kurang lebih Rp 99 ribu per galon.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar energi Amerika Serikat masih cukup besar, meskipun pelepasan minyak dari cadangan strategis telah dilakukan untuk membantu menjaga pasokan.
Strategic Petroleum Reserve memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 714 juta barel. Dengan persediaan yang saat ini hanya 298,7 juta barel, fasilitas tersebut baru terisi sekitar 42 persen dari kapasitas maksimalnya.
Jumlah tersebut masih berpotensi kembali turun. Berdasarkan rencana pelepasan minyak yang telah diumumkan sebelumnya, persediaan SPR Amerika Serikat diperkirakan dapat menyusut hingga sekitar 243 juta barel dalam waktu dekat.
Tidak Serta-merta Mengganggu Pasokan BBM
Jika terealisasi, angka tersebut akan membuat posisi cadangan minyak strategis AS semakin jauh dari kapasitas penyimpanannya.
Meski berada di level terendah sejak 1983, penurunan persediaan SPR tidak secara otomatis berarti Amerika Serikat akan mengalami kekurangan bahan bakar.
Seorang mantan pejabat pemerintahan Barack Obama mengatakan dirinya tidak mengkhawatirkan stabilitas SPR maupun kemampuan pemerintah Amerika Serikat untuk kembali melakukan pelepasan minyak apabila situasi membutuhkan tambahan pasokan.
SPR sendiri merupakan cadangan minyak strategis yang disiapkan pemerintah Amerika Serikat untuk menghadapi gangguan serius terhadap pasokan energi.
Dengan persediaan yang kini berada di level terendah dalam lebih dari 40 tahun, perhatian kini tertuju pada seberapa lama cadangan tersebut mampu menjadi penyangga apabila gangguan pasokan minyak global berlangsung lebih panjang.